Senin, 23 Maret 2015

Tentang Amanah Itu

Hari ini aku belajar banyak
Bahwa amanah itu bukan tentang pantas atau tidaknya kita
Bukan tentang kita lebih baik dari yang lain
Bukan pula tentang penilaian manusia terhadap kita

Amanah itu titipan
Langsung dari sang Empunya
Tidak boleh diminta, pun tidak etis ditolak
Kita terpilih karena memang seharusnya kita yang di sini
Yang baik dan terbaik menurut kita, belum tentu baik dan terbaik pula menurut-Nya

Yang mesti kita lakukan sekarang adalah memantaskan diri untuk amanah baru
Memperbaiki apa yang selama ini masih belum baik
Karena memang amanah berat
Tapi lebih berat lagi jika kita tak punya amanah

Minggu, 25 Januari 2015

KARENA BANYAK CARA MENUNJUKKAN CINTA

Mama, Papa
Bukannya aku tidak merindukan kalian,
Bukan pula aku sudah terlalu nyaman di kota orang,
Jika ingin kukatakan, hasratku sama dengan kalian
Ingun berjumpa melepas rindu, merebahkan kepala di pangkuan mama
Melepaskan semua cerita perjalanan bersama papa
Kadang akur kadang tak bisa diatur dengan adik
Mendengar celotehan sayang nenek
            Tapi Ma, Pa
            Anakmu sekarang sudah punya tanggung jawab lain
            Tanggung jawab yang lebih besar dari sekedar kuliah
            Tanggung jawab bagi agama kita, bagi bangsa kita, dan bagi kita
            Aku melakukannya bukan untuk menomorduakan kalian
            Justru aku berharap bisa menjadikan kalian lebih utama
            Di sini dan di sana
Aku akan pulang, tentu saja
Di tempat pertama kakiku berpijak
Di tanah pengabdianku kelak
Maka, biarkan kurengkuh sebanyak mungkin bekalku di sini
            Ma, Pa, raga kita memang terpisah,
            Tapi jiwa kita disatukan dalam doa
Bercengkeramalah Dengannya, pun aku
Maka tanpa kita sadari, jarak kita sangat dekat

DEMI WAKTU

Pernahkah kita menyadari bahwa waktu yang kita miliki ini akan berakhir?
Akan ada masa di mana waktu yang menjadi jatah kita telah genap dijalani
Dan masa itu takkan bisa ditunda, sedetikpun
Ada saat di mana kita akan istrahat dari pekatnya dunia
Dari lelahnya perjalanan
Dan ini tak sama ketika kita tidur di malam hari, kemudian dengan entengnya bangun di pagi hari
Ini semacam tidur, dan ketika kita bangun, tau-tau sudah dikumpulkan di suatu tempat
Tempat yang tak ada naungan sesuatupun kecuali bagi orang-orang yang dipilih-Nya
Sebelumnya, tubuh yang perkasa atau anggun ini akan berteman dengan tanah
Tempat yang bisa saja terang dan lapang
Atau bahkan sempit dan gelap
Dan yang menjadi penentu adalah waktu-waktu kita dunia
Telahkah kita menggunakan waktu ini untuk beribadah pada-Nya? (Q.S An-Naas)
Waktu, yang tidak kita sadari berlalu tanpa perduli apapun yang dilakukan penghuni bumi
Waktu, yang setiap hari tunduk pada aturan Tuhan-Nya
Waktu, yang saking pentingnya, Allah menyebut dalam satu firman-Nya
Waktu, yang bisa menjadi pedang, bisa membantu dan mampu melukai
Waktu, yang sering kita habiskan untuk sesuatu yang berbau dunia dan sementara
Waktu, yang dengannya kita akan diminta pertanggungjawaban

Barangsiapa yang mengingat Allah di waktu luangnya, maka Allah akan mengingatnya di waktu sempitnya


Diriwayatkan oleh Al Hakiem dan Al Tirmidzi “Dari Abi Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda “Siapa yang ingin Allah kabulkan permintaanya di waktu sempit, maka perbanyaklah berdoa di waktu lapang”

Senin, 12 Januari 2015

JILBABKU IDENTITASKU

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S 33:59)

Betapa dijaga dan dihormatinya kaum wanita dalam Islam, segala perintah yang diturunkan semata-mata agar kita terlindungi dari fitnah dunia. Islam adalah agama preventif, bukankah mencegah memang lebih baik daripada megobati? Di Al-Quran jelas sekali bahwa jilbab itu wajib, bagi orang-orang mukmin. Sama dengan sholat, puasa, haji, zakat. Tapi mengapa masih banyak yang mengabaikan bahkan menganggapnya hanya hiasan? Hanya properti yang dikenakan jika sudah siap? Padahal itu identitas kita, itu perintah eksplisit dari Rabb kita.

