Senin, 26 Desember 2022

RANGKUMAN MATERI 2 KELAS PRA-NIKAH

Jodoh adalah salah satu rejeki dari Allah yang harus diperjuangkan dengan tetap meyakini bahwa takdir adalah hak prerogatif Allah. Jika ikhtiar dan doa telah dimaksimalkan, dan jodoh belum datang, bisa jadi tawakal kita yang masih kurang, keyakinan kita kepada Allah yang harus ditambahkan, bisa jadi pula itu ujian dari Allah untuk meneguhkan kita

Ketika kita memiliki jodoh pilihan yang berbeda dengan orang tua, maka perjuangkan di depan mereka semaksimal mungkin, berdoa agar mereka dilembutkan hatinya, tetap memaksimalkan doa

Ketika orang tua tetap tidak setuju, maka lihatlah jodoh yang diinginkan orang tua kita. Meski awalnya belum ada rasa, tetapi jika agama dan akhlaknya baik, maka Bismillah kita membuka hati, sambil sholat istikhoroh

Yang harus dilakukan saat kehilangan seseorang/patah hati adalah yakin bahwa Allah memberikan ujian untuk mendewasakan kita, berhenti stalking dengan dia, membaca doa move on, fokus memperbaiki diri, menyibukkan diri dengan hal positif, meyakini bahwa Allah pasti memberikan ganti yang lebih baik

RANGKUMAN MATERI 1 KELAS PRA-NIKAH

Bismillah

Di tahun 2021 bulan Maret, saya mengikuti kelas online pra-nikah. Qadarullah, tepat setahun yaitu di bulan Maret 2022, Allah menghadirkan seseorang yang menjadi suami saya sekarang. Alhamdulillah. Beberapa rangkuman materi pra-nikahnya akan saya share di blog ini. Tapi menurutku, teori 30%, praktik tetap 70% 😀

Yuk Bismillah!!!

Persiapan yang paling utama saat akan menikah adalah mental diri, bersiap hidup dengan dua kepala berbeda, dua keputusan dan dua pendapat yang tidak selamanya sama. Berani mengakui kesalahan, berani meminta maaf, mau mendengar saran, memberikan ruang memaklumi, menjauhkan kata sempurna. Setiap yang Allah takdirkan itu baik, jika beberapa kekurangannya muncul setelah menikah, maka berpikirlah kelebihan apa yang membuat kita dahulu menyukainya, berpikirlah bahwa jika kita menikah dengan orang lain, pasti akan ada kekurangan juga, tapi mungkin bentuknya berbeda

Selanjutnya, persiapan ilmu. Mulai dari belajar tahsin, belajar berkomunikasi dengan latihan ke orang tua terlebih dahulu, belajar bersabar jika kelak mertua tidak seperti ekspektasi, belajar menerima kehadiran ipar, belajar hak dan kewajiban suami istri, belajar tentang talak, belajar parenting

Tentang parenting, jika berniat dan mempersiapkan untuk menikah, maka harus ada persiapan juga menjadi orang tua. Terutama ibu, yang merupakan madrasah pertama. Beberapa tingkatan dalam memperlakukan anak yaitu: 7 tahun pertama perlakukan mereka layaknya raja/ratu dengan memenuhi segala keinginan dan kebutuhannya tetapi tetap harus menggunakan bahasa yang sopan jika meminta sesuatu, 7 tahun kedua perlakukan mereka seperti tawanan dengan memberikan beberapa aturan yang memiliki konsekuensi reward/punishment, 7 tahun ketiga perlakukan mereka seperti sahabat dengan menjadikan diri sebagai tempat mereka mengeluarkan uneg-unegnya

Pernikahan adalah ibadah terlama, maka persiapannya juga harus terbanyak

Selasa, 12 April 2022

MENGHADAPI UJIAN (ATAU TEGURAN?) SATU PER SATU

Bismillahirrahmanirrahim...
Kemarin, seorang alumni SMP tempatku mengajar datang ke sekolah. Sebelumnya, kami memang sudah janjian. Dia sudah seringkali menghubungiku untuk konsultasi, padahal saya bukan sarjana psikologi, meski saya sangat menyukai ilmu tersebut. Mungkin ini adalah cara Allah untuk membuatku lebih semangat dalam mempelajarinya, meskipun dalam ranah non formal. Anak ini menceritakan betapa beratnya hidup yang dirasakan dia sekarang. Mulai dari masalah keluarga hingga berimbas ke masalah di sekolah. Tapi karena sudah berjanji, saya tidak bisa menceritakan detail masalahnya di sini.

