Selasa, 03 November 2020

Sun Protection dan Manfaatnya

 Bismillahirrahmanirrahim

Sudah lama gak nulis yah. Meski masih pandemi, anak-anak juga masih belajar dari rumah, tapi ternyata effort untuk menyampaikan pelajaran secara daring itu Masya Allah lebih besar daripada belajar langsung. Allah, semoga pandemi ini segera berakhir, agar segala aktivitas termasuk ibadah kami dapat berjalan dengan lancar. Aamiin


Oo iya balik ke judul. Saya mau cerita sedikit mengenai perlindungan kulit terutama muka dari sinar Ultra Violet. Rata-rata sudah tau yah bahwa ada 2 jenis sinar UV yamg sampai ke bumi, UV-A yang dapat memunculkan tanda penuaan dini seperti keriput dan UV-B yang bisa membuat kulit terbakar. Ada lagi nih satu, namanya UV-C tapi Alhamdulillah terhalang di atmosfer dan gak sampai menyentuh bumi.


Karena buruknya efek UV bagi kulit, maka dibutuhkan perlindungan khusus yang dapat membuat kulit kita tidak terbakar dan tidak cepat menua, yah selain perlindungan dari dalam juga dibutuhkan, semisal makanan dan pikiran. Tapi tidak usah khawatir, sekarang sudah ada perlindungan dari UV yang diberi nama sunscreen dan sunblockSunscreen bekerja memfilter dan menyerap sinar UV lalu mengubahnya menjadi energi panas yang dikeluarkan melalui kulit. Sementara sunblock mampu mencegah sinar UVA dan UVB masuk ke dalam kulit dengan melakukan perlindungan di atas permukaan kulit (https://www.loreal-paris.co.id). Ada juga yang mengelompokkan ke dalam physical sunscreen dan chemical sunscreen. Untuk yang physical sunscreen, cara kerjanya adalah di permukaan kulit, memblok sinar UV agar tak tembus ke kulit, cocok untuk ibu hamil dan menyusui. Kandungannya yaitu bahan mineral aktif, seperti titanium dioxide atau zinc oxideKekurangannya adalah harus dioleskan berulangkali karena mudah terhapus. Chemical sunscreen mengandung bahan kimia aktif yang cara kerjanya meresap ke dalam kulit, oleh karenanya harus digunakan kurang lebih 15 menit sebelum beraktivitas di luar ruangan. Kandungannya adalah senyawa organik (berbasis karbon), seperti oxybenzone, octinoxate, octisalate, dan avobezone. Kandungan ini menciptakan reaksi kimia yang mengubah sinar UV menjadi panas, dan kemudian melepaskan panas itu dari kulit. Karena mengandung bahan kimia, sunscreen ini tidak direkomendasikan untuk ibu hamil dan menyusui.


Sekarang kita bahas mengenai formula apa yang membuat sinar UV-A dan UV-B tidak merusak kulit. Nah di kemasan sunscreen yang kalian beli silakan diamati baik-baik. Di kemasan itu tertulis SPF (Sun Protection Factor), adalah angka tertentu yang menunjukkan perlindungan terhadap UV-B, biasanya SPF 15, SPF 30, SPF 50, dll. Semakin tinggi angkanya, semakin baik perlindungannya, tetapi membuat kulit semakin tidak nyaman karena biasanya menimbulkan minyak. Sementara itu, untuk perlindungan dari UV-A, terdapat PA (protection grade) yang ditandai dengan plus (+), bukan dengan angka misalnya PA ++, PA +++, dst. Untuk kulit Indonesia sih perlindungan SPF 30 dan PA+++ sudah cukup kok.


