Kamis, 29 Mei 2014

GWS Kakak Cantikku

Aku selalu iri padanya, dalam hal positif tentu saja. Dia pintar, baik, dan cantik. Sifat sombong juga jauh darinya. Dia memberikan inspirasi tersendiri buatku. Dia sepupu jauhku, sebut saja namanya Kak I. Aku kenal dia dari kecil, tapi karena lama nda ketemu, aku sempat melupakannya. Suatu hari, saat aku kelas 6 SD Kak A (sekampungku), menanyakan sesuatu yang mengingatkanku lagi padanya. Ternyata, Kak A dan Kak I sekelas (waktu itu mereka sudah 3 SMP). Ternyata mereka berdua bertemu dengan bapakku di salah satu tempat fotokopian dan sempat ngobrol sama Kak I. Kak A pun bertanya, kenapa Kak I bisa mengenal bapakku. Dan dia jawab kalo bapakku itu omnya. Hal itu pun diceritakan Kak A kepadaku, and I tried to reminder her, then ahhaaa I got the answer, Kak I itu sepupu jauhku tadi. And I made up my mind, i was going to send mail for her by Kak A.

Ternyata surat itu dibalas oleh Kak I. Sempat malu juga saat itu, kertas surat dan tulisanku jelek dan dia membalasnya dengan kertas dan tulisan yang cantik. Kebetulan saat itu aku mendaftar di SMP (ditemani Kak A) yang sama dengannya, jadi saat pengambilan formulir, aku bertemu. Sempat ditraktir malah. Dan ada satu prinsipnya yang baru kutahu saat itu, dia belum mau pacaran, padahal cowok-cowok keren nan tajir pada antri. Tambah kagum dah. Tapi sayang, ini tahun terakhirnya di SMP tersebut. Aku tak pernah lagi berhubungan sampai tamat SMA.

Kami kontekan kembali ketika aku mendaftar di universitas yang sama dengannya. Aku juga lupa dapat nomor HP nya darimana. Akhirnya, aku beranikan diri menghubungi untuk minta tolong ditemani saat pengisian formulir. Tapi sayang, saat itu dia ada kuliah. Kabar baiknya, aku lulus di universitas tersebut. Kebetulan, fakultas kami tetanggaan, jadi frekuensi ketemunya akan sering. Di hari pertama kami bertemu (di mushola), aku kaget. Ternyata Kak I sudah menutup aurat dalam artian sebenarnya (bukan membungkus).

Waktu terus berlalu dan mengantarkanku pada gelar sarjana. Dari kabar yang kudengar, Kak I kerja di apotek dekat rumahnya di Makassar. Kami jarang berhubungan, hingga suatu hari ada kabar mengejutkan dari bapakku. Kak I sakit, dan sakitnya bukan medis. Dia sempat kehilangan kesadaran, mengamuk, dan membuka jilbabnya. Astagirullah. Saat aku menjenguknya, airmataku hampir jatuh. Lihatlah, sosok yang kukagumi sejak dulu, cantik, berprestasi, sekarang berjuang menghadapi takdirnya. Kecantikannya masih sama, hanya saja ingatan, perilaku, dan cara bicaranya sudah sangat berbeda. Tapi, ada setitik kebahagiaan yang muncul ketika ibunya mengatakan Kak I sudah berangsur sembuh, buktinya dia mengenalku. Meskipun kepalanya masih sering sakit.

Sembuhkan dia ya Allah, kakakku yang baik hati, sabar, pintar, dan cantik itu. Semoga melalui cobaan ini, dosa-dosanya berguguran, menjadi manusia yang lebih baik insya Allah. Memberi hikmah baginya dan orang-orang di sekitarnya. Satu peristiwa lagi yang menyadarkanku, tak pernah ada yang abadi.

AYO MEMILIH (terkhusus untuk yang "masih" idealis)

Saya sengaja memilih jargon Pemilu 2014 sebagai judul agar menarik perhatian, tema pembicaraan yang lagi trending topic tahun ini. Sebagai warga negara yang baik, hak dan kewajiban memilih pemimpin harus dilakukan. Seburuk apapun sistem yang ada sekarang, tetap tak ada alasan untuk golput. Jangan sampai kita hanya menjadi penonton dengan teriakan protes sana sini tanpa ada kontribusi. Itu hanya menunjukkan jiwa kepengecutan yang awalnya bermaksud "baik". Dan memilih wakil rakyat adalah salah satu titik awal kontribusi untuk negara ini.