Ada satu pertanyaan yang dia berikan ke saya hingga membuat terdiam dan berpikir juga. Katanya, apakah orang yang diuji menandakan bahwa dia jauh dari Allah? Saya pun mencoba menjawab jika Allah memberikan sesuatu dalam bentuk musibah ke kita, Allah pasti punya hikmah terbaiknya, bisa jadi ujian dan bisa saja teguran. Perbedaan keduanya terletak pada objeknya. Teguran berdampak menyadarkan si objek agar menyadari maksiatnya, bertaubat dan tidak mengulanginya lagi. Sedangkan ujian menjadi ajang naik kelas, Insya Allah. Mengenai apakah teguran atau ujian, hanya si empunya masalah dan Allah yang tahu.

Intinya, selama kita masih di dunia, maka suka dan duka yang datang, akan silih berganti. Tentunya Allah akan memberikan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Tentunya, pendewasaan diri akan tumbuh seiring dengan kejadian silih berganti yang kita alami. Asalkan, syukur dan sabar senantiasa mengiringi.

Rabu, 20 Oktober 2021

DIA DATANG (LAGI)

Bismillahirrahmanirrahim

Allah selalu memiliki jalan mempertemukan kita dengan seseorang, bahkan dengan cara yang tak pernah terpikir

Allah pun punya berbagai jawaban mengapa mempertemukan mereka, apakah memang takdir atau ujian

Itu yang terjadi denganku

Seseorang yang pernah dekat di masa lalu, dengan sebuah momen, kini hadir kembali

Dia menyapa dengan anggun

Dia datang membawa sebuah cita-cita

Cita-cita yang juga sementara kuperjuangkan, tapi bedanya aku sudah menyerahkan kepada Tuhanku, yang terbaik menurut-Nya

Setelah meyakinkan diriku akan keseriusannya, aku memberinya waktu

Waktu yang tidak terburu-buru dan tidak menunda-nunda

Untuk memberikan bukti atas segala yang diucapkannya

Komunikasi kami batasi

Meski sesekali ada hal penting yang harus dibahas atau sesekali diselingi chat seorang sahabat lama

Ya Allah, tuntun hamba agar tetap menjaga hati di tengah proses ini

Mudahkan segala ikhtiar kami

Kabulkan doa-doa kami

Jangan biarkan dua hati yang ingin bersatu dalam halal-Mu menjadi patah

Apapun itu, Engkau Yang Maha Tahu segala yang terbaik

Jika memang tertakdir, maka dekatkan

Jika ini ujian, maka bantu kami melaluinya dan berikan ganti yang lebih baik

Kami berserah agar segera


Aamiin

Selasa, 05 Oktober 2021

PRIVILEGE, SEHATKAH?

Pernah dengar ini tidak "enak yah dia, keluarganya pejabat semua, jadi dapat kerjaan juga gampang"

Atau yang pernah saya alami "Una yah, juara 3 karaokean soalnya mamanya juri". Waktu itu ada arisan keluarga dan saya mewakili keluarga dari pihak mama buat ikut lomba karaokean, hehe.

Nadanya sih bercanda guys waktu mereka ngomong seperti itu, tapi tetap saja menimbulkan perasaan tidak enak di hati ini, hehe...

Nah, 2 kalimat di atas itu mengindikasikan yang namanya "privilege" yang kurang lebih artinya adalah hak istimewa. Orangnya menarik jadi gampang dapat pasangan, orang tuanya pejabat jadi gampang dapat kerja, keluarganya di rumah sakit jadi bisa divaksin secepatnya, dll.