Senada dengan keadaan tersebut, baru-baru ini kita dikejutkan dengan aturan jilbab untuk pegawai BUMN. Bagaimana tidak, jilbab yang seharusnya menutup seluruh tubuh, justru hanya dibolehkan sampai leher. Na’udzubillahi mindzalik. Bagi yang lebih mementingkan dunia, maka peraturan ini tidak masalah, toh tetap pakai jilbab. Tapi bagi saudara-saudara yang paham akan hakikat jilbab, maka aku yakin mereka punya pilihan yang lebih baik. Bagaimana mungkin perintah Allah dipertaruhkan dan dilanggar hanya untuk kepentingan dan nafsu duniawi segelintir orang? Yang herannya mereka juga beragama Islam, di negara yang mayoritas muslim pula. Benarlah kata seorang penceramah, di Indonesia Islam banyak secara struktural, tapi secara fungsional, seolah-olah ajaran itu asing bagi pemeluknya sendiri.
Apa yang salah dengan jilbab kami? Pernahkah jilbab kami mengganggu pekerjaan kami? Pernahkah jilbab kami merugikan orang lain? Apa yang salah dengan salah satu bentuk ketaatan kami pada Rabb yang menciptakan kami?

Ya Allah lindungi kami yang bercita-cita membangkitkan kembali zaman keemasan Islam dan menjadi bagian di dalamnya, beri kami kekuatan, sadarkan saudara sesama Muslim kami, tanpa ukhuwah, kita tak ada apa-apanya, ukhuwah yang dibangun oleh akidah. Aku rindu ya Allah di zaman Rasulullah, para khalifah, saat Islam dan Ilmu pengetahuan seiring sejalan, saat hampir semua negara berkiblat ke Islam. Dan aku tahu itu tak mudah, karena mengembalikannya berarti mengembalikan umat-Mu dekat dengan Al-Qur’an dan As-sunnah. Dua wasiat keselamatan dari Rasul-Mu. Tapi dengan kekuatan dari-Mu, tidak ada yang tidak mungkin.

PULPEN DARI JEPANG

Kalian pernah mengalami hal yang kurang menyenangkan dalam hal “rebutan” ole-ole dari seseorang? Kalau iya, kita sama. Beberapa waktu lalu, aku mengalaminya, tetapi baru tersadar akan hikmahnya berkat kejadian kemarin. Kejadian kecil yang mungkin bagi sebagian orang tidak penting atau tidak diperhitungkan sebagai bagian dari salah satu pelajaran hidup.

Yup, kembali ke ole-ole. Lupa tepatnya, tapi beberapa waktu di lab jurusan, salah satu dosen kami masuk ruang diskusi lab tempat kami belajar bersama, meminta kami untuk tinggal sampai sorean, katanya ada tamu dari salah satu universitas di Jepang dan meminta kami menyambutnya. Kami (pastilah) nurut, dan melanjutkan diskusi. Setelah menunggu, dosen kami datang kembali, tapi kali ini dengan beberapa barang di tangannya. Beliau mengatakan, tamunya sudah pulang, buru-buru atau ada keperluan lain apa yah, aku juga lupa tepatnya. Tapi, barang-barang yang ada di tangan beliau yang terdiri dari pulpen dan map kemudian diletakkan di meja, ole-ole dari Jepang buat kami. Seketika itu teman-teman “rebutan” mengambil map, dan yang belakangan “cuma” dapat pulpen, termasuk aku. Teman yang dapat map bahagia sekali, cantik memang mapnya kuakui, warna favoritku lagi. Sempat menyesal juga kenapa tadi tidak ikut “rebutan”. Tapi yah, Alhamdulillah itu kan rejeki.

