Jodoh adalah salah satu rejeki dari Allah yang harus diperjuangkan dengan tetap meyakini bahwa takdir adalah hak prerogatif Allah. Jika ikhtiar dan doa telah dimaksimalkan, dan jodoh belum datang, bisa jadi tawakal kita yang masih kurang, keyakinan kita kepada Allah yang harus ditambahkan, bisa jadi pula itu ujian dari Allah untuk meneguhkan kita
Ketika kita memiliki jodoh pilihan yang berbeda dengan orang tua, maka perjuangkan di depan mereka semaksimal mungkin, berdoa agar mereka dilembutkan hatinya, tetap memaksimalkan doaSenin, 26 Desember 2022
RANGKUMAN MATERI 2 KELAS PRA-NIKAH
RANGKUMAN MATERI 1 KELAS PRA-NIKAH
Bismillah
Di tahun 2021 bulan Maret, saya mengikuti kelas online pra-nikah. Qadarullah, tepat setahun yaitu di bulan Maret 2022, Allah menghadirkan seseorang yang menjadi suami saya sekarang. Alhamdulillah. Beberapa rangkuman materi pra-nikahnya akan saya share di blog ini. Tapi menurutku, teori 30%, praktik tetap 70% 😀
Yuk Bismillah!!!
Persiapan yang paling utama saat akan menikah adalah mental diri, bersiap hidup dengan dua kepala berbeda, dua keputusan dan dua pendapat yang tidak selamanya sama. Berani mengakui kesalahan, berani meminta maaf, mau mendengar saran, memberikan ruang memaklumi, menjauhkan kata sempurna. Setiap yang Allah takdirkan itu baik, jika beberapa kekurangannya muncul setelah menikah, maka berpikirlah kelebihan apa yang membuat kita dahulu menyukainya, berpikirlah bahwa jika kita menikah dengan orang lain, pasti akan ada kekurangan juga, tapi mungkin bentuknya berbeda
Selanjutnya, persiapan ilmu. Mulai dari belajar tahsin, belajar berkomunikasi dengan latihan ke orang tua terlebih dahulu, belajar bersabar jika kelak mertua tidak seperti ekspektasi, belajar menerima kehadiran ipar, belajar hak dan kewajiban suami istri, belajar tentang talak, belajar parentingPernikahan adalah ibadah terlama, maka persiapannya juga harus terbanyak
Selasa, 12 April 2022
MENGHADAPI UJIAN (ATAU TEGURAN?) SATU PER SATU
Rabu, 20 Oktober 2021
DIA DATANG (LAGI)
Bismillahirrahmanirrahim
Allah selalu memiliki jalan mempertemukan kita dengan seseorang, bahkan dengan cara yang tak pernah terpikir
Allah pun punya berbagai jawaban mengapa mempertemukan mereka, apakah memang takdir atau ujian
Itu yang terjadi denganku
Seseorang yang pernah dekat di masa lalu, dengan sebuah momen, kini hadir kembali
Dia menyapa dengan anggun
Dia datang membawa sebuah cita-cita
Cita-cita yang juga sementara kuperjuangkan, tapi bedanya aku sudah menyerahkan kepada Tuhanku, yang terbaik menurut-Nya
Setelah meyakinkan diriku akan keseriusannya, aku memberinya waktu
Waktu yang tidak terburu-buru dan tidak menunda-nunda
Untuk memberikan bukti atas segala yang diucapkannya
Komunikasi kami batasi
Meski sesekali ada hal penting yang harus dibahas atau sesekali diselingi chat seorang sahabat lama
Ya Allah, tuntun hamba agar tetap menjaga hati di tengah proses ini
Mudahkan segala ikhtiar kami
Kabulkan doa-doa kami
Jangan biarkan dua hati yang ingin bersatu dalam halal-Mu menjadi patah
Apapun itu, Engkau Yang Maha Tahu segala yang terbaik
Jika memang tertakdir, maka dekatkan
Jika ini ujian, maka bantu kami melaluinya dan berikan ganti yang lebih baik
Kami berserah agar segera
Aamiin
Selasa, 05 Oktober 2021
PRIVILEGE, SEHATKAH?
Pernah dengar ini tidak "enak yah dia, keluarganya pejabat semua, jadi dapat kerjaan juga gampang"
Atau yang pernah saya alami "Una yah, juara 3 karaokean soalnya mamanya juri". Waktu itu ada arisan keluarga dan saya mewakili keluarga dari pihak mama buat ikut lomba karaokean, hehe.
