Senin, 08 September 2014

MENCOBA MOVE ON

Tidak terasa sudah 3 mingguan di Jogja. Dan minggu depan, perkuliahan insya Allah sudah dimulai. Dan sekarang, masa transisi yang dulu pernah menghantui, kini datang kembali. Apa yang pernah kualami di Makassar, kejadian dan orang-orangnya sungguh membuatku susah move on. Tapi yah itu, di sisi lain aku sadar bahwa ada saat di mana kita harus meninggalkan step hidup yang kemarin untuk mencapai tujuan hidup selanjutnya. Sekarang lagi mencoba mengakrabkan diri dengan mata kuliah, teman-teman dan lingkungan baru. Bukan berarti pula komunikasi dan hubungan dengan teman-teman lama terputus begitu saja. Mungkin ini hanya masalah kuantitas. Ada orang baru dan kesibukan baru yang mesti dihadapi dan dijalani. Demi mimpi-mimpi dan harapan yang selalu menjadi suguhan utama kami kala berbagi cerita di malam-malam kebersamaan.


Akhir-akhir ini, aku sering mimpi aneh pula. Sering hadir sesosok lelaki yang entah sejak kapan rajin menyambangiku lewat mimpi. Apa itu perasaanku saja atau jawaban Allah atas penantianku selama ini? Entah. Tetapi, aku tak dapat melihat dengan jelas siapa lelaki itu. Saat bangun pun, hanya 3 nama yang sering muncul di pikiranku, karena untuk saat ini hanya 3 nama itu yang sering berebut tempat di sana. Ini pula salah satu hal yang mesti membuatku move on. 2 lelaki yang pernah hadir di hari dan hatiku, yang sampai saat ini masih sering mengganggu meski gak berlebihan. Dan 1 lelaki yang baru saja kukenal, tapi mampu menjadikannya salah satu manusia yang patut kukagumi. Ya Allah, bimbing hati hamba untuk tak condong ke siapapun sebelum akad, sebelum Engkau ketuk palu siapa yang akan mendampingiku membangun surga dunia dan bersama dalam ketaatan kepada-Mu, partnerku dalam beribadah, melahirkan anak-anak yang sholeh dan sholehah serta menegakkan kalimat lailahaillallah di bumi-Mu tercinta, Aamiin.

MODERNISASI

Pernah tidak berpikir, apa yang kita nikmati sekarang merupakan simbol kemajuan atau justru kemunduran? Oke, aku persempit bahasannya. Mengenai teknologi. Sebelum lebih jauh, aku harus jujur bahwa aku bukanlah penentang teknologi. Bahkan kuliahku ujung-ujungnya untuk memajukan peradaban bangsa melalui teknologi. Terlepas dari itu semua, tulisan ini hanya menggambarkan opini yang tiba-tiba muncul (mungkin sudah lama tersembunyi), tanpa bermaksud memberikan penilaian langsung terhadap objek permasalahan. Aku selalu suka begitu, pertimbangan jauh lebih penting menurutku.

Oke, kita mulai dengan meninjau teknologi di masa lampau. Dulu, duluuuu banget, manusia hidup, bertahan dan bersahabat dengan alam. Segala kebutuhan hidup disediakan oleh alam. Mulai alat dari kulit kayu, batu yang dijadikan sumber api, kulit binatang sebagai pakaian, makanan berasal dari cadangan makanan tumbuhan hutan, dll. Sebenarnya tak ada bedanya dengan masa sekarang, segala kebutuhan kita dipenuhi oleh alam. Bedanya, mereka yang kita sebut kaum primitif, mengambil haknya secara tak berlebihan, tanpa merusak dan tetap “menyambung silaturahmi” dengan alam. Sedangkan zaman sekarang, makhluk modern, di saat teknologi dan peradaban menanjak popularitasnya, justru berbanding lurus dengan keserakahan dan naluri merusak (salah satu sifat manusia yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an) manusia. Keseimbangan alam dan cadangan untuk anak cucu kelak tak diperhatikan lagi. Padahal, peradaban modern hampir memenuhi semua kebutuhan manusia. Kemajuan di berbagai bidang, termasuk substitusi tenaga manusia ke mesin yang otomatis meringankan pekerjaan manusia, membuat benda yang sebelumnya tidak mungkin, dan berbagai keuntungan lainnya.

