Selasa, 05 Agustus 2014

Aku dan Kalian_Rizkyta Crew_

Pagi ini begitu hangat, sehangat kepalaku yang mulai dijejali kembali rumus masa lalu yang pernah hadir, dan harus kuhadirkan kembali demi masa depan yang lebih baik (iklan beettt). Baiklah, di hari Rabu yang selalu spesial, 6 Agustus 2014 ditemani segelas air putih dan sari roti cokelat, inspirasi menulis tiba-tiba muncul. Mungkin karena kemarin habis baca kata pengantar skripsinya Nana yang begitu sadis, sampe-sampe hampir air mata ini tumpah di depan publik. Tiba-tiba aku ingin membuat tulisan ini di detik-detik terakhir diriku di Makassar, meninggalkan kebersamaan kita di kost tercinta ini, meninggalkan malam-malam yang selalu ceria atau galau mengikuti alur hidup si empunya cerita. Galau karena skripsi, masa depan, dan tentu saja CINTA.

Di antara tumpukan buku mekanika, fismat, fisika zat padat merayap, dan embel-embel lain tentang Fisika, aku ingin menulis ini. Berjuta terima kasih untuk kalian yang ditakdirkan Tuhan untuk dekat denganku, manusia berbagai karakter unik, pelajaran tersendiri untukku, hidupku, dan masa depanku. Terima kasih sudah mau repot hadir di hari dan hatiku, sahabat sekaligus saudara buatku (edisi mewek). Buat tetangga terdekat, Jayen (Jayanti, si Sunda berdarah Batak), si misterius dan introvert di bulan-bulan awal aku mengenalnya. Si peri teknologi informasi dan komunikasi (anak Ilmu Komunikasi UNHAS kok), penolong pertama (selain Google) saat aku tersesat di lembah kegaptekan. Makasih Jayen, kau menyadarkanku bahwa dunia maya juga penting, apalagi di masa depan karierku kelak. Tapi jangan keseringan di sana yah, walau bagaimanapun dunia kita tetap disini, di tempat kita berpijak. Sehebat apapun kita di dunia maya, kita tetap gak ada apa-apanya tanpa aplikasi nyata di dunia nyata. Yah, karena manusia makhluk konkrit, bukan abstrak. In addition that, cepat-cepatlah kau selesaikan skripsimu, desain kebayanya aja sudah ada ;).

Lompat ke kamar no 1, Nana ajaib. Kombinasi manja, dewasa, galau, bijak, keras, dan beberapa sifat yang agak kontradiktif. Si motivator, penasehat, dan buku berjalan, my twin dalam proses dan pengalaman hidup. Meski beda usia 3 tahun, dia tetap bisa mengimbangiku. Semangat Nana, kita berjuang di tempat berbeda, tapi Alhamdulillah satu pulau. Biarlah cerita apapun tentang hidup tetap mengalir menjadi rangkaian kenangan, tetap berkreasi di sana, masa depan lebih keren menanti kita. Terima kasih juga karena darimu aku belajar banyak, mengenal Tuhan dan berbagai kejadian melalui pemahaman logika meski terbatas. Dan satu lagi, jangan pernah memanjakan perasaan, karena sekali dia mendapat ruang maka seperti gas dia akan menyebar dengan cepat, memenuhi segenap ruangan hati, bahkan bisa menembus tempat lain. Dan kau sudah tahu bahayanya. Kecuali, memang untuk seseorang yang dikirimkan Tuhan saat kau sudah siap.