Sekarang, coba kita bedah si privilege ini. Banyak pendapat mengenai hal tersebut, ada yang mendukung pernyataan di atas bahkan cenderung menyalahkan si subjek privilege, ada pula yang mengatakan bahwa sah-sah saja kok hak istimewa itu, selama orang tersebut memang mempunyai kemampuan. Misalnya nih, saya juara 3 nyanyi. Selain karena memang salah satu jurinya itu mamaku, juri-juri yang lainpun sepakat kalau saya pantas kok karena memang suaranya bagus misalnya (wkwkwkwk pede). Wajar kok si A kerja di tempat itu, karena dia memang memiliki keahlian di bidang itu, selain karena orang tuanya salah satu petinggi di sana. Kesimpulannya adalah kemampuan+privilege adalah keberuntungan. Selama dia mampu dan tidak menzalimi hak orang lain, why not.

Ada pula yang menambahkan bahwa untuk mendapatkan hak istimewa, dia atau orang-orang yang terlibat tidak mudah juga kok mendapatkan itu. Butuh kerja keras, kerja cerdas, dan doa yang kencang untuk berada pada "posisi penting". Adapun nanti ketika di "posisi penting" itu dia bisa membantu orang terdekatnya mendapatkan hak istimewa juga, itu bonus.

Jadi, menurut kalian privilege itu sehat atau tidak? :)

Minggu, 20 Juni 2021

Amanah dan Ekspektasi

Bismillahirrahmanirrahim

Beberapa pekan lalu, atau tepatnya beberapa bulan yang lalu, pimpinan sekolah memberikan penawaran yang mungkin bagi sebagian orang sangat diharapkannya. Aku pun begitu, tetapi aku tidak menyangka akan secepat ini. Yah, menjadi wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Waktu itu, air mata tanpa sengaja turun di pipiku, bahkan saat mereka bercanda mengatakan bahwa awalnya memang dipaksa, lama-lama juga akan terbiasa. Mereka menyebutkan setiap alasannya, mengapa menurut mereka aku layak mendapatkan amanah itu.

Hal tersebut berlalu begitu saja, dan aku pun kadang memikirkan, kadang tidak. Pekerjaan yang beruntun membantu otak overthinking ini rehat sejenak. Tapi tak kusangka, beberapa pekan kemudian, tawaran itu (tepatnya keharusan, hehe) datang lagi. Aku sempat tenang karena ternyata ada beberapa nama yang diajukan selain namaku. Singkatnya, aku tidak punya alasan syar'i untuk menolak amanah itu. Dengan berbagai pertimbangan, namaku lah yang diajukan ke yayasan dan mereka setuju. Aku sekali lagi galau, tak lupa kuminta pendapat Allah melalui istikharah dan musyawarah dengan mama. Hasilnya, jalan itu semakin jelas, hatiku tiba-tiba dibalikkan untuk menerima amanah itu.

Jika ada yang bertanya mengapa di awal aku sempat menolak, kukatakan bahwa menjadi seorang pemimpin memerlukan beberapa syarat menurutku. Etika yang bisa dicontoh, sudah memiliki pasangan (ini pendapat pribadiku, mengingat ada beban baru yang butuh kubagi dengan seseorang), serta mewujudkan berbagai ekspektasi. Yah, ekspektasi. Jangan mengatakan bahwa manusia tidak boleh berekspektasi terlalu tinggi, itu berlaku bagi makhluk yang bisa kita kendalikan. Siapa? Tentu saja diri sendiri. Sedangkan orang lain? Mana bisa kita mengatur harapan orang-orang. Di setiap amanah yang kau emban, ada ekspektasi dari orang-orang yang terlibat di dalamnya. Yayasan, pimpinan, bahkan teman-teman guru dan siswa yang nantinya akan banyak berinteraksi.