Jika ditanya masalah setuju atau tidaknya saya dengan pemerintahan saat ini, jawaban saya adalah fifty-fifty. Fifty yang pertama, setuju. Karena saya selalu yakin, dalam sebuah perkumpulan, pasti ada kaum mayoritas. Dan meski kecil, selalu pula ada kaum minoritas. Namanya juga minoritas, tertutupi oleh suara besar kaum mayoritas. Teringat kutipan dari salah seorang teman "kuantitas menentukan kualitas". Dalam situasi ini, saya setuju. Image yang terpampang pasti dikuasai kaum mayor, mau tidak mau image itu (baik/buruk) akan menempel pula pada kaum minor. Selalu seperti itu dalam sebuah tim, kesalingterkaitan gelombang emosi masing-masing pihak. Termasuk dalam hal pemerintahan, di tengah image yang terlanjut tercoreng di mata masyarakat, terdapat suara-suara kecil yang masih menggunakan nurani dan kebaikan. Bukankah Allah sendiri yang berfirman takkan diazab suatu wilayah jika masih ada yang beristigfar?

Fifty kedua, saya tidak setuju. Alasan masuk akalnya sudah saya paparkan di fifty pertama. Kerusakan sistem yang entah dimulai darimana, sudah menyebar ke berbagai sisi. Mirisnya, penyebaran hal buruk selalu lebih cepat dibandingkan hal baik. Menyalahkan satu sama lain bukanlah sikap yang tepat. Kerusakan ini bak lingkaran, entah di mana titik awalnya.

Kita kembali ke Pesta Rakyat yang sebentar lagi akan diadakan. Saya tidak terbiasa memaksakan pendapat kepada orang lain, tapi setelah pengungkapan secara retorika, biasanya banyak yang ikut. Dan pendapat saya adalah jika kita berada dalam suatu lingkaran, maka kewajiban kita mengikuti segala aturan dalam sistem itu, termasuk memilih tadi. sebagai bangsa yang berlandaskan hukum, ada UUD yang salah satu pasalnya mewajibkan kita memilih. Kalaupun kita belum bisa memperbaiki sistem, paling tidak kita sudah memberi kontribusi sebagai warga negara yang baik. Sabar saja, cepat atau lambat tanggung jawab negara akan jatuh di tangan kita, generasi muda. Dan saat itulah, siapa kita sebenarnya akan terkuak, mampu tidak menjadikan realitas yang dulunya sebatas idealitas.

Oke, kita masuk ke pembahasan kekurangan jika golput. Pertama, pelanggaran terhadap hukum yang jelas-jelas mengatur kita sebagai warga negara. Kedua, timbulnya dilema jika pemerintahannya berhasil dan dilema juga ketika pemerintahannya kurang berhasil. Jika berhasil, malu dong menikmati hasilnya. Jika kurang berhasil, kita tidak punya amunisi apa-apa untuk memprotes kebijakan pemerintah, kan gak dipake waktu Pemilu. Kecuali, kalo kita termasuk orang munafik. Intinya, setiap pilihan akan dipertanggungjawabkan, termasuk juga tidak memilih. Gunakan hak kita pada tempatnya, ini kan pestanya kita, jadi mari sama-sama dirayakan...

Rabu, 28 Mei 2014

Mama



Ada satu masa
Ketika saya mengatakan “tidak bisaka”
Kau berucap “nda akan pernah bisa orang kalo nda dicoba”
Ketika saya mengatakan “tidak mungkin”
Kau berucap “nda ada yang tidak mungkin”
Ketika saya mengatakan “bagaimana menurutta?”
Kau berucap “apapun keputusanmu, itulah yang terbaik”
Ketika saya mengatakan “mauka begini”
Kau berucap “silakan, selalu ada resiko di setiap perbuatan”
Tapi, di masa yang lain
Ketika saya menangis karena gagal
Ketika saya sakit karena jatuh
Ketika saya salah dalam melangkah
Ketika saya terpuruk akibat keras kepala
Kau jadi orang pertama yang memelukku
Kau jadi orang pertama yang mendoakanku
Kau jadi orang pertama yang menarikku bangkit kembali
Dan kau pula yang terakhir menyerah untukku
Sumber kekuatan sekaligus kelemahlembutan
Terima kasih telah menjadi madrasah pertamaku
Atas bekal ilmu terbaik
Saling mengingat di kala jauh
Saling mengingatkan di kala dekat