Kakak Anni, bu dokter dan bu dosen. Nama ketiga yang amat sangat banyak membantuku. Kalo mereka berdua membantuku lebih ke hal abstrak, maka bu dokter membantuku di teknisnya. Mulai dari meminjam properti yang kubutuhkan, mengantar ke sana ke mari, sampai mentraktir ini itu. Terima kasih banyak kak, semoga tahun ini milikmu bersamanya, Allah melancarkan hingga jenjang selanjutnya. Aamiin. Terakhir, tetaplah berdiri menjadi Kakak Anni yang tangguh, meski banyak duri di luar sana, jika kau yakin itu yang terbaik maka pertahankanlah. Anggaplah mereka masih kurang memahami apa yang kita lakukan. Masih kurang dewasa untuk menyikapi, meski kita tetap harus terus belajar. Bagiku kau salah satu inspirasi dan kakak terbaik.

Dan, pada akhirnya kita harus berjuang di tempat berbeda, meski jarak dan waktu memisahkan kita untuk saat ini, tapi mereka jugalah yang pernah dan akan menjadi penyatu kita. Terima kasih atas semua kenangan indah itu, salah satu puzzle di episode hidupku. Maaf jika pernah terbersit kata tak pantas dan tingkah tak wajar dariku, itu karena aku menyayangi kalian. See you in the next part,,,