Mampukah seorang aku mewujudkan berbagai harapan mereka? Mampukan aku masih memiliki waktu menjadi aku yang seutuhnya ketika memegang amanah baru itu? Yakinlah, semakin tinggi suatu jabatan, semakin beragam ekspektasi yang muncul, dengan kata lain, semakin banyak waktu untuk hal-hal di luar diri. Semakin sedikit pembicaraan yang melibatkan antara aku dan aku. Bagaimana jika nanti Allah menakdirkanku menikah, memiliki anak? Apakah aku masih punya waktu untuk mereka?

Terus terang, berbagai pertanyaan itu yang kadang mengusik sedikit kepercayaan diriku. Tapi, seketika aku sadar saat tiba-tiba membuka Youtube dan menyaksikan seorang Sri Mulyani, ibu yang super sibuk, tetap bisa menjadi pahlawan di mata anak-anaknya. Aku menilik lagi ke mama, wanita terdekatku. Kesibukanku tak ada artinya dibandingkan berbagai kegiatannya. Mama aktif di mana-mana, tambahan lagi, mama lebih tua dari aku, energiku harusnya lebih besar. Dengan segala kekuatan itu, Bismillah aku siap Ya Allah...

Ketika nanti aku ada salah, khilaf, maka aku hanya manusia. Ketika nanti ada ekspektasi yang tak bisa kuwujudkan, maka aku hanya manusia dengan kemampuan terbatas.

Engkau yang memberikan amanah ini Ya Allah, maka berikan kekuatan untuk mengembannya...

Jumat, 07 Mei 2021

Pahala Menyiapkan Buka

Bismillahirrahmanirrahim

Gak terasa sudah hari ke-25 Ramadhan. Ada haru yang menyelimuti, Aĺlah memberikan kita kesempatan untuk menjalaninya hingga saat ini sekaligus sedih dengan pertanyaan "Akankah Ramadhan tahun depan tergapai dan apakah ramadhan kita tahun ini diterima?" Hanya Allah Yang Maha Tahu jawabannya. Batasan manusia adalah doa dan ikhtiar.

Sebelum masuk ke judul, saya posting terlebih dahulu salah satu ayat yang ada di Al-Quran:

Allah Ta’ala berfirman,

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS. Luqman: 16).


Sumber https://rumaysho.com/2373-nasehat-lukman-pada-anaknya-5-setiap-perbuatan-akan-dibalas.html

Dan hadits:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”


Sumber https://rumaysho.com/1147-pahala-besar-di-balik-memberi-makan-berbuka.html

Kedua dalil di atas saling mendukung, intinya adalah sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan, Allah selalu memperhitungkan dan membalasnya dengan berlipat ganda. Salah satunya adalah pahala bagi orang yang tidak berpuasa tetapi menyiapkan makanan atau memberi makan kepada orang yang berbuka puasa. Jadi cewek-cewek sholihah, jangan pernah membandingkan diri kita sama cowok-cowok sholih yah. Kita mungkin puasanya tidak sefull mereka, tetapi pahala yang diperoleh Insya Allah akan tetap sempurna kok, selama:

1. Jaga niat

Salah satu syarat diterimanya ibadah adalah ikhlas lillahi ta'ala. Kalaupun ada tendensi lain, ujung-ujungnya balik kepada Allah. Misalnya, kita menyiapkan buka puasa karena untuk membantu orang tua. Secara kasat, kita melakukannya karena orang tua, tapi selipkan keyakinan bahwa Allah pasti melihat setiap yang kita lakukan, semoga menjadi kebaikan

2. Melakukan ibadah selain sholat dan puasa, bisa dengan tilawah, dzikir, sholawatan, share nasehat ke story, nonton ceramah, ikut kajian online, dll

Pada akhirnya, hanya ridho-Nyalah yang kita harapkan. Maka jangan pernah puas, mari melakukan kebaikan sebanyak yang kita mampu

Selamat menyambut hari fitri

Selamat menyambung silaturahim

Selamat menyambut cinta ilahi

MENGUNDURKAN DIRI

Bismillahirrahmanirrahim Hari ini, saya akan menyambung cerita tentang pengunduran diriku dari Ar-Rahmah. Jadi, awal Agustus itu sudah ada b...