Nah, Allah seolah ingin memberikan jawaban kenapa aku dapatnya pulpen bukan map di UAS ku kemarin. Sedang asyik-asyiknya mengerjakan soal ujian, pulpenku macet, padahal menurutku pulpen itu baru aku pake, tintanya pun masih lebih dari setengah. Kuutak-atik tempat pensilku, hanya ada pulpen warna di sana, tumben hari itu aku tidak membawa pulpen cadangan. Aku berusaha mencoret-coret pulpenku, siapa tau macet sementara saja, tapi setelah kuperiksa ternyata tintanya “menipu” kelihatannya saja penuh tapi ternyata memang sudah habis. Seolah-olah penuh karena tinta sisanya nempel di dinding pulpen. Dengan terpaksa, aku tanya teman yang duduk di sebelahku, ternyata dia hanya memiliki 1 pulpen, teman yang di belakang pun seperti itu, hanya pulpen warna cadangannya. Di tengah kegalauan itu, aku teringat pulpen dari Jepang itu. Aku pun membuka kembali tempat pensilku dan Alhamdulillah dapat. Akhirnya aku pun mengerjakan sisa soal yang ada.

Ternyata memang apa yang diberikan Allah, itulah yang tepat untuk kita. Tidak perlu iri dengan punya orang lain, karena belum tentu itu yang kita butuhkan. Bersyukur dan sabar. Rumput tetangga lebih hijau, karena kita melihatnya dari jauh, dari sudut pandang berbeda. Selimut tetangga lebih hangat, karena rumah kita sudah cukup hangat. Kita tidak memerlukan selimut itu.

Senin, 08 September 2014

DISKRIMINASI, MASIHKAH DIBUTUHKAN?

10072014

Bapakku lagi ikut pelatihan, tapi karena beliau sakit saya ikut mendampingi. Kebetulan lagi bulan Ramadhan, jadi makannya cuma 2 waktu, sahur dan berbuka. Sebagai pendamping, saya juga ikut menikmati konsumsi dari dapur untuk peserta. Meskipun agak kurang enak juga, karena semua peserta membayar rata dan saya menikmati makanan yang sama dengan mereka, harusnya kan bayar double  yah atau makan di luar. Tapi karena peserta sendiri yang meminta saya untuk makan bersama mereka, saya pun ikut. Lagian juga saya paling 2 malam di sini, dari total 4 malam kegiatan. Karena di sini tak seperti di hotel yang selalu dihitung per kepala per keadaan.

Bukannya mau menjelek-jelekkan atau tidak bersyukur, tapi menurut saya peserta harusnya mendapatkan nutrisi yang cukup untuk kegiatan pelatihan mereka, apalagi di bulan puasa seperti ini dan mereka bayar pula. Menu yang diberikan paling tidak memenuhi standard 4 sehat dong yah. Menu saat buka puasa sih standard, masih bisa diterima akal sehat, perut lapar, dan hati nurani. Tapi, saat sahur itu lo. Hampir semua peserta mengeluh. Bagaimana tidak, menunya nasi, sayur sop, dan semacam pepes ikan, tapi tanpa daun dan warnanya hijau tua pula. Nggak good looking banget dah. Sementara, di meja lainnya (meja panitia), tersedia lauk yang lumayan “pantas”. Pertanyaannya, mengapa ada perbedaan menu antara panitia dan peserta? Apa karena kerja mereka lebih banyak? Entahlah, padahal mereka sama-sama manusia, kebutuhan akan makanan juga sama. Bukan hanya di tempat ini sih sering terjadi hal begini, tetapi di tempat lain, cerita-cerita serupa juga kadang mampir di telinga. Sekali lagi, saya tidak punya hak untuk protes atau apalah, tetapi sebagai manusia saya berhak mengemukakan apa yang saya rasakan. Untuk membangun bangsa, segalanya harus dimulai dari hal kecil, dari diri sendiri, dan dari sekarang (Aa Gym’s quote).

ILMU GOMBAL, EMANG ADA?

Pasti banyak yang bengkok pikirannya nih saat membaca judul postingan yang satu ini. Tapi, ini bukan kesalahan sama sekali, bukan akibat dari typo atau kesalahan pada mata anda. Ini karena judulnya memang seperti itu, dan maksudnya? Yah lanjut aja cin baca yah.

Gombal. Sebuah kata yang sudah tidak asing di telinga kita, apalagi anak muda kayak anda-anda ini. Sebuah kata yang menginterpretasikan kualitas seseorang. Emang iya? Menurutku iya, makanya judul postingan ini ilmu gombal. Bukan berarti mesti belajar gombal atau semua kalimat manis tak terbukti, tapi ini lebih kepada kemampuan kita menempatkan kata ini di waktu dan tempat yang tepat. Kepada siapa? Untuk siapa? Kapan? Dan seabrek pertanyaan lainnya yang bisa membuat satu kata ini memiliki banyak arti.