KARENA TAK ADA YANG KEBETULAN DAN SIA-SIA _Edisi Lanjut S2_


Rabu, 23 Juli 2014 (habis sholat magrib)
Hari deg-degan kesekian kalinya buatku. Bagaimana tidak, nasib S2 dan beasiswaku sedikit banyak ditentukan hari ini, pengumuman kelulusan Program Pascasarjana UGM. Tapi yah itu, mau tidak mau mesti dibuka. Bismillah saja. Akupun meraih handphone dan membuka situs web tempat pengumumanku. Engan tangan gemetar dan jantung yang nyaris copot, aku mengetikkan nomor pendaftaran dan tanggal lahirku di kolom yang sudah disediakan. Saking gemetarnya, CAPTHA yang aku ketikkan salah, huffftttt try again. Kecepatan jantung ini makin bertambah. Setengah menutup mata, aku mengintip layar handphone. Dan . . . Ya Allah, mungkin inilah jawaban atas sebagian besar pertanyaanku dari tahun lalu sampai hari ini. Mungkin ini yang dimaksud nasib, rejeki gak tertukar, jodoh pasti bertemu *eh. Mungkin ini garis takdir yang mesti kujalani 2 tahun ke depan, yah Alhamdulillah aku lulus. Tepat seperti perkiraan salah seorang temanku, Nana Listianah, tempat menumpahkan segala apa yang kurasakan.
Jadilah, universitas yang kusubmit di LPDP sebelumnya (ITB), harus diubah ke UGM. Tapi berhubung LPDP dan semua instansi libur sampai tanggal 3 Agustus, email perpindahan universitas yang akan kukirim ke LPDP ditunda dulu. Aku coba-coba buka website tentang UGM dan menemukan sebuah artikel yang mengatakan bahwa jurusanku, Fisika ada ujian matrikulasinya dan itu dilaksanakan sebelum masuk semester I. Jadwalnya pun gak ada di internet. Jadi, mesti siap-siap dari sekarang supaya gak ngulang, hehe. Mana ada 7 mata kuliah lagi, hhhmmmm anggap saja the next surprise, hehe...
Okelah, kita tinggalkan dululah sejenak tentang UGM, matrikulasi dan beasiswa LPDP. Kita mengarah ke hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari sini; ala-ala motivator cuuyyy. Saya rangkum dalam bentuk tanya-jawab saja yah, pertanyaan yang muncul dari hati dan pikiranku setahun lalu, okelah here we go...
-          Kenapa saya gak lulus ITB?
Karena insya Allah saya akan menjadi lebih baik dalam segala hal di UGM, buktinya Allah menunjukkan itu dengan predikat “lulus”, bukannya mau menjelek-jelekkan ITB, walau bagaimanapun aku pernah “mupeng” masuk ITB, tapi itu semata-mata dari personalku saja, tak ada maksud mengeneralkannya. Kan belum tentu sesuatu yang cocok bagi seseorang cocok juga bagi orang lain.
-          Apa sertifikat TOEFL dan TPA yang kuperjuangkan dari Kediri dan tes di ITB sia-sia?
Tentu saja tidak. Kedua sertifikat itulah yang kugunakan mendaftar di UGM. TOEFL malah memiliki peran di luar dugaanku, salah satu syarat administrasinya LPDP terpenuhi gara-gara “dia”, Alhamdulillah.
-          Kenapa lulus UGM nya baru sekarang bukan tahun lalu?
