Kamis, 30 Mei 2013

Edisi Pare, Kampung Inggris Penuh Pesona


Sabtu, 05 Januari 2013. Hari ini awal petualangan pencapaian cita-citaku yang selanjutnya setelah bebas (lulus.red) kuliah di UNHAS bulan 12 kemarin. Sebelum lulus, saya memang sudah berencana akan lanjut S2, insya Allah. Dan inilah langkah pertama, menaikkan nilai TOEFL, salah satu syarat mutlak masuk universitas impian, ITB Bandung. Saya berangkat bersama seorang teman yang kebetulan bersamaan lulus kuliahnya. Setelah pamitan dan urus ini itu di bandara, tibalah saat keberangkatan itu. Keberangkatan yang akan memisahkan jarak antara saya dan orang-orang yang amat sangat saya cintai, entah berapa lama, widddiiihhhh lebay…

Singkat kata singkat cerita, sampailah kami di Pare, kampung Inggris yang penuh pesona, tempatku beberapa bulan akan belajar dan meningkatkan nilai TOEFL ku. One of the famous places in Indonesia, little city for our big dreams. Kami sampai kira-kira pukul 9 WIB, dan disambut ramah oleh ibu kost yang sebelumnya memang sudah ditelfon dan membooking  salah satu kamar kostnya. Awalnya sih risih juga sama keadaan sekitar, baik dari segi makanan, bahasa, maupun penyesuaian sikap. Malahan, minggu pertama saya sakit-sakitan (kebiasaan burukku kalo datang di tempat yang baru). Dua minggu pertama, kami ambil 3 program di tempat berbeda, Speak Up I (Mr. Bob), Pronounciation (The Eminence), dan Vocabulary (Webster). Kalo diliat secara langsung, mungkin ada yang bilang gak ada hubungannya sama TOEFL, mestinya kan ambil grammar. Tapi, memang kami sengaja, intinya mau pemanasan dulu, nanti kaget lagi kalo langsung dihantam sama grammar yang gak main-main, hehehe. . .

Di kelas Speak Up I, kami belajar percaya diri, speak English meski masih terbata-bata dan campur sama bahasa Indonesia. Sedangkan perbendaharaan kata-kata dalam bahasa Inggris kami didapat di kelas Vocabulary. Cara pengucapan bahasa Inggris yang baik dan benar dalam aksen British and American English dipelajari di kelas Pronounciation. Asik belajarnya dan teachernya keren, very fun. Waktu pertemuannya juga intens tiap hari dari Senin sampe Jumat. Nda terasa sudah 2 minggu berlalu, dan saatnya ambil program lain. Di sesi ini, saya sama teman sepakat pisah program, saya ambil grammar di ELFAST yaitu Basic Program I dan Basic Program II, modal nekat saja mengambil dua-duanya dalam satu periode secara bersamaan. Keduanya program bulanan (1 bulan) dan total ada 5 kali pertemuan sehari. Awalnya sempat ragu, bisa tidak yah menjalaninya. Tapi demi mengefisiensi waktu, akhirnya BISMILLAH saja, insya Allah bisa. Sedangkan temanku tetap melanjutkan kursusannya di ketiga tempat itu.

Sebelum saya ceritakan tentang program ini, ada baiknya saya juga menceritakan sisi lain tentang Pare, Kediri. Karena selain ilmu bahasa Inggrisnya, yang membuat kita tertarik di tempat ini adalah tujuan wisata, kuliner, dan warga sekitar. Tujuan wisata nanti saya ceritakan di tulisan berikutnya (kebetulan cuma 2 tempat di luar Pare yang sempat saya kunjungi). Tentang kuliner, ada banyak tempat yang bisa menjadi pilihan, dan semuanya bisa dijangkau dengan menggunakan kendaraan pribadi kami, sepeda hahaha. Yah, itulah salah satu hal menyenangkan di sini, mau ke mana-mana gak perlu risau, soalnya ada sepeda yang siap menemani selalu. Ada yang namanya ketan, di sini itu tempat wajibnya orang datang kalo ke Pare, bahkan ada yang bilang belum ke Pare kalo belum mengunjungi ketan. Kenapa? Karena di tempat ini kita disuguhi pemandangan sekaligus tempat makan tradisional di tengah sawah, yang ditanami ketan. Sesuai namanya, makanannya yah ketan, beras pulut kalo kata orang di kampungku. Pada prinsipnya, penyajiannnya sama saja dengan di daerahku, yaitu ketan yang disajikan bersama dengan parutan kelapa, tapi yang membuatnya berbeda adalah ada bahan campuran lain, yaitu bubuk kedelai atau susu. Bisa pilih salah satunya atau dua-duanya. Bagi lidah bugis sepertiku, awal mendengar makanan itu, pastilah agak eneg. Kok bisa makanan gurih dicampur yang manis dengan semena-mena gitu, apalagi saya nda suka susu, biasanya kan campuran tambahannya itu ikan teri. Tapi itulah makanan khas daerah sini, yang wajib dicoba dan sayang untuk dilewatkan (sebagai referensi saja). Sesuai dugaan sebelumnya, saya agak eneg setelah makan, meski porsinya sedikit, itupun yang saya pesan bubuk kedelai, bagaimana jadinya kalo susu, hehe. Akhirnya, saat ke sana lagi, saya cuma pesan ketan, nda pake apa-apa (lidahku keras kepala sih, hahaha).