Balik ke pengalamanku yah. Saya pernah membeli sunscreen buta-buta. Belinya yang SPF 50 padahal kulitku berminyak. Alhasil, 3 sunscreen tidak ada yang cocok. Akhirnya, saya melihat review para beauty blogger yang jenis kulitnya sama denganku. Dari sana pulalah saya mendapat ilmu bahwa selain berminyak dan berjerawat, kulit saya juga ditumbuhi fungal acne atau jerawat yang sebenarnya bukan jerawat. Kalau jerawat disebabkan oleh bakteri, nah fungal acne ini disebabkan oleh jamur iiiiyyyuuuuhhh. Mukaku jamuran ternyata selama ini. Ciri-cirinya adalah bentuk jerawatnya kecil-kecil bergerombol, gak ada isinya dan tidak mempan diobati oleh skin care pembasmi jerawat biasa. Jadi untuk memilih skin care, kini PR semakin banyak heheheh. Kandungan atau formulanya harus cocok di jenis kulit fungal acne. Akhirnya saya beli Skin Aqua Normal to Oily SPF 30 PA ++. Alhamdulillah cocok. Tapi, saya tiba-tiba memiliki pertimbangan lain. Pertama, keterangan halalnya belum jelas. Kedua, dia ada parabennya. Ketiga, merupakan chemical sunscreen yang tidak cocok buat ibu hamil (hehehe, persiapan sist, Insya Allah niat menikah sudah mantap. Mudahkan Ya Allah. Aamiin). Saya kemudian riset lagi untuk memperoleh sunscreen yang halal, cocok untuk jenis kulitku dan jenisnya physical sunscreen. Alhamdulillah dapatlah si Acnes UV Tint SPF 35 PA +++ yang sekarang kugunakan dan Insya Allah akan repurchase karena cocok. Untuk kulit kering, saya tidak merekomendasikan karena teksturnya matte. Kayak gini penampakannya sist:



Sabtu, 27 Juni 2020

Selamat Jalan Puang Aji

Sebelum ke tanah suci, beliau kupanggi Puang Emming
Tetangga sekaligus keluarga yang rumahnya persis di sebelah rumahku
Beliau sudah kuanggap ibu sendiri karena waktu kecil sering ikut ke mana beliau pergi
Sering nginap di rumahnya sampai usia SMA yang sudah mulai jarang

Sekitar dua bulan sebelum pandemi, beliau mengeluh sakit dada dan pinggang
Beliau punya riwayat paru-paru basah
Tapi entah kenapa beliau tidak memeriksakan diri ke dokter spesialis Paru
Malah mengantar suaminya ke dokter lain karena saat itu sang suami juga lagi ada masalah di kelenjar prostatnya dan sempat dirawat di rumah sakit umum daerah Makassar
Aku saat itu beberapa kali menjenguk, bahkan pernah sekali nginap di sana

Alhamdulillah suaminya dinyatakan sembuh dan boleh pulang ke rumah, meski tetap berobat jalan
Tidak berapa lama, penyakit Puang Aji semakin parah
Batuknya semakin sering dan agak kesusahan untuk berbicara
Akhirnya beliau pun ke dokter umum, belum ke spesialis hingga beberapa kali tak ada perubahan berarti
Beliau akhirnya mendengar saran kami untuk ke rumah sakit agar dirontgen
Hasilnya, ternyata ada tumor di paru-parunya

Meskipun sudah masuk ke pandemi, beliau tetap memberanikan diri ke Makassar  karena sesak dan batuk yang dialami sudah tidak tertahankan lagi
Dengan diantar oleh anaknya, mereka berdua ke tempat dokter interna, dokter langganannya bapakku
Beliau tidak ke dokter spesialis paru karena semakin merebaknya kasus Covid-19
Dokter ini meminta beliau diantar ke RS Stella Maris untuk menjalani CT Scan 4D
Lalu hasilnya dibawa kembali ke dokter itu

Sepulang dari sana, beliau mengonsumsi obat yang diberikan oleh dokter tersebut
Saat itu bulan puasa, dan beberapa item yang kumasak di rumah, kubawakan ke rumah beliau
Siapa tau mau dimakan
Karena beliau tipe orang yang agak susah makan

Sehari setelah idul fitri, beliau meminta untuk dibawa ke RS terdekat karena sudah tidak tahan dengan sesak napas yang dideritanya
Singkat cerita, beliau dirujuk ke RSUD dan seperti pasien lain, karena saat itu adalah pandemi Covid-19, maka beliau harus dites rapid dan swab