Haha, pertanyaan lumayan bodoh. Ya iyalah, karena daftar UGM nya juga baru tahun ini kan? Tambahan, karena Allah menakdirkan aku menikmati waktu satu tahun untuk mengkaji ilmu melalui pelajaran hidup yang diberikan. Ada banyak hal yang kudapat dalam masa setahun ini, mungkin abstrak, tak terlihat tapi bisa kurasakan. Insya Allah menuju arah yang lebih baik. Aamiin. Dan aku bersyukur untuk itu, pengalaman dan pelajaran itu bisa kudapatkan di usiaku yang relatif muda serta bisa membaginya baik dengan adik, seusia, maupun kakakku.
-          Kenapa mesti UGM?
Beberapa hari yang lalu, ada kabar gembira buatku dan mama. Mama yang awalnya khawatir mau ke mana aku pas sampai Jogja, mendapat jawaban indah dari Allah. Anak dari mantan kepala sekolahnya memiliki rumah di Jogja, dan beliau menawarkan aku untuk tinggal di sana. Alhamdulillah, dan ternyata beliau juga punya 2 anak yang kuliah di UGM, satu jurusan kedokteran (S1) dan satunya lagi jurusan Teknik Sipil (S2). Yang S2 bersamaan denganku masuk tahun ini.
Selain itu, sepertinya Allah ingin mengajarkanku menjadi wanita lembut nan ayu. Dari mereka aku tahu banyak budaya orang Jogja yang penuh sopan santun dan berbudaya. Aku juga lagi progress naik motor. Karena di Jogja, mobilitasnya susah jika mengandalkan kendaraan umum, makanya 2 hari ini motor adalah barang yang tiba-tiba akrab denganku.
-          Apa-apa pelajarannya?
Banyaklah, aku merasa lebih tenang dan lebih dekat kepada-Nya. Secara fisik, saya insya Allah dan Alhamdulillah ditakdirkan kuliah di UGM, ditakdirkan mendapat beasiswa LPDP, bukan yang lain. Dan saya yakin selalu ada kebaikan terhadap apapun yang ditakdirkan Allah. Melalui satu tahun itu juga, aku lebih dekat dengan orang-orang unik dan berbeda yang memberikan nuansa baru dalam hidupku.
Dan saya yakin akan ada kejutan lainnya siap menanti dan siap kujalani, insya Allah. Asalkan aku selalu berpikiran positif, berusaha, berdoa, sabar. Karena Allah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya.

PERCAYA


Bagaimana mungkin kita bisa menguatkan saat kita juga butuh dikuatkan
Bagaimana mungkin kita dituntut tersenyum saat mata tak sanggup menyembunyikan bulir
Bagaimana mungkin kita mampu menasehati ketika jiwa juga butuh dinasehati
Bagaimana mungkin kita dijadikan sandaran saat pundak lemah dan justru butuh topangan
Tapi ternyata jawabannya bisa
Yah, kita ternyata bisa menjadi me- saat keadaan menggiring kita mengalami di-
Kekuatan besar apa yang kita punya
Darimana asalnya
Siapa yang memberinya
Dialah sang pemberi hidup
Sang Maha Sempurna atas segalanya
Tempat segala penat dicurahkan
Tempat segala keluh dikesahkan
Tempat segala ketidakberdayaan ditumpahkan
Hanya satu yang kita butuhkan
Percaya
Percaya bahwa Dia tidak akan meninggalkan kita
Takkan membiarkan kita sendiri
Takkan memberi ujian di luar batas kemampuan
Takkan menyia-nyiakan segala percaya kita
Percaya bahwa saat kita berbagi
Saat kita memberi, justru saat kita pun butuh diberi
Kasih sayang-Nya berkali lipat
Memberi kekuatan lebih besar
Kekuatan yang tak pernah kita duga sebelumnya
Kekuatan yang akan menjadikan kita dan orang lain lebih baik