Pertanyaan selanjutnya dari mana saya mendapatkan inspirasi untuk membahas kata yang agak dihindari anak muda yang pernah mengalami patah hati ini? Ceritanya tadi pagi, saat asik-asiknya nonton TV, si Nana teman kost ku yang dulu nelepon dan curhat tentang kehidupannya di Pare Kediri. Setelah membahas sana-sini masalah Bahasa Inggris dan kursusnya di sana, pembicaraan pun beralih ke masalah anak muda yang takkan habis dibahas di satu masa. CINTA. Sekedar info nih, Nana adalah salah seorang pasien cinta yang kutangani saat patah hati dan berhasil (semoga) membuatnya menafikan kata “pacaran” di hidupnya. Pasien yang sama-sama saling menguatkan dengan dokternya, karena di saat yang hampir bersamaan, kami mengalami hal yang sama.

Dia cerita tentang seorang lelaki yang kini mendekatinya dan mengatakan bahwa tidak ada sedikitpun getaran yang timbul dari seringnya pembicaraan mereka di telepon. Sebenarnya kasusku saat ini lumayan sama dengannya, tapi aku tak curhat dahulu kepadanya. Selama masih bisa kuatasi, insya Allah akan kuatasi sendiri. Back to main topic. Aku pun geli dibuatnya karena dia cerita seolah-olah si lelaki ini amat sangat “bodoh” dalam mendekati wanita. Di sisi lain, aku lega, ternyata apa yang sama-sama kami tanamkan ketika masih di Makassar tumbuh sempurna, prinsip untuk tidak pacaran, insya Allah akan terus terjaga sampai Allah menunjukkan takdirnya akan siapa sosok lelaki yang akan menjadi pendamping kami masing-masing. Kata si Nana, lelaki itu tak punya ilmu “gombal”. Ilmu yang mesti dimiliki oleh lelaki manapun untuk menaklukkan hati wanita. Sederhananya aku menyebutnya “sense of gombal” haha.

Maksud kami berdua tentang “sense of gombal” bukan berarti saat mendekati seorang wanita, seorang lelaki harus menggombal, mengeluarkan semua kemampuannya dalam merangkai kata hingga menjadi puisi agar si wanita terkesan. Bukan sama sekali. Maksud kami adalah kemampuan seorang lelaki untuk menggunakan kemampuannya mendekati seorang wanita dengan cara yang wanita suka. Dan itu butuh ilmu, bukan dengan terus memberi perhatian berlebihan, komunikasi yang intens dan sebagainya. Bukan masalah kuantitas, tapi kualitas. Seorang lelaki harus tahu kapan mesti memberi perhatian dan kapan mesti menggunakan senjata “cool” nya. Sayangnya, tidak semua mengetahui dan tidak mau tahu ilmu tersebut. Karena itu, banyak wanita yang menyukai lelaki yang sama. Banyak wanita yang susah meninggalkan seorang lelaki. Saat ditanya orang lain, mengapa saya susah move on? Karena hanya si “mantan” itu yang memiliki ilmu tersebut, kalaupun ada orang lain yang memilikinya, mungkin bukan orang-orang yang selama ini mendekati kita setelah putus, entahlah. Apalagi jika seorang lelaki memaksakan kehendaknya padahal dia sudah tahu apa yang diinginkan wanita ini, makin minuslah dia. Maka, sebelum mendekati seorang wanita, pelajari caranya. Mendekati bukan berarti memaksanya langsung menyukai kita juga kan. Mendekati bukan berarti membuat kita harus menghilangkan respect kita kan. Kuncinya satu, buat dia penasaran. Caranya? Belajar dong. Katanya calon pemimpin rumah tangga. Ada yang belum ngerti? Yah, masalah masing-masing sih soalnya hal ini sebenarnya memang susah dijelaskan, apalagi bagi orang yang dari awal tidak sepaham.

MENGUNDURKAN DIRI

Bismillahirrahmanirrahim Hari ini, saya akan menyambung cerita tentang pengunduran diriku dari Ar-Rahmah. Jadi, awal Agustus itu sudah ada b...