Zaman dahulu, metamorfosis penerangan yang awalnya menggunakan obor, berlanjut ke lampu minyak, petromaks, hingga listrik ditemukan dan membuat terang seluruh dunia. Sumbernya pun awalnya hanya generator listrik yang dibantu putaran kincir yang digerakkan oleh air terjun, uap yang didapatkan dari hasil pemanasan, angin, sumber energi dari matahari, tenaga nuklir, dll. Di bidang transportasi, awalnya perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya ditempuh dengan jalan kaki, paling mewah dengan berkuda dan bersepeda, hingga mesin ditemukan, yang menjadi cikal-bakal hadirnya motor, mobil, pesawat, dll. Dalam hal kecantikan, bedak yang berasal dari bubuk beras adalah kosmetik alami yang sangat bermanfaat untuk kulit. Tak puas sampai di situ, berbagai racikan alami hingga menggunakan tambahan bahan kimia diproses untuk memenuhi kebutuhan manusia akan kecantikan. Disadari ataupun tidak, semua transformasi itu dipengaruhi oleh teknologi. Anugerah kecerdasan dari-Nya. Jarak dan waktu semakin menyusut, mungkin mendekati kecepatan cahaya, hehe.

Terlepas dari berbagai fasilitas yang menguntungkan manusia, banyak hal yang menjadi pertanyaan. Salah satunya, apakah benar zaman sekarang lebih maju dari zaman dahulu? Secara fisik, mungkin. Lihat saja, pekerjaan manusia menjadi lebih mudah dan efisien dengan adanya berbagai penemuan para ilmuwan. Tapi secara tersirat, alangkah bijaknya jika kita tinjau dari berbagai sudut. Pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca, menipisnya ozon, polusi di mana-mana, daerah serapan air yang semakin berkurang, akhir-akhir ini menjadi wacana serius bagi kelangsungan kehidupan damai kita di bumi. Akibatnya, muncul jenis penyakit baru, bencana alam di mana-mana, sampai merambah ke moral yang semakin merosot, di tengah tingkat pendidikan yang semakin tinggi. Hal yang jarang bahkan hampir tidak pernah dialami oleh manusia zaman dahulu. Itu disebabkan oleh apa? Ketamakan, kurang bersyukur dan selalu ingin lebih dan lebih dibanding orang lain. Padahal tingkat kebutuhan kita tak setinggi itu. Keinginanlah yang membuat kurvanya meningkat. Prestise, egois dan rakus. Tiga penyakit yang akhir-akhir ini menjangkiti sebagian kita, bahkan sampai menular. Ujung-ujungnya, alam menjadi sasaran empuk. Eksploitasi besar-besaran tak sebanding dengan tingkat pengamanan dan reboisasi. Dan akibatnya pun kembali ke manusia.

Sekali lagi, aku tak menyalahkan teknologi. Kitalah aktornya, kita yang mengarahkan ke mana teknologi tersebut bermuara, untuk kepentingan bersamakah atau hanya sebagai pemuas nafsu pribadi? Mengambil manfaat dari alam tak apa, tapi dampak ke depannya juga harus diperhatikan. Alam tidak akan pernah rusak jika kita bijak. Bagaimana mengelola semuanya di titik keseimbangannya. Itu semua untuk kita sendiri, untuk warisan kelak kepada anak-cucu kita.

CURAHAN HATI SANG CALON FISIKAWAN

Hai teman, lagi apa kalian? Kalo aku sedang menulis, ingin menumpahkan sedikit kerisauanku malam ini. Oh iya, tak apa yah jika malam ini aku ingin mengganggu sedikit? Bertanya tentang hal yang tak kutahu jawabannya? Pertanyaan pertama, kalian tahu atah kenal Fisika? Iya, itu dia. Salah satu mata pelajaran wajib dari SMP sampai kuliah (untuk eksak) yang jadi syarat kelulusan. Saya yakin kalian pasti kenal, eh tidak, mungkin tahu lebih tepatnya. Dan mungkin juga ada di antara kalian yang pura-pura tidak kenal dia, berpaling, berlari, meringis, bergidik ngeri, terjatuh dan tak bisa bangkit lagi saat mendengar namanya. Iya, aku maklum. Sebagian besar dari kita, memang tak menyukainya. Bahkan sering mengeluh karenanya. Barisan angka tidak jelas, rumus yang mengalami penurunan berulangkali, benda yang ditinjau yang itu-itu saja, membosankan. Mana gurunya bikin ngantuk, nyaris ngomong sendiri saat mengajar, tatapannya yang tajam saat memberi tugas mengerjakan soal di papan tulis, dan berubah jadi monster saat memberi tambahan PR. Uhhh, dunia serasa tak berwarna karenanya.