Senin, 07 Juli 2014

AKU MENJADI (EDISI BANTARGEBANG) WITH PK13 LPDP


Bantargebang. Sebuah daerah yang jika mendengar namanya maka yang terbayang adalah kotor, penyakit, pemulung, dan semua yang berhubungan dengan sampah. Memang, tak ada yang dapat menyalahkan persepsi itu, masing-masing punya pendapat, meski kita juga tidak adil jika hanya melihat satu sisi saja. Ada hal lain yang mesti kaji dari sana. Ada sisi berbeda yang harus kita ketahui dari sekadar pemahaman dangkal. Bersyukur. Ya, sebuah kata yang jarang diingat. Bersyukur karena Bantargebang menjadi tempat pembuangan sampah akhir bagi warga sekitarnya, bersyukur karena ada pemulung menjadikannya mata pencaharian, bersyukur karena kita masih diberi kesempatan untuk hidup berkecukupan, tanpa harus mengalami hal itu.
Bantargebang. Sebuah daerah yang menjadi destinasi kegiatan sosial LPDP di hari ke-7 Pelatihan Kepemimpinan Angkatan 13 (PK13). Jadilah, hari Jumat tanggal 20 Juni 2014 menjadi hari bersejarah bagi kami peserta PK13. Dengan 3 bus besar, 7 kelompok beriringan menuju Bantargebang. Sesampainya di sana, kami dibagi dalam 58 kelompok kecil, masing-masing beranggotakan 2 orang yang didampingi 1 pemulung. Tugas kami adalah terjun langsung menemani mereka bekerja selama 2 jam. Saya sendiri sekelompok dengan Mas Haris dan bapak Syarki. Bapak yang sederhana, murah senyum, dan sangat baik dalam kata dan tingkah.
Kami berdua diajak oleh Pak Syarki ke salah satu tempat pembuangan akhir sampah tersebut. Hal yang pertama kali saya rasakan adalah bau, jijik, dan ngeri (belatung di mana-mana). Tetapi, melalui percakapan akrab dan hangat di antara kami, pekerjaan pun lama-kelamaan menjadi lebih ringan dan terbiasa. Pak Syarki menginstruksikan bahwa kami harus mencari sampah plastik, karena semua pemulung ada jatah masing-masing. Tidak boleh mengambil barang yang bukan menjadi hak pembagian kita. Sebuah pelajaran berharga untuk calon pemimpin masa depan bangsa.
Sambil bekerja, kami bertanya mengenai kehidupan Pak Syarki. Beliau mengatakan bahwa pekerjaan ini sudah 7 tahun dilakoninya, pindah dari daerah asalnya Karawang bersama anak dan istrinya. Sebelumnya, beliau bekerja sebagai petani ikan bandeng. Tetapi karena penghasilannya yang kurang, beliau memutuskan pindah ke tempat ini. Anaknya 3, yang paling sulung adalah perempuan, sementara kuliah semester 2 dan sangat membanggakan orang tua. Dari SMP, anak itu mendapatkan beasiswa dari salah satu yayasan.  Dan itu berlaku hingga sekarang. Pak Syarki mengatakan bahwa tidak mungkin anaknya bisa kuliah jika mengharapkan biaya dari beliau. Penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Sampah plastik yang dikumpulkan oleh Pak Syarki disimpan kurang lebih 2 minggu agar padat. Setelah itu baru ditimbang dan dijual, harganya Rp. 40.000 per kwintal. Meski begitu, tak pernah sekalipun terdengar keluhan darinya. Saya memang sering mendengar dan melihat dari media, tapi dengan merasakan dan terjun langsung ke daerahnya serta melakoni kegiatan Pak Syarki, semakin menambah rasa syukur dan rendah hati.
Saya sempat menanyakan apakah ada puskesmas di daerah ini. Beliau mengatakan bahwa puskesmas jaraknya beberapa kilometer dari sini dan untuk sekali periksa, mereka harus merogoh kocek yang lumayan dalam. Kebetulan, selain tugas individu, ada pula tugas kelompok yaitu Social Creative Contribution dengan pilihan tema (untuk kelompokku) “Penyuluhan Dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis”. Pak Syarki sangat antusias mendengar hal tersebut. Satu lagi yang membuat saya kagum kepada bapak ini, beliau mengarahkan kami untuk mencuci tangan dan kaki yang kotor di rumahnya, meski air juga terbatas, bahkan merelakan sabunnya digunakan bersama. Dalam keadaan hidup susah, betapa banyak ladang amal yang ditanaminya. Pelajaran berharga lainnya untuk kami.
Beberapa gunungan sampah yang semakin lama semakin bertambah di Bantargebang, telah ditimbun tanah sehingga menciptakan bukit hijau. Masih banyak hal yang perlu dibenahi di sini, dan sebagai calon pemimpin bangsa, kami harus turut berkontribusi untuk membuat kehidupan warga Bantargebang menjadi lebih baik sesuai dengan bidang ilmu masing-masing dan tentu saja kerjasama berkelanjutan di antara kami, khususnya peserta PK13. Saya sendiri memiliki cita-cita untuk membuat pembangkit listrik tenaga sampah, semoga dapat terlaksana dengan bantuan moril dan materiil dari berbagai pihak. Untuk sekarang, fokus menuntut ilmu sebanyak-banyaknya dan menyelesaikan S2 dahulu.