Nadanya sih bercanda guys waktu mereka ngomong seperti itu, tapi tetap saja menimbulkan perasaan tidak enak di hati ini, hehe...
Nah, 2 kalimat di atas itu mengindikasikan yang namanya "privilege" yang kurang lebih artinya adalah hak istimewa. Orangnya menarik jadi gampang dapat pasangan, orang tuanya pejabat jadi gampang dapat kerja, keluarganya di rumah sakit jadi bisa divaksin secepatnya, dll.
Sekarang, coba kita bedah si privilege ini. Banyak pendapat mengenai hal tersebut, ada yang mendukung pernyataan di atas bahkan cenderung menyalahkan si subjek privilege, ada pula yang mengatakan bahwa sah-sah saja kok hak istimewa itu, selama orang tersebut memang mempunyai kemampuan. Misalnya nih, saya juara 3 nyanyi. Selain karena memang salah satu jurinya itu mamaku, juri-juri yang lainpun sepakat kalau saya pantas kok karena memang suaranya bagus misalnya (wkwkwkwk pede). Wajar kok si A kerja di tempat itu, karena dia memang memiliki keahlian di bidang itu, selain karena orang tuanya salah satu petinggi di sana. Kesimpulannya adalah kemampuan+privilege adalah keberuntungan. Selama dia mampu dan tidak menzalimi hak orang lain, why not.
Ada pula yang menambahkan bahwa untuk mendapatkan hak istimewa, dia atau orang-orang yang terlibat tidak mudah juga kok mendapatkan itu. Butuh kerja keras, kerja cerdas, dan doa yang kencang untuk berada pada "posisi penting". Adapun nanti ketika di "posisi penting" itu dia bisa membantu orang terdekatnya mendapatkan hak istimewa juga, itu bonus.
Jadi, menurut kalian privilege itu sehat atau tidak? :)
Minggu, 20 Juni 2021
Amanah dan Ekspektasi
Bismillahirrahmanirrahim
Beberapa pekan lalu, atau tepatnya beberapa bulan yang lalu, pimpinan sekolah memberikan penawaran yang mungkin bagi sebagian orang sangat diharapkannya. Aku pun begitu, tetapi aku tidak menyangka akan secepat ini. Yah, menjadi wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Waktu itu, air mata tanpa sengaja turun di pipiku, bahkan saat mereka bercanda mengatakan bahwa awalnya memang dipaksa, lama-lama juga akan terbiasa. Mereka menyebutkan setiap alasannya, mengapa menurut mereka aku layak mendapatkan amanah itu.
Hal tersebut berlalu begitu saja, dan aku pun kadang memikirkan, kadang tidak. Pekerjaan yang beruntun membantu otak overthinking ini rehat sejenak. Tapi tak kusangka, beberapa pekan kemudian, tawaran itu (tepatnya keharusan, hehe) datang lagi. Aku sempat tenang karena ternyata ada beberapa nama yang diajukan selain namaku. Singkatnya, aku tidak punya alasan syar'i untuk menolak amanah itu. Dengan berbagai pertimbangan, namaku lah yang diajukan ke yayasan dan mereka setuju. Aku sekali lagi galau, tak lupa kuminta pendapat Allah melalui istikharah dan musyawarah dengan mama. Hasilnya, jalan itu semakin jelas, hatiku tiba-tiba dibalikkan untuk menerima amanah itu.
Jika ada yang bertanya mengapa di awal aku sempat menolak, kukatakan bahwa menjadi seorang pemimpin memerlukan beberapa syarat menurutku. Etika yang bisa dicontoh, sudah memiliki pasangan (ini pendapat pribadiku, mengingat ada beban baru yang butuh kubagi dengan seseorang), serta mewujudkan berbagai ekspektasi. Yah, ekspektasi. Jangan mengatakan bahwa manusia tidak boleh berekspektasi terlalu tinggi, itu berlaku bagi makhluk yang bisa kita kendalikan. Siapa? Tentu saja diri sendiri. Sedangkan orang lain? Mana bisa kita mengatur harapan orang-orang. Di setiap amanah yang kau emban, ada ekspektasi dari orang-orang yang terlibat di dalamnya. Yayasan, pimpinan, bahkan teman-teman guru dan siswa yang nantinya akan banyak berinteraksi.