Senin, 10 Februari 2014

CINTA BRONTOSAURUS

Ini bukan tentang romantika dua binatang yang hidup di zaman dulu itu. Ini judul buku keduanya Raditya Dika yang difilmkan. Tulisan ini juga bukan sebagai resensi atau bersifat persuasive, karena aku yakin akan ada banyak pandangan subjektif di sini, namanya juga nge “fans”, haha. Masih mau baca gak?? Yang mau, tetap stay dan yang sudah bosan di baris ke-5 ini, silakan cari kesibukan lain, haha.
Beda dengan buku “Kambing Jantan” nya yang juga difilmkan (nda jelas juga kenapa semua judul bukunya pake nama hewan), buku “Cinta Brontosaurus” ini lebih ke kumpulan cerpen, meskipun masih tentang kesehariaannya Dika dan sekitarnya. Kalo “Kambing Jantan” kan lebih berupa diary nya dia, namanya juga diadaptasi dari blognya beliau. Nah, karena berupa kumpulan cerpen, awalnya aku juga berpikir, cara menyambung ceritanya bagaimana yah, kalau semua bagian mau diambil, otomatis waktu 2 jam nonton nda akan cukup. Bukan karena kepanjangan, tapi menemukan benang merah antar cerita itu lo bagaimana caranya (sok mengerti saja), pasti ada beberapa Bab yang nda diambil. Ternyata, setelah melihat filmnya, that’s right. Mungkin cuma sekitar 40 % lah dari bukunya (maaf kalo persentase nya nda akurat). Meski begitu, keluguan acting Dika (sama dengan karya-karyanya) dan pemain lainnya membuat film ini menjadi film ringan, mudah dicerna, and of course very funny. That was entertaining.
Ceritanya tentang Dika yang berjuang dalam karya dan cinta. Karyanya berupa buku yang baru saja diterbitkan dan ternyata minim pembeli. Berbagai cara yang dia dan agennya (Kosasih) lakukan agar buku itu bisa dikenal masyarakat dan mereka sudi membeli dan membacanya, yaitu melakukan berbagai talkshow. Beberapa kali dan beberapa kali pula gagal. Bukannya disambut baik, bukunya malah belum laku-laku. Sampai akhirnya ada produser film horor yang menawarinya untuk mengadaptasi buku tersebut jadi film. Hal ini nda disia-siakan sama Dika dan Kosasih. Tapi setelah mendengar bukunya akan diadaptasi jadi film horror “Hantu Cinta Brontosaurus”, Dika pun menolak. Jumlah nominal yang tidak sedikit membuat Kosasih_yang sudah menikah dan memiliki istri yang sangat konsumtif_ tidak setuju dengan Dika, akhirnya mereka ngambek-ngambekan. Di samping itu, masalah Dika lainnya adalah hubungan asmaranya yang terus kandas. Akhirnya, dia punya keyakinan bahwa cinta itu punya batas kadaluwarsa dan hebatnya saking seringnya menjalin hubungan dan putus, Dika tahu bagaimana cara putusnya seorang cewek dalam sekali pertemuan. Dia pun memutuskan jomblo sebelum menemukan cewek yang nda bisa ditebak cara putusnya. Keyakinan itu terus dipegang Dika hingga akhirnya bertemu Jessica, cewek manis yang beda dari mantan-mantannya. Singkat cerita, mereka pun pacaran. Meski banyak tantangan dan sempat break, hubungan mereka pun akhirnya membuat Dika yakin kalo cinta itu nda punya batas kadaluwarsa. Karena kekuatan persahabatan pulalah, Kosasih akhirnya mau menerima prinsip dan alasan Dika membatalkan bukunya diadaptasi. Cerita dalam film ini ringan, cocok untuk kita yang ingin refresh sejenak dari kepenatan, karena gaya humornya yang apa adanya. Hanya saja, ada beberapa adegan dalam film ini yang nyaris garing dan sebaiknya dihilangkan atau lebih divariasikan dengan sesuatu yang lebih berbobot. Tentu saja itu hanya pandangan subjektif saya, biar tambah asyik, mending nonton sendiri, hehehe. Kalo nda bisaki nonton di bioskop, sabar mi saja menunggu sampe filmnya beredar di laptop-laptop terdekat. . .