Jumat, 27 Juni 2014

DARI SELEKSI HINGGA THE FIRST MEETING PK


Niat untuk mendaftar beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebenarnya sudah ada sejak tahun lalu, tahun 2013. Tetapi, berbagai kendala baik dari hal internal sampai pengaruh eksternal sukses membuatku melupakan cita-cita besar itu. Dari kekurang-PD-an sampai tercekik sendiri melihat nilai TOEFL yang dibutuhkan dan syarat lainnya. Ditambah lagi belum dapat LoA dari universitas tujuan. Dengan terpaksa, mimpi itu dikubur. Memasuki tahun 2014, niat dan semangat untuk melanjutkan pendidikan semakin menggebu. Dan aku sadar, harus ada pendukung baik dari segi moril maupun materiil. Tidak mungkin merepotkan orang tua kembali dengan biaya pascasarjana yang lumayan tinggi. Itu sudah menjadi janjiku dari dulu. Artinya, aku harus mengusahakan sendiri biayanya, salah satu solusinya adalah mengurus beasiswa. Dan kembali, LPDP menjadi pilihan. Alhamdulillah nilai TOEFL sudah 513, tinggal memacu semangat diri untuk menulis esai dan rencana studi plus mencari orang yang tepat untuk memberi surat rekomendasi. Pilihanku adalah Bu Nurlaela Rauf, dosen sekaligus pembimbing skripsiku. Karena belum mendapat LoA dari universitas tujuanku yaitu Institut Teknologi Bandung, maka pengurusan administrasi beasiswa LPDP kulakukan bersamaan dengan pengurusan kelengkapan berkas pascasarjanaku.
            Dengan bekal berkas yang dibutuhkan dan semangat meraih kehidupan serta masa depan yang lebih baik, kuberanikan diri mendaftar online di situs LPDP. Merupakan suatu keberuntungan karena tanpa sepengetahuanku, hari itu merupakan H-2 pendaftaran untuk batch Maret. Artinya, hampir saja proses seleksi berkasku dialihkan ke batch selanjutnya. Selama menanti pengumuman hasil seleksi administrasi, aku menjadi stalker grup facebook “Beasiswa LPDP”. Sore tepat tanggal 10 April 2014, penantian itu berakhir. Bagai menemukan oase, aku melihat namaku terpampang jelas di urutan ke-4 dari bawah (menurut abjad) untuk Program Magister Dalam Negeri. Jadilah sore itu merupakan salah satu momen terindah dalam hidupku, menjadi calon awardee LPDP. Tinggal menunggu undangan resmi jadwal wawancara dan Leaderless Group Discussion (LGD) dari LPDP via email.
            Dua hari kemudian, aku kaget membaca jadwal seleksi wawancara dan LGD untuk daerah Makassar dan Surabaya yaitu tanggal 15-16 April, dan belum ada email apapun dari LPDP. Aku pun mengonfirmasinya di grup facebook dan ternyata banyak yang bernasib sama denganku. Salah satu dari calon awardee memberikan solusi untuk mengirimkan email ke LPDP. Alhamdulillah, kurang dari 24 jam undangan untuk menghadiri seleksi wawancara dan LGD pun tiba. Pada hari yang ditentukan, bertempat di Gedung Phinisi Universitas Negeri Makassar, aku memaksimalkan seluruh kemampuan yang kumiliki di meja interviewer dan meja bundar LGD. Keluasan pengetahuan akademik dan ujian mental merupakan hal yang ditekankan. Pertanyaan-pertanyaan interviewer kujawab dengan tenang, hingga interviewer ke-3 menanyakan sepak terjang organisasiku di kampus. Mulai dari proses hingga hasil pengkaderan mahasiswa baru. Meski agak keras, apa yang dinyatakannya kuakui benar adanya. Aku hanya tersenyum dan mengatakan bahwa segala sesuatu memiliki kekurangan dan masih butuh penyempurnaan. Di ruang LGD, saya dan 3 teman lainnya masing-masing diberi sebuah artikel dengan tema yang sama “Pro dan Kontra Kurikulum 2013”. Kami diberi kesempatan 10 menit untuk membaca dan menyimpulkan, 35 menit berikutnya digunakan untuk diskusi. Pengalaman tak kalah mengharukan pun kualami. Artikel tersebut ternyata bolak-balik dan aku baru menyadarinya di detik-detik terakhir. Alhasil, aku hanya membaca bagian belakang artikel. Dengan modal percaya diri, diskusi berlanjut. Aku pun berhak bernapas lega ketika kedua seleksi itu berhasil kulewati.