Beberapa hari kemudian, hasilnya keluar dan beliau dinyatakan positif
Ya Allah, seluruh penduduk di desa kami gempar, media pemberitaan heboh, apalagi kami yang sering bertemu dan berdekatan dengan beliau
Sore harinya, petugas kesehatan dari kecamatan mendatangi rumah saya dan 3 rumah lainnya
Kami diinterview dan diminta untuk isolasi mandiri selama 14 hari
Sedangkan Puang Aji dibawa ke Makassar untuk dirawat di RS khusus Covid-19 dan keluarga intinya dibawa ke rumah singgah di kabupaten kami untuk diisolasi

Setelah diswab untuk kedua kalinya, Puang Aji dinyatakan negatif dan dibawa ke ruang perawatan
Keluarga intinya pun akhirnya dijemput oleh kepala desa kami dan dibawa pulang karena hasil swabnya juga negatif
Kabar gembira ini tidak bertahan lama ketika ada informasi bahwa keadaan kesehatan Puang Aji menurun drastis
Yah, itu karena penyakit tumor parunya yang semakin parah
Akhirnya keluarga intinya pun menuju ke Makassar untuk menemui beliau, itupun karena dokter yang memanggil
Kami yang ada di kampung harap-harap cemas menunggu kabar
Dan sehari setelahnya, tepat Hari Jumat saat Khutbah Jumat, Puang Aji menghembuskan napas terakhir
Insya Allah beliau meninggal dalam keadaan husnul khotimah

Ya Allah, beliau selalu mengatakan kepadaku agar suatu hari bersuamikan lelaki yang baik agama dan akhlaknya
Meskipun Puang Aji sudah tidak di sini, tapi semua kebaikan dan doa-doanya masih bersama kami
Dan kelak, jika Allah menakdirkan saya untuk menikah dengan lelaki terbaik menurut pilihan-Nya, Insya Allah saya akan membawanya untuk ziarah ke kuburan Puang Aji untuk memperkenalkannya
Aamiin...

Jumat, 05 Juni 2020

Tipe-tipe Siswa

Sambil menulis ini, sambil mengingat momen indah bersama mereka. Semoga tulisan ini bisa sedikit mengobati kerinduan dengan tingkah polah mereka.
Tulisan ini hanya sebagai pendapat subyektif saya ketika berhadapan dengan mereka. Dari keseharian mengajar dan mendidik mereka, interaksi di kelas dan di luar kelas bersama mereka.
Berbagai karakter dan tipe siswa akan memberikan warna tersendiri saat proses belajar mengajar, berikut beberapa di antaranya:

1. Si cerdas
Anak ini sepertinya sudah cerdas dari gen-gennya. Bagaimana tidak, dari ilmu hitungan sampai hapalan diembat semua. Ada sih satu dua ilmu yang masih lambat, tapi tetap saja nilainya di atas standar.

2. Si perfect
Tipe ini mengajarkan bahwa apapun yang kita lakukan, harus sesuai protokol atau standar yang berlaku. Dari segi tugas sekolah sampai penampilan luar. Jilbab ketiup AC dikit, cerminan dulu. Baju kena saos dikit, ke kamar mandi buat dicuci dulu. Buku gak boleh lecek, tugas gak boleh ada coretan, selalu minta maaf ke guru yang bersangkutan kalau tugasnya ada yang kurang sedikit.

3. Si ambisius
Pokoknya temannya bisa dapat nilai A, dia juga harus. Temannya sudah hapal 2 juz, dia harus lebih. Temannya tahu mengenai berita terkini, dia juga harus update. Temannya sudah kumpul tugas, dia gak boleh telat. Bahkan tidak segan menghubungi gurunya via medsos hanya untuk menanyakan masalah pelajaran

4. Si pendiam a.k.a si pemalu
Kalau ditanya sudah mengerti atau belum, diam. Yah kan gurunya bukan peramal bisa tau si doi sudah paham atau tidak. Pas ulangan, keringatannya pun diam2. Hehhehe. Tapi biasanya anak dengan tipe ini bertanyanya sama temennya yang cerdas, meskipun diam2 juga. Jangan sampai ada temannya yang tahu kalau dia bertanya. Ada juga satu dua yang bertanya ke gurunya saat bapak/bu gurunya lagi sendiri, malahan minta privat, karena katanya gak bisa paham kalau belajarnya di kelas.

