Senin, 08 September 2014

RINDU

Pernah tidak merindukan seseorang, begitu merindukannya sampai kadang terbawa mimpi bertemu? Pernah tidak memutuskan untuk hanya menikmati rindu tanpa sedikitpun berniat menyampaikannya ke si objek? Pernah tidak memikirkan wajah seseorang, tawanya, tingkahnya, dan semua hal yang ada pada dirinya sampai tak terasa ada genangan air yang menggenang di pelupuk mata? Pernah tidak menuangkannya dalam sebuah tulisan mengenai kombinasi semua rasa itu? Jika pernah, kita sama sobat.

Sekarang aku lagi merasakan semua kombinasi rasa itu dan menuangkannya lewat untaian kalimat ini. Iya, aku merindukannya, lagi dan lagi. Tapi, tak ada ruang untuk menyampaikannya dan memang, tak ada niat untuk mencari ruang itu. Aku percaya janji Tuhanku, janji yang pasti akan ditepati-Nya, janji yang tertuang mutlak dalam kitab-Nya, pun dititipkan melalui sabda Rasul-Nya, janji yang akan menjadi hadiah indah bagi orang yang sabar dan percaya, janji yang akan datang di waktu yang tepat. Karena tak ada hubungan halal, sebelum direstui oleh-Nya melalui ikatan yang diikrarkan karena-Nya dan disahkan negara. Semoga konsentrasi kita semata-mata untuk ibadah, penyempurna separuh agama, bukan hanya seremonial dunia. Ibadah yang akan kekal hingga hari akhir-Nya. Masih banyak hal yang mesti kita perbaiki, terus mendekatkan diri kepada-Nya. Mempersiapkan banyak hal untuk ibadah terlama.

Terakhir, aku kutip kirimanku di Radio Venus FM yang sempat dibacakan penyiarnya,
Dear diary, aku tahu rindu ini belum saatnya, rasa ini belum waktunya. Untuk itu, biarkan angin dan malam melalui lantunan doa yang menjadi saksi ungkapan hati yang tak mungkin kukatakan sekarang. Aku hanya berharap kamu selalu dalam lindungan-Nya. Aku tahu, aku hanya berhak merindukanmu tanpa kamu berkewajiban membalasnya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JURNAL 11 BULAN CAWA

Bismillahirrahmanirrahim Sabtu, 31 Agustus 24: Sekitar pukul setengah 9 malam, Cawa tidur setelah meminum susu dari botol susunya. Tapi, sek...