SEKILAS TENTANG FISIKA

Saat liburan semester kemarin, aku menyempatkan diri ke rumah tanteku. Aku kebetulan suka main ke sana karena anaknya_yang otomatis sepupuku_masih kecil, imut & lucu (kayak aku, tapi minus kecilnya, hehehe). Sesampainya di sana, dia langsung mendekat dan dengan polosnya berkata “Kakak Unha, cantiknya baju ta, kasi’ma. . .” Walah, anak ingusan ini tahu juga ya cara meminta yang baik dan benar. “Iya, nanti kalo besar meko, ambilmi” kataku kemudian. Tanteku pun tidak mau kalah, dia langsung berujar “Tenangmi Tri, na belikan ji itu nanti kalo kerjami Kakak Unha, mmmm tapi kalo lulus nanti apa itu kau kerja nak? Kalo jurusan A kan jelas jadi ttttiiiitttt, jurusan B juga jelas kerja di ttooottt”
Dengan muka bingung (nyaris blo’on), aku menjawab seadanya “Kalo jurusanku juga banyakji tante, bisa ji juga kerja di ttooottt, atau nambah kuliah 1 tahun dan jadi tttiiiitttt” sambil tersenyum (juga seadanya alias nyengir domba).
Bagi saudara seperjuanganku di jurusan yang sama, mungkin kata-kata di atas sudah tidak asing lagi mampir, bersarang, dan tumbuh berkembang di telinga (maaf, gak bermaksud jorok, cuma saking seringnya didengar). Atau mungkin kita sendiri yang sering mengucapkannya. Baiklah, saya tidak punya hak untuk menghakimi apapun pendapat anda tentang FISIKA, tapi saya hanya berniat (sumpah cuma niat, syukur2 kalo berubah) untuk meluruskan paradigma sebagian dari kita yang masih beranggapan seperti itu.
  
Seperti halnya dengan yang lain, kami pun agak jengkel (mencak-mencak maksudnya) jika ada yang meremehkan jurusan kami (baca:Fisika), karena setiap orang pasti memandang apa yang menjadi pilihannya atau yang sedang dijalaninya itulah yang terbaik, tidak terkecuali jurusan, baik yang ikhlas dipilih sendiri maupun pilihan orang lain. Dan itu benar, semua jurusan itu bagus (kalo gak bagus buat apa dijadikan jurusan coba), tergantung dari disiplin ilmu masing-masing. Misalnya bagian kesehatan, kalo gak ada dokter and partnernya, siapa yang mau nyuntik plus merawat kalo kita sakit, meracik obat dll. Kalo jurusan Arsitek gak ada, yang mau memperindah dunia ini dengan bangunan mewah siapa??? Jika jurusan Fisika ditiadakan, dosen-dosennya mau ke mana??? (Hehehe, yang ini bercanda). 
 