Tapi, ada satu hal yang mungkin tidak kalian tahu, atau tak mau tahu. Tapi mumpung malam ini kalian mau mendengarkanku, baiklah akan kutuntaskan cerita ini. Yang kumaksud adalah kalian tak tahu kan kenapa masih ada orang sepertiku misalnya yang masih tertarik mendalami ilmu ini? Ilmu yang saking umumnya, sering menimbulkan pertanyaan orang “Mau jadi apa nanti kalo lulus?”. Tentu saja kami punya alasan. Bukan karena kami sudah menguasai semua rentetan rumus yang sekilas tak berarti itu hingga mau menyaingi Newton, Einstein hingga Scrodinger, bukan pula karena kami tidak punya pilihan jurusan lain, pun bukan kurang kerjaan sampai-sampai mau mengerjakan hal yang menurut kalian sia-sia. Kami sama dengan kalian, kami juga awalnya tak menyukainya. Tapi berbekal pengetahuan yang didapat dari berbagai literatur dan pengalaman, kami memutuskan menjalani ini. Karena kami sadar, berbagai bidang ilmu yang kalian tekuni sekarang sangat berhubungan dengan Fisika. Rumus, persamaan, bidang kajian dan objek yang itu-itu saja tak kalian sadari telah melahirkan banyak kontribusi di berbagai lini kehidupan. Kemajuan teknologi yang kalian rasakan, adalah buah yang ditanam para pendahulu kami. Tapi kalian hanya ingin tahu buahnya kan. Tanpa ingin mengetahui akarnya serabut atau tunggang. Kalian tahu udara? Yah, kami layaknya dia. Tak terlihat dan kadang tak dianggap, tapi ada di sekitar kita, dirasakan dan tak ada kehidupan tanpanya. Kontribusi nyata kami? Kontribusi nyatanya udara apa? Yah, itu jawabannya. Bukannya kami ingin sombong dan merasa hebat, kami hanya ingin belajar banyak. Mempelajari hakikat alam dan mendekatkan kami kepada pencipta kita, melalui ilmu kami. Bukankah itu tujuan kita diciptakan di bumi ini?


Kami tidak peduli apapun penilaian kalian tentang kami. Kami hanya minta, biarkan kami tenang mendalami apa yang sudah dirintis pendahulu kami, tanpa ada pandangan dan pertanyaan sinis lagi untuk kami. Lebih bijaknya lagi jika kita bisa bekerjasama menggabungkan ilmu kita, karena segala sesuatu dibangun oleh banyak unsur untuk sama-sama menjadi makhluk yang memberi manfaat bagi diri dan sesama, menjadi sebaik-baiknya manusia.

Selasa, 05 Agustus 2014

Aku dan Kalian_Rizkyta Crew_

Pagi ini begitu hangat, sehangat kepalaku yang mulai dijejali kembali rumus masa lalu yang pernah hadir, dan harus kuhadirkan kembali demi masa depan yang lebih baik (iklan beettt). Baiklah, di hari Rabu yang selalu spesial, 6 Agustus 2014 ditemani segelas air putih dan sari roti cokelat, inspirasi menulis tiba-tiba muncul. Mungkin karena kemarin habis baca kata pengantar skripsinya Nana yang begitu sadis, sampe-sampe hampir air mata ini tumpah di depan publik. Tiba-tiba aku ingin membuat tulisan ini di detik-detik terakhir diriku di Makassar, meninggalkan kebersamaan kita di kost tercinta ini, meninggalkan malam-malam yang selalu ceria atau galau mengikuti alur hidup si empunya cerita. Galau karena skripsi, masa depan, dan tentu saja CINTA.