5. Si sopan
Ini mah andalan. Meskipun kadang agak kurang di akademik, tapi sikap sopannya dapat menggantikan semuanya. Bahkan sering minta maaf setelah kelas selesai, minta maaf karena tadi tidak fokus, karena nilainya jelek, karena telat dikit kumpul tugas dan karena sesuatu yang sebenarnya dia gak bersalah. Di kelas, dia bisa jadi pembela gurunya ketika ada siswa yang berlaku kurang sopan. Dia tidak segan menegur, baik langsung maupun pake kode.

6. Si ringan tangan
Doi adalah siswa yang gak kuat melihat gurunya mengangkut barang bawaan yang banyak ketika mau masuk kelas. Dengan sigap dia akan menawarkan bantuan untuk membawakan barang tersebut, meskipun tangannya juga kadang kepenuhan barang.

7. Si pemimpin
Kalau yang satu ini, suaranya sangat didengarkan oleh teman sekelasnya, bahkan sama adek kelas juga. Kakak kelas biasanya menaruh respek kepadanya. Jika kelas lagi agak gaduh, dia akan menegur temannya dengan sopan. Seketika kelas langsung diam tanpa kata. Tipe ini sangat membantu guru untuk mendisiplinkan teman-temannya.

8. Si humoris
Dia menjadi angin sejuk ketika teman-temannya butuh hiburan di sela-sela jam pelajaran. Kadang, gurunya pun ikut tertawa dibuatnya. Tingkahnya ada saja, mulai dari "sok" menganalisa pelajaran, mengeluarkan kalimat yang tidak terpikirkan sebelumnya dan masih banyak tingkah lainnya.

Apapun sikap dan sifat mereka, toh mereka masih anak-anak yang sementara beranjak remaja. Masih butuh dibimbing dan dididik serta masih perlu penguatan karakter. Kadang, malah mereka yang menjadi guru bagi kami. Setiap laku dan sifat mereka unik. Gurunya harus lebih sabar dan pengertian. Semoga kelak, mereka menjadi pemimpin muslim dan muslimah yang Allah ridhoi.

Kamis, 28 Mei 2020

Karena Tak Semua Inginmu Bertemu dengan Ingin-Nya

Jika ada pilihan lain, tak ada satupun yang mau tinggal #dirumahaja selama berbulan-bulan
Tak ada yang mau melewatkan Ramadhan tanpa bertemu dan berbuka dengan sanak saudara
Tak ada yang mau merayakan idul fitri tanpa bermaafan dengan bersalaman
Jika memperturutkan ingin, tak ada yang mau keluarganya jadi penderita

Bahkan, kaum milenial rebahan pun sudah bosan tinggal di rumah
Para guru rindu dengan siswa-siswanya
Para siswa ingin berkumpul kembali dengan guru dan kawannya
Para petugas kesehatan rindu dengan keluarganya
Para pencari nafkah sudah harus kembali meniti asa

Ada ingin kita yang kadang tak sejalan dengan ingin-Nya
Tapi ingin-Nya selalu sejalan dengan kebutuhan kita
Jika kamu yakin orang tuamu mampu memberikan yang terbaik untukmu
Maka, apa susahnya meyakini bahwa Yang Maha Menciptakan orang tuamu akan melakukan hal yang sama
Fokus ke hikmah, bukan ke masalah

Selasa, 26 Mei 2020

PELITA

Apalah arti terangnya lampu, jika dia dinyalakan di terik siang
Apalah makna sebuah lilin, ketika rumah terang benderang oleh nyala lampu
Tapi, dalam beberapa kondisi setitik cahaya pun sangat bermakna
Cahaya lilin saat mati listrik
Cahaya lampu saat malam hari
Cahaya hijrah bagi hati yang telah lama terkurung maksiat