Coba deh, kita sempatkan waktu untuk berpikir sejenak. Tidak usah jauh-jauh, dalam kehidupan sehari-hari kita bisa amati fenomena fisika. Misalnya, mobil nih. Mobil didesain mudah penyok dengan tujuan memperbesar waktu sentuh pada saat tertabrak. Waktu sentuh yang lama menyebabkan gaya yang diterima mobil atau pengemudi lebih kecil dan diharapkan keselamatan pengemudi lebih terjamin. Pernah dengar sawah terasering? Itu lo yang berbentuk tangga dan tersusun secara rapi, sehingga air dapat mengalir dengan mudah ke daerah-daerah sawah yang kering. Kenapa dibuat begitu coba? Selain mempermudah kerja bagi petani, juga itu untuk mengurangi tingkat kecuraman tanah yang bermanfaat untuk mengurangi laju air (ingat!!! Air itu mengalir dari tempat tinggi ke rendah), mencegah mengalirnya pupuk dan unsur hara, dan mencegah erosi. Trus, di dunia medis, proses persalinan juga dibantu sama fisika loo. Jadi, gravitasi bumi akan menarik kepala bayi turun ke mulut rahim sehingga mempercepat proses persalinan. Begitupula saat dokter mau nyuntik kita nih, dia mengeluarkan cairan terlebih dahulu dari jarum suntik sebelum menyuntik kita, ini mencegah agar tidak ada udara di dalam jarum suntik, sehingga tidak terjadi gesekan antara udara dan pembuluh darah karena jika udara masuk ke pembuluh darah, beresiko terkena stroke. Dan masih banyak contoh lainnya (cari sendiri yaa!!). Selain itu, di universitas-universitas (fakultas eksakta), diwajibkan memprogram mata kuliah Fisika Dasar (plus Lab nya). Itu karena bidang ilmu mereka kebanyakan terapan, dan membutuhkan ilmu dasar untuk pendalaman teorinya. Kayak kue tart, bagaimanapun cantiknya, tetap butuh terigu sebagai bahan utamanya. Yang paling penting ini nih, dari 100 tokoh dunia yang paling berpengaruh, orang ke3 nya adalah Sir Issac Newton (yang 2 teratas itu Nabi), bapak Fisika yang paling berpengaruh dalam sejarah ilmu pengetahuan, penulis buku PhilosophiƦ Naturalis Principia Mathematica yang menjelaskan hukum gravitasi dan tiga asas (hukum) pergerakan, yang mengubah pandangan orang terhadap hukum fisika alam selama tiga abad ke depan dan menjadi dasar dari ilmu pengetahuan modern.
Dari beberapa fakta di atas, sepertinya & seharusnya kita tidak perlu mengemukakan pertanyaan seperti tante saya. Meskipun ilmu fisika itu luas & tak berbatas (kayak lagu ABG), tapi masih sangat banyak yang membutuhkannya, karena kami memang dicetak untuk jadi ilmuwan (Riset & Development), dan bukankah itu jauh lebih mulia? (ngutip kata bijaknya Khalifah Ali bin Abi Thalib Ra “keutamaan ilmu dibanding harta”). Tapi, tidak munafik juga kalo memang “life needs money”, tentunya karena hidup sekarang segalanya serba susah kalo gak punya duit, hehehe… Dan saya yakin, anda cukup cerdas menyimpulkan sendiri profesi yang tepat untuk anak fisika. Yang paling penting dari semua itu adalah bagaimana kita dapat bermanfaat untuk orang lain. Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, " Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain " (HR. Bukhari).

MOTIVASI S2 ITB

Keinginan melanjutkan S2 berasal dari diri saya sendiri, tentunya dengan dukungan keluarga. Keinginan ini sudah ada sebelum saya menamatkan pendidikan S1. Saya sadar bahwa manusia yang berkualitas sangat dibutuhkan bagi bangsa yang sedang berkembang ini dan meraih pendidikan yang setinggi-tingginya adalah salah satu faktor yang dapat menunjang kemajuan suatu bangsa. Oleh karena itu, saya sebagai salah satu bagian dari bangsa ini memiliki tanggung jawab untuk terlibat langsung dalam memajukan negara Indonesia melalui bidang ilmu saya yaitu Fisika (Riset dan Pengembangan). Meskipun sarana dan prasarana di Indonesia belum selengkap di luar negeri, khususnya di negara yang ilmu Sainsnya sudah maju, saya yakin bisa mengejar ketertinggalan dengan mendayagunakan segenap potensi dan sarana yang ada.
            Saya memilih bidang ilmu Fisika Material karena saya tertarik dengan bidang ilmu ini dan ingin melanjutkan riset S1 (skripsi) saya yang bertemakan material. Di Indonesia, masih jarang lulusan Fisika khususnya bidang Material dan saya ingin menemukan serta mengembangkan ilmu material dalam berbagai segi kehidupan. Dengan mengetahui material suatu bahan, hal itu dapat menjadi penentu dalam meminimalisasi dampak negative yang ditimbulkan. Misalnya, dalam bidang industri semen yang saat ini membutuhkan bahan ketiga berupa fly ash yang memiliki tingkat polusi yang masih tinggi. Dengan mensubstitusi fly ash dengan material sama tapi berdampak mengurangi polusi, maka hal itu dapat membantu dalam menjaga kelestarian lingkungan yang sudah semakin rusak oleh polusi.
            Harapan saya ke depan dengan melanjutkan pendidikan S2 adalah untuk meraih cita-cita sebagai tenaga pengajar (dosen) yang berkualitas dan mampu mendidik generasi penerus bangsa agar lebih baik dari hari ke hari. Dengan mendidik tunas bangsa, saya yakin kemajuan negara Indonesia akan semakin cepat, mengingat dari tangan-tangan merekalah nasib bangsa ditentukan. Selain itu, saya juga berminat menjadi seorang peneliti di bidang saya dan mampu mengembangkan penelitian tersebut di dunia pendidikan umumnya, dan di bidang ilmu Fisika khususnya.