Di antara tumpukan buku mekanika, fismat, fisika zat padat merayap, dan embel-embel lain tentang Fisika, aku ingin menulis ini. Berjuta terima kasih untuk kalian yang ditakdirkan Tuhan untuk dekat denganku, manusia berbagai karakter unik, pelajaran tersendiri untukku, hidupku, dan masa depanku. Terima kasih sudah mau repot hadir di hari dan hatiku, sahabat sekaligus saudara buatku (edisi mewek). Buat tetangga terdekat, Jayen (Jayanti, si Sunda berdarah Batak), si misterius dan introvert di bulan-bulan awal aku mengenalnya. Si peri teknologi informasi dan komunikasi (anak Ilmu Komunikasi UNHAS kok), penolong pertama (selain Google) saat aku tersesat di lembah kegaptekan. Makasih Jayen, kau menyadarkanku bahwa dunia maya juga penting, apalagi di masa depan karierku kelak. Tapi jangan keseringan di sana yah, walau bagaimanapun dunia kita tetap disini, di tempat kita berpijak. Sehebat apapun kita di dunia maya, kita tetap gak ada apa-apanya tanpa aplikasi nyata di dunia nyata. Yah, karena manusia makhluk konkrit, bukan abstrak. In addition that, cepat-cepatlah kau selesaikan skripsimu, desain kebayanya aja sudah ada ;).

Lompat ke kamar no 1, Nana ajaib. Kombinasi manja, dewasa, galau, bijak, keras, dan beberapa sifat yang agak kontradiktif. Si motivator, penasehat, dan buku berjalan, my twin dalam proses dan pengalaman hidup. Meski beda usia 3 tahun, dia tetap bisa mengimbangiku. Semangat Nana, kita berjuang di tempat berbeda, tapi Alhamdulillah satu pulau. Biarlah cerita apapun tentang hidup tetap mengalir menjadi rangkaian kenangan, tetap berkreasi di sana, masa depan lebih keren menanti kita. Terima kasih juga karena darimu aku belajar banyak, mengenal Tuhan dan berbagai kejadian melalui pemahaman logika meski terbatas. Dan satu lagi, jangan pernah memanjakan perasaan, karena sekali dia mendapat ruang maka seperti gas dia akan menyebar dengan cepat, memenuhi segenap ruangan hati, bahkan bisa menembus tempat lain. Dan kau sudah tahu bahayanya. Kecuali, memang untuk seseorang yang dikirimkan Tuhan saat kau sudah siap.

Kakak Anni, bu dokter dan bu dosen. Nama ketiga yang amat sangat banyak membantuku. Kalo mereka berdua membantuku lebih ke hal abstrak, maka bu dokter membantuku di teknisnya. Mulai dari meminjam properti yang kubutuhkan, mengantar ke sana ke mari, sampai mentraktir ini itu. Terima kasih banyak kak, semoga tahun ini milikmu bersamanya, Allah melancarkan hingga jenjang selanjutnya. Aamiin. Terakhir, tetaplah berdiri menjadi Kakak Anni yang tangguh, meski banyak duri di luar sana, jika kau yakin itu yang terbaik maka pertahankanlah. Anggaplah mereka masih kurang memahami apa yang kita lakukan. Masih kurang dewasa untuk menyikapi, meski kita tetap harus terus belajar. Bagiku kau salah satu inspirasi dan kakak terbaik.

Dan, pada akhirnya kita harus berjuang di tempat berbeda, meski jarak dan waktu memisahkan kita untuk saat ini, tapi mereka jugalah yang pernah dan akan menjadi penyatu kita. Terima kasih atas semua kenangan indah itu, salah satu puzzle di episode hidupku. Maaf jika pernah terbersit kata tak pantas dan tingkah tak wajar dariku, itu karena aku menyayangi kalian. See you in the next part,,,