Jangan pernah merasa rendah
Kita sudah menjadi pemenang di awal kompetisi
Kita menang kala menundukkan kepala di sepertiga malam-Nya
Bisa jadi kita hanya cahaya kecil, tapi memberi arti besar bagi yang lain
Kita adalah pelita, bagi yang membutuhkannya
Ingat makna kita di awal penciptaan?
Yang dengannya membuat ragu penghuni langit?
Jangan iyakan keraguan itu
Buktikan, bahwa kita memang pantas disebut khalifah
Bismillah...

Rabu, 20 Mei 2020

My Update Skin Care Routine Selama #DiRumahAja

Bismillah...
Halo semua, kali ini saya akan berbagi perawatan kulit muka apa saja yang saya pakai untuk mengatasi dan mencegah jerawat membandel selama di rumah saja.
Sebelumnya, saya ingin menginformasikan bahwa kulit muka saya tipe yang berminyak dan berjerawat, untungnya bukan jerawat bopeng. Alhamdulillah...
Tapi bersyukur sekali karena dengan dianugerahinya saya dengan jenis kulit muka seperti itu, saya jadi sadar untuk merawatnya dan menggali ilmu tentang skin care. Ini sekedar sharing yah, belum tentu cocok untuk setiap orang. Tapi semoga ini bisa jadi pertimbangan kalian sebelum memilih skin care.
Kalau saya pribadi, sebelum membeli, saya nonton dan baca review dari internet terlebih dahulu.

MORNING SKIN CARE
Step 1: Facial wash
Untuk pagi hari pas mandi, saya pakai facial wash dari Sariayu yang khusus untuk kulit berjerawat. Aromanya lembut dan muka tidak kesat setelah menggunakannya. Cuma menurutku, untuk jerawat besar, si FW ini agak lambat menanganinya.
Step 2: Toner
Sabun muka kan basa yah, pastinya membuat pH kulit jadi basa sehingga biasanya agak kering. Kalau dibiarkan,  otak akan memerintahkan kelenjar minyak untuk memproduksi minyak berlebih untuk melembabkan. Efeknya, yah berminyak dong. Oleh karenanya diperlukan toner yang bisa mengembalikan pH normal si kulit muka. Saya pakai toner varian lemon dari Sariayu. Sama dengan FWnya, toner ini sangat membantu mengontrol minyak, tapi kurang greng kalau sama jerawat gede.
Step 3: Moisturizer
Untuk menjaga kelembaban kulit, kita butuh moisturizer yah. Saya pakai produk dari Biokos 20s yang imut kemasannya. Produk ini jiga dikhususkan untuk kulit berminyak. Ada wanginya tapi menurutku masih bisa ditoleransi. Kerjanya lumayan bisa mengontrol minyak. Teksturnya gel  agak cair dan berwarna hijau transparan. Cukup sedikit sudah bisa mengcover seluruh muka dan leher. Setelah diaplikasikan ke muka, agak lengket sedikit jadi memerlukan waktu 2-3 menit untuk meresap sempurna.
Step 4: BB Cream
Kalau ditanya pakai sunscreen atau tidak, jawabanku tidak. Bukan tidak mau, tapi saya sudah mencoba 3 merk sunscreen yang berbeda dan hasilnya gak ada yang cocok. Jadi agak trauma gitu deh hehehe. Untungnya mukaku cocok dengan BB cream dari Wardah yang Lightening Beauty Balm Cream. Selain sebagai foundie, dia juga memiliki SPF 32 dan PA+++. Saya pakai yang light, satu tingkat lebih cerah dari kulit mukaku. Ini sudah tube kedua yang kupakai, tapi yang sebelumnya saya pakai yang natural dari Everyday Beauty Balm Cream. Nah kedua produk ini beda ternyata, saya baru tahu beberapa waktu yang lalu pas ada yang review. SPF yang lebih tinggi dimiliki varian Lightening, kalau Everyday SPFnya 30. Tapi untuk selanjutnya kalau sudah habis, Insya Allah saya mau membeli yang Everyday light karena menurutku lebih bisa mengontrol minyak di wajah. But, keduanya gak ada masalah berarti di wajahku.
Step 5: Bedak tabur
Sebagai finishing, saya pakai bedak tabur dan bukan compact karena dari beberapa review yang saya lihat, kulit berminyak lebih disarankan menggunakan bedak tabur. Saya pakai yang dari Wardah Acnederm. Pokoknya semuanya untuk jerawat dah hehe. Saya suka doi karena bedak dan sponsnya ada sekat, tapi di tengahnya ada lubang kecil-kecil untuk memudahkan bedak keluar dari tempatnya. Hal ini bertujuan untuk mencegah mlebernya bedak yang keluar.