KRITIKAN

Kemarin tuh ya ada satu peristiwa yang kayaknya perlu dipikirkan. Bukan saya sih yang terlibat di dalamnya, cuma jadi penikmat dan penonton, sekaligus ambil hikmahnya. Jadi gini, ketika lagi asyik-asyiknya duduk di ruang tamu kostku, terdengarlah suara ribut-ribut yang asalnya dari luar. Karena penasaran (kepo), akhirnya saya memberanikan diri menempelkan kuping di pintu dan melihat keluar. Apa yang terjadi? Nda ada piring pecah, sandal dilempar atau muka ditonjok. Hanya ada 2 orang yang lagi memperdebatkan suatu hal. Apa itu? Nanya mulu. Tapi baiklah karena kalian penasaran, saya akan memberi sedikit gambaran percakapan mereka. Anggap saja namanya Sisuka dan Sisayang (saya lebih suka pake nama ketimbang abjad A, B, sampe Z). Supaya lebih original, accent and language style nya pake yang asli. Yang nda ngerti, tanyakan pada teman terdekat. Kalo gak ada yang ngerti juga, baca aja dulu siapa tau ntar dapat pemahaman sendiri. Ok, here we go. . .
Sisuka        : Biarmi, kenapa kau yang mau pusing kah? Urusanku ini, biar itu bertemanki, nda berhakko atur-atur hidupku.
Sisayang     : Lah, saya kan cuma kasi tau, justru karena bertemannya ki’ na nda tegaka kalo dibilangiko begitu sama orang. Lagian, kan nda baek memang kalo cewek na jam 12 malam masih ada ki di kostnya cowok.
Sisuka            : Edd, urusannya orang mau bilang apa, nda pedulika’. Nda ngapa-ngapainja juga sama pacarku.
Sisayang          : Iya, tapi jelek di dengar, nanti didatangiki kostnya sama pak RT, bagaimanami…
Sisuka              : Aisss, tidak bakalan itu, kecuali kalo ada mulut ember kayak kau yang bocorkanki.
Dan blablablablablablablabla….
Cukup sampai di situ, saya sudah malas mendengarkan lanjutannya. Paling kayak sinetron Indonesia, endingnya mudah ditebak. Lagian nda baek curi-curi dengar pembicaraannya orang (yang tadi terlanjurmi).
Di dunia ini, banyak sekali peristiwa sejenis itu. Dikasi tau yang baik, diberi kritikan eh malah ngotot, balik ngata-ngatain, padahal kita kan maksudnya baik. Jadi gimana dong? Mau dibiarkan, nanti ikutan dosa. Dikasi saran, kritikan, atau apalah yang sifatnya perhatian, eh malah dimarahin balik plus dikata-katain pula, kepolah, GU lah. Yah, mungkin nda semuanya seperti itu. Okelah, mungkin hal-hal ini dapat membantu:
1.      Liat situasi. Kalo orang yang mau dikasi kritikan lagi dalam keadaan mood nda stabil (kentara kok dari mukanya yang terlipat), lebih baik jangan dulu deh. Soalnya dalam keadaan seperti ini, bukannya dapat ucapan terima kasih, dimarah-marahi balik sangat berpotensi besar, kayak peristiwa di atas.
2.      Tempatkan diri pada posisinya. Coba pikir deh kalo kita yang ada di posisinya dia, mungkin sudah terlalu banyak orang yang memberi kritikan, bahkan cenderung menyalahkan. Bisa saja dia cuma butuh didengar, bukan malah diceramahi.
3.      Tahu sifat aslinya. Ini yang paling penting. Ada orang yang bisa dikasi kritikan langsung, adapula yang mesti didekati dengan cara berbeda (nda suka digurui). Pendekatannya bisa dengan ngarang cerita yang similar dengan peristiwa yang terjadi (niatnya kan baik). Yah kreatif-kreatifnya kitalah. Meskipun dia teman kita, bukan berarti kita berhak secara gamblang menjudgenya.

MENGUNDURKAN DIRI

Bismillahirrahmanirrahim Hari ini, saya akan menyambung cerita tentang pengunduran diriku dari Ar-Rahmah. Jadi, awal Agustus itu sudah ada b...