            Kurang lebih dua minggu kemudian, penetapan hasil seleksi wawancara dan LGD pun keluar. Dan takdir lulus pun berpihak kembali kepadaku. Artinya, tinggal satu tahap menuju awardee LPDP, Pelatihan Kepemimpinan (PK). Menurut hipotesis awalku, bagian ini akan sangat berkesan. Setelah dilakukan voting usulan tanggal dan bulan PK, namaku masuk ke dalam jajaran peserta PK angkatan 13 (PK13) yang akan diadakan di Wisma Hijau 15-21 Juni 2014. Dimulailah hari-hari sibuk menjelang PK (pra-PK). Kami dibagi dalam beberapa kelompok dan harus berkoordinasi melalui mailing list. Tugas I adalah pemilihan ketua angkatan pra-PK. Melalui musyawarah dan voting, dari 3 kandidat, terpilihlah Amry Fitra tapi belum disahkan oleh pihak LPDP. Sebelum Amry fix menjadi ketua, pihak LPDP memanggil perwakilan dari PK13 untuk menghadap ke kantor LPDP di Jakarta. Ada kekeliruan dalam tugas I kami. Karena Amry saat itu posisinya di Malang dan dikhawatirkan tidak dapat menghadap tepat waktu, maka teman yang berdomosili di Jakarta, Rendy Dalimunthe siap menggantikan Amry. Ternyata, ketua kami ini sangat bertanggung jawab, dia berangkat ke Jakarta saat itu juga dan mendapat apresiasi luar biasa dari Pak Kamil, PIC LPDP, yaitu dijemput di bandara.
            Setelah tugas I beres, menyusullah tugas-tugas berikutnya yang meskipun tidak terlalu susah, tapi deadline yang sempit membuat kami ketar-ketir. Bahkan, cobaan berikutnya adalah sebelum satu tugas selesai, tugas lainnya menyusul bak aliran air. Disinilah koordinasi dan kekompakan kelompok dibutuhkan. Kelompok awal dirombak dan terbentuklah 7 kelompok resmi dari LPDP dengan nama-nama pahlawan. Saya sendiri tergabung dalam kelompok 7, Halim Perdanakusuma. Kelompok yang kelak akan menjadi maskot PK 13, kelompok yang muda, berani, dan tangguh, kelompok ter-PD yang pernah ada. Dan saya bangga menjadi bagian mereka. Hari-hari baruku diisi oleh kumpulan tugas dan keceriaan mereka. Meski belum pernah bertemu, tapi kami merasa sudah saling mengenal sejak lama. Raga tak bertemu, tapi jiwa senantiasa terpaut. Setelah berkutat dengan tugas selama 2 minggu, hari yang dinantikan pun tiba, hari keberangkatan kami ke Wisma Hijau, hari yang merupakan start point kami menjadi calon pemimpin masa depan Indonesia.
            Pukul 17.32 di tanggal 14 Juni 2014, aku bersama 2 orang lainnya sampai di Bandara Soekarno-Hatta setelah menempuh perjalanan ±2 jam dari Makassar. Sempat bingung juga mau nginap di mana, meski ada beberapa pilihan. Tapi, jarak dan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Wisma Hijau hari Ahad pukul 08.00 menjadi pertimbangan. Akhirnya, kami memutuskan menuju hotel tempat menginap salah seorang peserta PK 13 juga. Sebelumnya kami sudah saling kenal saat wawancara di Makassar. Esoknya, kami dijemput oleh teman PK 13 menuju Wisma Hijau. Meski sempat nyasar, kami akhirnya sampai juga di TKP. Dan perkenalan pun dimulai. Aku langsung bergabung dengan teman kelompokku dan teman-teman yang lain. Aktivitas baru pun dimulai. Banyak kejadian lucu dan mengharukan di sana, semuanya akan terangkum di ceritaku selanjutnya.