Selain ketan, ada banyak tempat makanan di sini, rata-rata menyajikan masakan khas jawa timur, nasi pecel. Ada wisata jamur, pak gendut, bu siti, bu tin, singgahan, wakapo,dll. Kalo weekend juga kami sering bersepeda ke alun-alun (taman kota), yang rata-rata terdapat di kota-kota di Jawa. Di sana juga ada banyak kuliner. Dan uniknya, makanan di sana murah dan enak, makanya habis dari sana , berat badan statistiknya ke arah atas, hehehe. Selain alun-alun, ada tempat yang namanya Surowono, yang juga bisa dijangkau dengan bersepeda. Di tempat itu ada kolam renangnya, goa, dan candi Surowono. Masyarakatnya pun religius, jadi ibadah di sini, Alhamdulillah lancar. Masalah keramahan, nda perlu dipertanyakan. Tutur kata dan kelembutan suaranya khas Jawa banget. makanya, one packaging inilah yang membuat Pare dirindukan selalu.

Kembali kea lam, eh maksudnya ke program. Namanya juga grammar yah, banyakan mencatatnya. Jadi selama sebulan, yang dikerjakan hanya ketemu grammar tiap hari. Agak menyeramkan juga sih, sampai-sampai ada istilah yang berkembang di masyarakat ELFAST, muntaber (mundur tanpa berita). Dan hasil kenekatanku mengkombinasikan keduanya juga salah satu alasan yang bisa bikin mundur. Mestinya kan ambil BP1 dulu di bulan pertama, baru lanjut BP2, karena ini program kontinu. Kalo istilahnya teacherku, sudah maju mundur lagi, abis itu maju lagi, hahaha. Kayak film komedi dong yah, haha. Tapi menurutku, meski grammar di mana-mana isinya sama sajjah, yang ini pelajarannya asik kok, mungkin karena teachernya yang cerdas membawakannya dan juga lingkungannya yang kondusif untuk belajar kali yah. Ditambah lagi kalo ingat tujuan ke sini, kita nda bakalan berani muntaber deh, hehe. Di akhir bulan, ada ujian untuk kedua program itu, 3 ujian untuk BP1 dan 2 untuk BP2 untuk dapat sertifikat. Konon katanya, ujiannya susah parah, haha. Iya, bahkan ada yang bilang hanya orang-orang tangguh yang dapat sertifikat dari ELFAST. Faktanya, ada beberapa orang yang ujian puluhan kali sampe lulus. Benar-benar manusia tangguh, , , Kalo aku sendiri, ujian di BP1 nya lulus, hanya saja nda sempat ambil sertifikat. Sedangkan di BP2, ujian kedunya belum lulus-lulus. Semuanya dilakukan tidak hanya satu kali (kecuali ujian I), tapi berkali-kali, haha. Andai masih di Pare, saya kan ujian terus sampe lulus, tapi harus ke Bandung jadinya nda sempat urus sertifikat.

Setelah program di ELFAST, selanjutnya mau ambil program TOEFL lagi. Maunya sih di ELFAST lagi, tapi sayang dia buka cuma untuk satu periode tiap bulan dan bukan tanggal 25, tapi yang tanggal 10 ( sekedar info, di Pare ada 2 periode tiap bulan, tanggal 10 dan 25). Berdasarkan saran dari FO nya yang di ELFAST, saya ambil TOEFL di LOGICO, ownernya sama dengan ELFAST. Programnya 2 mingguan, ada 5 kelas sehari, terdiri dari listening, structure, and reading. Karena sudah ada dasar grammar, di structure nda terlalu susah, hanya trik dalam mengerjakan soal dan ketelitian menerka itu soal jenis apa yang harus dipelajari. Pelajarannya juga nda seuniversal di grammar sebelumnya, mungkin cuma 30 % dari situlah yang diambil, tapi detailnya itu loh yang mesti dibiasakan pengenalannya. Sedangkan untuk listening yang saya memang lemah di bagian TOEFL yang ini, yah untung-untungan, haha. Kalo readingnya, trik membaca soal cepat dan menentukan gagasan utamanya yang diasah.

Di LOGICO ini, ada sisi lainnya juga loh, yaitu tentang persahabatan. Iya, meski hanya bersama selama 2 minggu, teman-taman di sana harus kuakui lebih dekat dibanding dengan yang di program sebelumnya. Di sini jugalah saya dan teman-teman liburan bersama. Ada Fitri, Mbak Nova, Lupita (nama sebenarnya Nanun), Ii, Muthia, Yuni, Mbak Dina, Eti, dll. Gak tau kenapa, tapi rasanya dekat banget sama mereka. Apalagi sam Fitri, Lupita dan Mbak Nova. Untuk sesi liburannya, nanti diceritakan di next story Edisi Bromo dan Edisi Pantai Gondo Mayit Blitar yang Menawan yah. . .

Karena banyak yang nanya detail biaya untuk sampai di sana, saya hanya ingin bilang nda banyak kok, dibandingkan dengan pengalaman dan ilmu yang didapat. Untuk rinciannya susah ngitungnya soalnya ada banyak tempat kursus dan berbagai jenis program yang bisa diikuti. Satu bulan cukuplah 1,5 juta termasuk biaya kost dan sepeda. Belum masuk belanja yang lain, hehehe.

Sebagai bahan  referensi aja nih, check this gallery
Candi Surowono


Salah satu sisi Pare
Alun-alun Pare

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JURNAL 11 BULAN CAWA

Bismillahirrahmanirrahim Sabtu, 31 Agustus 24: Sekitar pukul setengah 9 malam, Cawa tidur setelah meminum susu dari botol susunya. Tapi, sek...