KARENA TAK ADA YANG KEBETULAN DAN SIA-SIA _Edisi Lanjut S2_


Rabu, 23 Juli 2014 (habis sholat magrib)
Hari deg-degan kesekian kalinya buatku. Bagaimana tidak, nasib S2 dan beasiswaku sedikit banyak ditentukan hari ini, pengumuman kelulusan Program Pascasarjana UGM. Tapi yah itu, mau tidak mau mesti dibuka. Bismillah saja. Akupun meraih handphone dan membuka situs web tempat pengumumanku. Engan tangan gemetar dan jantung yang nyaris copot, aku mengetikkan nomor pendaftaran dan tanggal lahirku di kolom yang sudah disediakan. Saking gemetarnya, CAPTHA yang aku ketikkan salah, huffftttt try again. Kecepatan jantung ini makin bertambah. Setengah menutup mata, aku mengintip layar handphone. Dan . . . Ya Allah, mungkin inilah jawaban atas sebagian besar pertanyaanku dari tahun lalu sampai hari ini. Mungkin ini yang dimaksud nasib, rejeki gak tertukar, jodoh pasti bertemu *eh. Mungkin ini garis takdir yang mesti kujalani 2 tahun ke depan, yah Alhamdulillah aku lulus. Tepat seperti perkiraan salah seorang temanku, Nana Listianah, tempat menumpahkan segala apa yang kurasakan.
Jadilah, universitas yang kusubmit di LPDP sebelumnya (ITB), harus diubah ke UGM. Tapi berhubung LPDP dan semua instansi libur sampai tanggal 3 Agustus, email perpindahan universitas yang akan kukirim ke LPDP ditunda dulu. Aku coba-coba buka website tentang UGM dan menemukan sebuah artikel yang mengatakan bahwa jurusanku, Fisika ada ujian matrikulasinya dan itu dilaksanakan sebelum masuk semester I. Jadwalnya pun gak ada di internet. Jadi, mesti siap-siap dari sekarang supaya gak ngulang, hehe. Mana ada 7 mata kuliah lagi, hhhmmmm anggap saja the next surprise, hehe...
Okelah, kita tinggalkan dululah sejenak tentang UGM, matrikulasi dan beasiswa LPDP. Kita mengarah ke hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari sini; ala-ala motivator cuuyyy. Saya rangkum dalam bentuk tanya-jawab saja yah, pertanyaan yang muncul dari hati dan pikiranku setahun lalu, okelah here we go...
-          Kenapa saya gak lulus ITB?
Karena insya Allah saya akan menjadi lebih baik dalam segala hal di UGM, buktinya Allah menunjukkan itu dengan predikat “lulus”, bukannya mau menjelek-jelekkan ITB, walau bagaimanapun aku pernah “mupeng” masuk ITB, tapi itu semata-mata dari personalku saja, tak ada maksud mengeneralkannya. Kan belum tentu sesuatu yang cocok bagi seseorang cocok juga bagi orang lain.
-          Apa sertifikat TOEFL dan TPA yang kuperjuangkan dari Kediri dan tes di ITB sia-sia?
Tentu saja tidak. Kedua sertifikat itulah yang kugunakan mendaftar di UGM. TOEFL malah memiliki peran di luar dugaanku, salah satu syarat administrasinya LPDP terpenuhi gara-gara “dia”, Alhamdulillah.
-          Kenapa lulus UGM nya baru sekarang bukan tahun lalu?
Haha, pertanyaan lumayan bodoh. Ya iyalah, karena daftar UGM nya juga baru tahun ini kan? Tambahan, karena Allah menakdirkan aku menikmati waktu satu tahun untuk mengkaji ilmu melalui pelajaran hidup yang diberikan. Ada banyak hal yang kudapat dalam masa setahun ini, mungkin abstrak, tak terlihat tapi bisa kurasakan. Insya Allah menuju arah yang lebih baik. Aamiin. Dan aku bersyukur untuk itu, pengalaman dan pelajaran itu bisa kudapatkan di usiaku yang relatif muda serta bisa membaginya baik dengan adik, seusia, maupun kakakku.
-          Kenapa mesti UGM?
Beberapa hari yang lalu, ada kabar gembira buatku dan mama. Mama yang awalnya khawatir mau ke mana aku pas sampai Jogja, mendapat jawaban indah dari Allah. Anak dari mantan kepala sekolahnya memiliki rumah di Jogja, dan beliau menawarkan aku untuk tinggal di sana. Alhamdulillah, dan ternyata beliau juga punya 2 anak yang kuliah di UGM, satu jurusan kedokteran (S1) dan satunya lagi jurusan Teknik Sipil (S2). Yang S2 bersamaan denganku masuk tahun ini.
Selain itu, sepertinya Allah ingin mengajarkanku menjadi wanita lembut nan ayu. Dari mereka aku tahu banyak budaya orang Jogja yang penuh sopan santun dan berbudaya. Aku juga lagi progress naik motor. Karena di Jogja, mobilitasnya susah jika mengandalkan kendaraan umum, makanya 2 hari ini motor adalah barang yang tiba-tiba akrab denganku.
-          Apa-apa pelajarannya?
Banyaklah, aku merasa lebih tenang dan lebih dekat kepada-Nya. Secara fisik, saya insya Allah dan Alhamdulillah ditakdirkan kuliah di UGM, ditakdirkan mendapat beasiswa LPDP, bukan yang lain. Dan saya yakin selalu ada kebaikan terhadap apapun yang ditakdirkan Allah. Melalui satu tahun itu juga, aku lebih dekat dengan orang-orang unik dan berbeda yang memberikan nuansa baru dalam hidupku.
Dan saya yakin akan ada kejutan lainnya siap menanti dan siap kujalani, insya Allah. Asalkan aku selalu berpikiran positif, berusaha, berdoa, sabar. Karena Allah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya.