Mampukah seorang aku mewujudkan berbagai harapan mereka? Mampukan aku masih memiliki waktu menjadi aku yang seutuhnya ketika memegang amanah baru itu? Yakinlah, semakin tinggi suatu jabatan, semakin beragam ekspektasi yang muncul, dengan kata lain, semakin banyak waktu untuk hal-hal di luar diri. Semakin sedikit pembicaraan yang melibatkan antara aku dan aku. Bagaimana jika nanti Allah menakdirkanku menikah, memiliki anak? Apakah aku masih punya waktu untuk mereka?
Terus terang, berbagai pertanyaan itu yang kadang mengusik sedikit kepercayaan diriku. Tapi, seketika aku sadar saat tiba-tiba membuka Youtube dan menyaksikan seorang Sri Mulyani, ibu yang super sibuk, tetap bisa menjadi pahlawan di mata anak-anaknya. Aku menilik lagi ke mama, wanita terdekatku. Kesibukanku tak ada artinya dibandingkan berbagai kegiatannya. Mama aktif di mana-mana, tambahan lagi, mama lebih tua dari aku, energiku harusnya lebih besar. Dengan segala kekuatan itu, Bismillah aku siap Ya Allah...
Ketika nanti aku ada salah, khilaf, maka aku hanya manusia. Ketika nanti ada ekspektasi yang tak bisa kuwujudkan, maka aku hanya manusia dengan kemampuan terbatas.
Engkau yang memberikan amanah ini Ya Allah, maka berikan kekuatan untuk mengembannya...
Jumat, 07 Mei 2021
Pahala Menyiapkan Buka
Bismillahirrahmanirrahim
Gak terasa sudah hari ke-25 Ramadhan. Ada haru yang menyelimuti, Aĺlah memberikan kita kesempatan untuk menjalaninya hingga saat ini sekaligus sedih dengan pertanyaan "Akankah Ramadhan tahun depan tergapai dan apakah ramadhan kita tahun ini diterima?" Hanya Allah Yang Maha Tahu jawabannya. Batasan manusia adalah doa dan ikhtiar.
Sebelum masuk ke judul, saya posting terlebih dahulu salah satu ayat yang ada di Al-Quran:
Allah Ta’ala berfirman,
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
“(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS. Luqman: 16).
Sumber https://rumaysho.com/2373-nasehat-lukman-pada-anaknya-5-setiap-perbuatan-akan-dibalas.html
Dan hadits:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”
Sumber https://rumaysho.com/1147-pahala-besar-di-balik-memberi-makan-berbuka.html
Kedua dalil di atas saling mendukung, intinya adalah sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan, Allah selalu memperhitungkan dan membalasnya dengan berlipat ganda. Salah satunya adalah pahala bagi orang yang tidak berpuasa tetapi menyiapkan makanan atau memberi makan kepada orang yang berbuka puasa. Jadi cewek-cewek sholihah, jangan pernah membandingkan diri kita sama cowok-cowok sholih yah. Kita mungkin puasanya tidak sefull mereka, tetapi pahala yang diperoleh Insya Allah akan tetap sempurna kok, selama:
1. Jaga niat
Salah satu syarat diterimanya ibadah adalah ikhlas lillahi ta'ala. Kalaupun ada tendensi lain, ujung-ujungnya balik kepada Allah. Misalnya, kita menyiapkan buka puasa karena untuk membantu orang tua. Secara kasat, kita melakukannya karena orang tua, tapi selipkan keyakinan bahwa Allah pasti melihat setiap yang kita lakukan, semoga menjadi kebaikan
2. Melakukan ibadah selain sholat dan puasa, bisa dengan tilawah, dzikir, sholawatan, share nasehat ke story, nonton ceramah, ikut kajian online, dll
Pada akhirnya, hanya ridho-Nyalah yang kita harapkan. Maka jangan pernah puas, mari melakukan kebaikan sebanyak yang kita mampu
Selamat menyambut hari fitri
Selamat menyambung silaturahim
Selamat menyambut cinta ilahi
MENGUNDURKAN DIRI
Bismillahirrahmanirrahim Hari ini, saya akan menyambung cerita tentang pengunduran diriku dari Ar-Rahmah. Jadi, awal Agustus itu sudah ada b...
-
Pernah tidak berpikir, apa yang kita nikmati sekarang merupakan simbol kemajuan atau justru kemunduran? Oke, aku persempit bahasannya. Meng...
-
Apalah arti terangnya lampu, jika dia dinyalakan di terik siang Apalah makna sebuah lilin, ketika rumah terang benderang oleh nyala lam...
-
Saya sengaja memilih jargon Pemilu 2014 sebagai judul agar menarik perhatian, tema pembicaraan yang lagi trending topic tahun ini. Sebagai ...