Senin, 02 Juni 2014

SYUKUR PART 2

Ditulis pada tanggal 01062014

"Baru na senggol angin, flumi seng. Hahaha". Kalimat yang sering kuucapkan (disertai tawa) kepada 2 temanku yang antibodinya sangat lemah menghadapi musim pancaroba.Mereka tak marah, bahkan ikutan ngakak. Dan sungguh, kalimat yang kuciptakan sendiri itu tak lucu lagi ketika aku di posisi mereka. Flu, demam, batuk. 3 kombinasi sakit yang bagi sebagian orang yang tak "menikmatinya" terdengar ringan, tapi tidak bagi yang mengalaminya, hehe selalu begitu. Salah satu nikmat Allah yang seringkali diabaikan, tak disyukuri, tapi baru terasa jika sementara waktu dicabut sama Allah, kesehatan. Nikmat yang diberikan selain keimanan dan kesempatan.

Belakangan ini, daya tahan tubuhku menurun. Nda bisa disalahkan juga sih, karena memang cuaca lagi galau, pancaroba nda selesai-selesai hehe.... Dan bukan hanya saya yang mengalaminya, beberapa teman juga dapat "jatah". Tapi kali ini, saya mencoba untuk melihatnya dari sisi lain, bukan dari segi medis. Pertanyaan dasarnya, ini cobaan atau teguran Allah buatku? Wallahu A'lam. Jika memang ini cobaan, bisalah saya tenang. Manusia kan takkan pernah lepas dari yang namanya cobaan. Dalam Al-Qur'an pun Allah sudah tegaskan "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan : ‘ Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesunggunya KAMI  telah menguji orang2 yang sebelum mereka, maka sesungguhnya ALLAH mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya DIA mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Qur’an, Surah Al – Ankabuut (29), ayat 2-3).

Selain itu, dalam sebuah hadits Rasulullah SAW, “Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya. Allah memerintahkan :
1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
2. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya
3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.
4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.

Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba.
Namun untuk malaikat ke 4 , Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba mukmin. Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata : “Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan?”
Allah menjawab: “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.”
Masya Allah, sabar dan ikhlas kita takkan disia-siakan dan akan diganjar pahala berkali lipat.

Tapi, jika ternyata ini teguran? Maka perlu ada introspeksi dan perbaikan diri. Mungkin selama ini ada hati-hati yang terluka karena ucapan maupun perbuatan yang disengaja ataupun tidak, atau hubungan vertikal dengan Allah yang bermasalah, ada peringatan agama yang dilanggar. Bisa juga karena kurang bersyukur dengan nikmat sehat itu sendiri. Wallahu A'lam.

Apapun itu, cobaan ataupun teguran instrospeksi diri tetap harus dilakukan.

HATI

Ditulis pada tanggal 17052014 (sekedar catatan basa-basi yang semoga nda basi)

Pagi menyapa, seperti biasa tiba-tiba muncul inspirasi untuk nulis. Kali ini tentang hati.
Yah, hati. Salah satu organ vital makhluk hidup, termasuk manusia. Secara fisik, fungsinya banyak sekali (cek deh buku Biologi). Tak terkecuali dalam agama, hati memegang peranan yang tak bisa dianggap sepele. buktinya, dia menjadi salah satu isi hadits Nabi SAW "Sesungguhnya dalam diri manusia itu ada segumpal daging. Jika daging itu baik, maka baiklah seluruh anggota badannya tetapi seandainya daging itu rusak dan kotor, maka kotor dan rusaklah seluruh anggota badannya. Daging yang dimaksudkan ini adalah hati." (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim). Saking pentingnya hati, dia dapat berpengaruh pada akhlak si empunya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kosakata hati pun paling sering digunakan dibandingkan organ lainnya:
1. Dalam masalah hijab, jika seseorang ditanya mengapa belum mengenakannya, seringkali jawaban yang keluar dari mulutnya yaitu "jilbabin hati dulu".
2. Dalam perbuatan, jika ditanya mengapa melakukan itu, kadang jawabannya yaitu "ikutin kata hati".
3. Dalam hal putus cinta, frase penggantinya adalah "patah hati"
4. Ada satu "alarm" yang dititipkan Allah kepada manusia, yaitu "hati nurani"
5. Frase pengganti jatuh cinta yaitu "jatuh hati"
6. Jika mau berangkat ke suatu tempat, pesannya "hati-hati di jalan".
dan kayaknya masih banyak yang lain deh, hehehe...

Maka sebagai penutup dari tulisan agak, mungkin, dan cenderung ngaco ini adalah jaga dia, jagalah hati kita (kalo ini pesannya Aa Gym). Jangan pernah biarkan ada setitik noda yang menutupinya dan menjadikannya penyakit hati. Baik secara fisik maupun tersirat. Karena sekali dia ternoda, maka perlu usaha keras untuk membersihkannya kembali.

MENGUNDURKAN DIRI

Bismillahirrahmanirrahim Hari ini, saya akan menyambung cerita tentang pengunduran diriku dari Ar-Rahmah. Jadi, awal Agustus itu sudah ada b...