PERCAYA


Bagaimana mungkin kita bisa menguatkan saat kita juga butuh dikuatkan
Bagaimana mungkin kita dituntut tersenyum saat mata tak sanggup menyembunyikan bulir
Bagaimana mungkin kita mampu menasehati ketika jiwa juga butuh dinasehati
Bagaimana mungkin kita dijadikan sandaran saat pundak lemah dan justru butuh topangan
Tapi ternyata jawabannya bisa
Yah, kita ternyata bisa menjadi me- saat keadaan menggiring kita mengalami di-
Kekuatan besar apa yang kita punya
Darimana asalnya
Siapa yang memberinya
Dialah sang pemberi hidup
Sang Maha Sempurna atas segalanya
Tempat segala penat dicurahkan
Tempat segala keluh dikesahkan
Tempat segala ketidakberdayaan ditumpahkan
Hanya satu yang kita butuhkan
Percaya
Percaya bahwa Dia tidak akan meninggalkan kita
Takkan membiarkan kita sendiri
Takkan memberi ujian di luar batas kemampuan
Takkan menyia-nyiakan segala percaya kita
Percaya bahwa saat kita berbagi
Saat kita memberi, justru saat kita pun butuh diberi
Kasih sayang-Nya berkali lipat
Memberi kekuatan lebih besar
Kekuatan yang tak pernah kita duga sebelumnya
Kekuatan yang akan menjadikan kita dan orang lain lebih baik

