Minggu, 25 Januari 2015

KARENA BANYAK CARA MENUNJUKKAN CINTA

Mama, Papa
Bukannya aku tidak merindukan kalian,
Bukan pula aku sudah terlalu nyaman di kota orang,
Jika ingin kukatakan, hasratku sama dengan kalian
Ingun berjumpa melepas rindu, merebahkan kepala di pangkuan mama
Melepaskan semua cerita perjalanan bersama papa
Kadang akur kadang tak bisa diatur dengan adik
Mendengar celotehan sayang nenek
            Tapi Ma, Pa
            Anakmu sekarang sudah punya tanggung jawab lain
            Tanggung jawab yang lebih besar dari sekedar kuliah
            Tanggung jawab bagi agama kita, bagi bangsa kita, dan bagi kita
            Aku melakukannya bukan untuk menomorduakan kalian
            Justru aku berharap bisa menjadikan kalian lebih utama
            Di sini dan di sana
Aku akan pulang, tentu saja
Di tempat pertama kakiku berpijak
Di tanah pengabdianku kelak
Maka, biarkan kurengkuh sebanyak mungkin bekalku di sini
            Ma, Pa, raga kita memang terpisah,
            Tapi jiwa kita disatukan dalam doa
Bercengkeramalah Dengannya, pun aku
Maka tanpa kita sadari, jarak kita sangat dekat

DEMI WAKTU

Pernahkah kita menyadari bahwa waktu yang kita miliki ini akan berakhir?
Akan ada masa di mana waktu yang menjadi jatah kita telah genap dijalani
Dan masa itu takkan bisa ditunda, sedetikpun
Ada saat di mana kita akan istrahat dari pekatnya dunia
Dari lelahnya perjalanan
Dan ini tak sama ketika kita tidur di malam hari, kemudian dengan entengnya bangun di pagi hari
Ini semacam tidur, dan ketika kita bangun, tau-tau sudah dikumpulkan di suatu tempat
Tempat yang tak ada naungan sesuatupun kecuali bagi orang-orang yang dipilih-Nya
Sebelumnya, tubuh yang perkasa atau anggun ini akan berteman dengan tanah
Tempat yang bisa saja terang dan lapang
Atau bahkan sempit dan gelap
Dan yang menjadi penentu adalah waktu-waktu kita dunia
Telahkah kita menggunakan waktu ini untuk beribadah pada-Nya? (Q.S An-Naas)
Waktu, yang tidak kita sadari berlalu tanpa perduli apapun yang dilakukan penghuni bumi
Waktu, yang setiap hari tunduk pada aturan Tuhan-Nya
Waktu, yang saking pentingnya, Allah menyebut dalam satu firman-Nya
Waktu, yang bisa menjadi pedang, bisa membantu dan mampu melukai
Waktu, yang sering kita habiskan untuk sesuatu yang berbau dunia dan sementara
Waktu, yang dengannya kita akan diminta pertanggungjawaban

Barangsiapa yang mengingat Allah di waktu luangnya, maka Allah akan mengingatnya di waktu sempitnya


Diriwayatkan oleh Al Hakiem dan Al Tirmidzi “Dari Abi Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda “Siapa yang ingin Allah kabulkan permintaanya di waktu sempit, maka perbanyaklah berdoa di waktu lapang”

Senin, 12 Januari 2015

JILBABKU IDENTITASKU

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S 33:59)

Betapa dijaga dan dihormatinya kaum wanita dalam Islam, segala perintah yang diturunkan semata-mata agar kita terlindungi dari fitnah dunia. Islam adalah agama preventif, bukankah mencegah memang lebih baik daripada megobati? Di Al-Quran jelas sekali bahwa jilbab itu wajib, bagi orang-orang mukmin. Sama dengan sholat, puasa, haji, zakat. Tapi mengapa masih banyak yang mengabaikan bahkan menganggapnya hanya hiasan? Hanya properti yang dikenakan jika sudah siap? Padahal itu identitas kita, itu perintah eksplisit dari Rabb kita.

Senada dengan keadaan tersebut, baru-baru ini kita dikejutkan dengan aturan jilbab untuk pegawai BUMN. Bagaimana tidak, jilbab yang seharusnya menutup seluruh tubuh, justru hanya dibolehkan sampai leher. Na’udzubillahi mindzalik. Bagi yang lebih mementingkan dunia, maka peraturan ini tidak masalah, toh tetap pakai jilbab. Tapi bagi saudara-saudara yang paham akan hakikat jilbab, maka aku yakin mereka punya pilihan yang lebih baik. Bagaimana mungkin perintah Allah dipertaruhkan dan dilanggar hanya untuk kepentingan dan nafsu duniawi segelintir orang? Yang herannya mereka juga beragama Islam, di negara yang mayoritas muslim pula. Benarlah kata seorang penceramah, di Indonesia Islam banyak secara struktural, tapi secara fungsional, seolah-olah ajaran itu asing bagi pemeluknya sendiri.
Apa yang salah dengan jilbab kami? Pernahkah jilbab kami mengganggu pekerjaan kami? Pernahkah jilbab kami merugikan orang lain? Apa yang salah dengan salah satu bentuk ketaatan kami pada Rabb yang menciptakan kami?