NIGHT SKIN CARE
Step 1: Cleanser
Kalau malam, mesti double cleansing karena sisa skincare tadi pagi yang bercampur dengan debu dan minyak. Saya pakai cleanser dari Viva Green Tea. Cukup diratakan ke wajah, pijat bentar lalu bersihkan menggunakan kapas. Wanginya enak, green tea sekali, segar pokoknya. Selain murah, dia juga bis amembersihkan wajah dengan maksimal.
Step 2: Facial wash
Nah untuk malam hari, saya pakai yang Acnes. Dia sangat bagus untuk mengempeskan jerawat yang besar. Kalau FW Sariayuku habis, sepertinya Acnes ini yang akan kupakai pagi hari juga. Kulit muka juga tidak kering setelah pemakaian. Cuma saya agak terganggu dengan wanginya, tapi kalau yang memang tidak bermasalah dengan wangi-wangian, amanlah.
Step 3: Toner
Sama dengan pagi hari, tapi kalau malam saya biasanya menggunakan kapas. Kalau pagi hari, cukup tuang ke tangan lalu di tap-tap ke wajah.
Step 4: Safi Age Defy Youth Elixier
Saya sebenarnya bingung mau nyebutnya apa, jadinya pakai merk saja. Mau disebut serum takut salah karena varia Age Defy sudah ada serum tersendirinya, mau disebut essence juga bukan. Produk ini memang keluaran terbaru dari Safi yang diklaim lebih mampu menyamarkan tanda-tanda penuaan plus mengurangi bruntusan atau jerawat kecil-kecil. Insya Allah bikin cerah juga.
Step 5: Krim mata
Fungsi dari krim mata adalah menyamarkan warna hitam dan mengurangi kerutan di sekitar mata. Untuk yang usia 20an ke atas sepertinya sudah harus menggunakannya. Kalau saya pakai Optimals Eye Cream dari Oriflame. Krim mata ini sudah lama sekali, tapi belum kadaluwarsa loh yah, hehehhe soalnya saya pakainya hanya saat malam saja. Teksturnya putih kental kayak krim biasa. Secara signifikan berpengaruh menjaga kelembaban di area mata plus mengurangi hitam di bawah mata, tapi pemakaiannya harus telaten karena hasil yang diperoleh gak instan. Butuh beberapa waktu untuk melihat fungsinya.
Step 6: Obat totol jerawat
Kalau ada jerawat yang aktif, saya tidak pakai obat totol asli, tapi menggunakan sleeping mask dari Viva. Saya totol seperti obat totol jerawat, Hehehe. Saya juga sudah pernah review manfaatnya. Karena takut muka becek akibat terlalu lembab, maka saya tidak menggunakan sleeping mask ini sebagaimana mestinya, cukup pakai yang Youth Elixir tadi. Yang saya rasakan sekarang adalah produk Safi itu lebih bekerja di muka saya dibanding sleeping mask dari Viva ini.
Step 7: Minyak zaitun
Kalau yang ini saya gunakan di alis dan di bibir agar bibir tetap lembab dan alis bisa lebat dikit hehehe...