Senin, 07 Juli 2014

AKU MENJADI (EDISI BANTARGEBANG) WITH PK13 LPDP


Bantargebang. Sebuah daerah yang jika mendengar namanya maka yang terbayang adalah kotor, penyakit, pemulung, dan semua yang berhubungan dengan sampah. Memang, tak ada yang dapat menyalahkan persepsi itu, masing-masing punya pendapat, meski kita juga tidak adil jika hanya melihat satu sisi saja. Ada hal lain yang mesti kaji dari sana. Ada sisi berbeda yang harus kita ketahui dari sekadar pemahaman dangkal. Bersyukur. Ya, sebuah kata yang jarang diingat. Bersyukur karena Bantargebang menjadi tempat pembuangan sampah akhir bagi warga sekitarnya, bersyukur karena ada pemulung menjadikannya mata pencaharian, bersyukur karena kita masih diberi kesempatan untuk hidup berkecukupan, tanpa harus mengalami hal itu.
Bantargebang. Sebuah daerah yang menjadi destinasi kegiatan sosial LPDP di hari ke-7 Pelatihan Kepemimpinan Angkatan 13 (PK13). Jadilah, hari Jumat tanggal 20 Juni 2014 menjadi hari bersejarah bagi kami peserta PK13. Dengan 3 bus besar, 7 kelompok beriringan menuju Bantargebang. Sesampainya di sana, kami dibagi dalam 58 kelompok kecil, masing-masing beranggotakan 2 orang yang didampingi 1 pemulung. Tugas kami adalah terjun langsung menemani mereka bekerja selama 2 jam. Saya sendiri sekelompok dengan Mas Haris dan bapak Syarki. Bapak yang sederhana, murah senyum, dan sangat baik dalam kata dan tingkah.
Kami berdua diajak oleh Pak Syarki ke salah satu tempat pembuangan akhir sampah tersebut. Hal yang pertama kali saya rasakan adalah bau, jijik, dan ngeri (belatung di mana-mana). Tetapi, melalui percakapan akrab dan hangat di antara kami, pekerjaan pun lama-kelamaan menjadi lebih ringan dan terbiasa. Pak Syarki menginstruksikan bahwa kami harus mencari sampah plastik, karena semua pemulung ada jatah masing-masing. Tidak boleh mengambil barang yang bukan menjadi hak pembagian kita. Sebuah pelajaran berharga untuk calon pemimpin masa depan bangsa.
Sambil bekerja, kami bertanya mengenai kehidupan Pak Syarki. Beliau mengatakan bahwa pekerjaan ini sudah 7 tahun dilakoninya, pindah dari daerah asalnya Karawang bersama anak dan istrinya. Sebelumnya, beliau bekerja sebagai petani ikan bandeng. Tetapi karena penghasilannya yang kurang, beliau memutuskan pindah ke tempat ini. Anaknya 3, yang paling sulung adalah perempuan, sementara kuliah semester 2 dan sangat membanggakan orang tua. Dari SMP, anak itu mendapatkan beasiswa dari salah satu yayasan.  Dan itu berlaku hingga sekarang. Pak Syarki mengatakan bahwa tidak mungkin anaknya bisa kuliah jika mengharapkan biaya dari beliau. Penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Sampah plastik yang dikumpulkan oleh Pak Syarki disimpan kurang lebih 2 minggu agar padat. Setelah itu baru ditimbang dan dijual, harganya Rp. 40.000 per kwintal. Meski begitu, tak pernah sekalipun terdengar keluhan darinya. Saya memang sering mendengar dan melihat dari media, tapi dengan merasakan dan terjun langsung ke daerahnya serta melakoni kegiatan Pak Syarki, semakin menambah rasa syukur dan rendah hati.
Saya sempat menanyakan apakah ada puskesmas di daerah ini. Beliau mengatakan bahwa puskesmas jaraknya beberapa kilometer dari sini dan untuk sekali periksa, mereka harus merogoh kocek yang lumayan dalam. Kebetulan, selain tugas individu, ada pula tugas kelompok yaitu Social Creative Contribution dengan pilihan tema (untuk kelompokku) “Penyuluhan Dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis”. Pak Syarki sangat antusias mendengar hal tersebut. Satu lagi yang membuat saya kagum kepada bapak ini, beliau mengarahkan kami untuk mencuci tangan dan kaki yang kotor di rumahnya, meski air juga terbatas, bahkan merelakan sabunnya digunakan bersama. Dalam keadaan hidup susah, betapa banyak ladang amal yang ditanaminya. Pelajaran berharga lainnya untuk kami.
Beberapa gunungan sampah yang semakin lama semakin bertambah di Bantargebang, telah ditimbun tanah sehingga menciptakan bukit hijau. Masih banyak hal yang perlu dibenahi di sini, dan sebagai calon pemimpin bangsa, kami harus turut berkontribusi untuk membuat kehidupan warga Bantargebang menjadi lebih baik sesuai dengan bidang ilmu masing-masing dan tentu saja kerjasama berkelanjutan di antara kami, khususnya peserta PK13. Saya sendiri memiliki cita-cita untuk membuat pembangkit listrik tenaga sampah, semoga dapat terlaksana dengan bantuan moril dan materiil dari berbagai pihak. Untuk sekarang, fokus menuntut ilmu sebanyak-banyaknya dan menyelesaikan S2 dahulu.



MENGUNDURKAN DIRI

Bismillahirrahmanirrahim Hari ini, saya akan menyambung cerita tentang pengunduran diriku dari Ar-Rahmah. Jadi, awal Agustus itu sudah ada b...