Ya Allah lindungi kami yang bercita-cita membangkitkan kembali zaman keemasan Islam dan menjadi bagian di dalamnya, beri kami kekuatan, sadarkan saudara sesama Muslim kami, tanpa ukhuwah, kita tak ada apa-apanya, ukhuwah yang dibangun oleh akidah. Aku rindu ya Allah di zaman Rasulullah, para khalifah, saat Islam dan Ilmu pengetahuan seiring sejalan, saat hampir semua negara berkiblat ke Islam. Dan aku tahu itu tak mudah, karena mengembalikannya berarti mengembalikan umat-Mu dekat dengan Al-Qur’an dan As-sunnah. Dua wasiat keselamatan dari Rasul-Mu. Tapi dengan kekuatan dari-Mu, tidak ada yang tidak mungkin.

PULPEN DARI JEPANG

Kalian pernah mengalami hal yang kurang menyenangkan dalam hal “rebutan” ole-ole dari seseorang? Kalau iya, kita sama. Beberapa waktu lalu, aku mengalaminya, tetapi baru tersadar akan hikmahnya berkat kejadian kemarin. Kejadian kecil yang mungkin bagi sebagian orang tidak penting atau tidak diperhitungkan sebagai bagian dari salah satu pelajaran hidup.

Yup, kembali ke ole-ole. Lupa tepatnya, tapi beberapa waktu di lab jurusan, salah satu dosen kami masuk ruang diskusi lab tempat kami belajar bersama, meminta kami untuk tinggal sampai sorean, katanya ada tamu dari salah satu universitas di Jepang dan meminta kami menyambutnya. Kami (pastilah) nurut, dan melanjutkan diskusi. Setelah menunggu, dosen kami datang kembali, tapi kali ini dengan beberapa barang di tangannya. Beliau mengatakan, tamunya sudah pulang, buru-buru atau ada keperluan lain apa yah, aku juga lupa tepatnya. Tapi, barang-barang yang ada di tangan beliau yang terdiri dari pulpen dan map kemudian diletakkan di meja, ole-ole dari Jepang buat kami. Seketika itu teman-teman “rebutan” mengambil map, dan yang belakangan “cuma” dapat pulpen, termasuk aku. Teman yang dapat map bahagia sekali, cantik memang mapnya kuakui, warna favoritku lagi. Sempat menyesal juga kenapa tadi tidak ikut “rebutan”. Tapi yah, Alhamdulillah itu kan rejeki.

Nah, Allah seolah ingin memberikan jawaban kenapa aku dapatnya pulpen bukan map di UAS ku kemarin. Sedang asyik-asyiknya mengerjakan soal ujian, pulpenku macet, padahal menurutku pulpen itu baru aku pake, tintanya pun masih lebih dari setengah. Kuutak-atik tempat pensilku, hanya ada pulpen warna di sana, tumben hari itu aku tidak membawa pulpen cadangan. Aku berusaha mencoret-coret pulpenku, siapa tau macet sementara saja, tapi setelah kuperiksa ternyata tintanya “menipu” kelihatannya saja penuh tapi ternyata memang sudah habis. Seolah-olah penuh karena tinta sisanya nempel di dinding pulpen. Dengan terpaksa, aku tanya teman yang duduk di sebelahku, ternyata dia hanya memiliki 1 pulpen, teman yang di belakang pun seperti itu, hanya pulpen warna cadangannya. Di tengah kegalauan itu, aku teringat pulpen dari Jepang itu. Aku pun membuka kembali tempat pensilku dan Alhamdulillah dapat. Akhirnya aku pun mengerjakan sisa soal yang ada.

Ternyata memang apa yang diberikan Allah, itulah yang tepat untuk kita. Tidak perlu iri dengan punya orang lain, karena belum tentu itu yang kita butuhkan. Bersyukur dan sabar. Rumput tetangga lebih hijau, karena kita melihatnya dari jauh, dari sudut pandang berbeda. Selimut tetangga lebih hangat, karena rumah kita sudah cukup hangat. Kita tidak memerlukan selimut itu.

JURNAL 11 BULAN CAWA

Bismillahirrahmanirrahim Sabtu, 31 Agustus 24: Sekitar pukul setengah 9 malam, Cawa tidur setelah meminum susu dari botol susunya. Tapi, sek...