Itu dia skin care yang saya gunakan sekarang. Selain itu, 3 hari sekali saya pakai scrub/exfoliating dan masker untuk mengangkat sel kulit mati dan mengempeskan jerawat

Yang atas exfoliating dari Safi Age Defy dan yang bawah masker dari Biokos. Biasanya saya pakainya malam

Oke sekian dulu yah. Jangan lupa tetap menerapkan hidup sehat biar cantik dari dalam juga, sama penyakit hati buang jauh-jauh. Hehehe

Selasa, 19 Mei 2020

Bersinar di Usia 30

Beberapa waktu yang lalu, aku menonton channel Youtube dari Mbak Analisa, itu loh psikolog lulusan terbaik UGM. Judulnya "Menganalisa Usia Galau Tujuan Hidup". Di situ, Mbak Ana mewawancarai Mbak Prita Ghozie yang merupakan CEO di ZAP Finance sebagai CFP profesional. Wah, aku exicted banget, melihat dua orang wanita hebat sedang berdiskusi. Dari dua latar belakang pendidikan yang berbeda, sesi ini diberi nama #SehatMentalSehatFinansial dan pembahasannya benar-benar di luar ekspektasi. Masya Allah sekali, ilmu yang dibagikan luar biasa.

Sekedar info, sebelum menonton ini, aku terlebih dahulu follow akun IG Mbak Prita biar lebih melek finansial. Aku menemukan akun beliau pun tanpa kesengajaan. Mungkin Allah mau menunjukkan bahwa sebelum menikah, ilmu tentang perencanaan keuangan itu sangat penting. Jangan sampai setelah menikah malah kembali ke 0, seperti yang dirasakan beberapa pasangan baru. Bisa jadi, hal itu terjadi karena mereka kurang mempersiapkan ilmu tersebut. Wallahu a'lam.

Kembali ke diskusinya Mbak Ana dan Mbak Prita, di bawah ini aku akan mengutip beberapa yang menurutku relate banget dengan diriku saat ini. Mbak Ana (A) dan Mbak Prita (P)

1. A: Di usia 25 th mbak lagi dalam keadaan apa?
P: aku saat itu sudah punya anak satu, belum pusing2 amat karena masih tinggal di rumah ortu
A: sama dong mbak, aku juga saat itu sudah ada 1 anak. Jadi mulai galaunya di usia berapa?
P: sama kita yah, hehhe tapi temen2 yg lain gak mesti kyk kita. Aku mulai galau di usia 28 th ketika ada kesadaran untuk tinggal di rumah sendiri. Saat itu aku gak sadar membandingkan penghasilan suamiku dengan keluarga lain sampai malahan pernah mengatakan kamu kerja di tengah laut gak apa2, yg penting uang kita cepat banyak. Dan aku gak sadar membandingkan hidupku dengan orang lain, makanya aku stress sendiri. Untungnya dia sabar dan selalu mengingatkan aku, hingga akhirnya di usia itu aku mendirikan ZAP Finance
A: wah, keren mb. Iya yah, yg jd permasalahan sebenarnya adalah ketika kita sudah membandingkan hidup kita dengan orang lain.
So, stop comparing your live with others. Tidak mungkin hidup kita berjalan di rel yang sama.

2. P: Eh iya tapi di usia 25 th gak harus sudah menikah dan punya anak yah. Kita punya jalan hidup masing2. Jangan sampai ada yang membandingkan.
A: iyap betul mb, mungkin di usia itu temen2 belum menikah, tapi sudah ada pencapaian lain. Apapun itu kuncinya bersyukur yah mb.
P: iya, mungkin saat itu kita belum dapat achievement A misalnya, tapi justru Allah memberikan achievement B. So, pandai2 bersyukur. Jadi checlist hidup yang kita buat adalah skala prioritas dan memastikan kita on track, bukan sebagai target
A: nah ini yang biasanya jadi stressor, ketika punya target dan belum tercapai di usia tertentu, akhirnya pencapaian2 lain lupa disyukuri

3. A: setelah P sukses di ZAP Finance kira2 usia 35 th, apakah ada lagi yang membuat mb stress?
P: nah ini yang harus diluruskan. Di usia berapapun dan dalam keadaan apapun masalah pasti muncul, namanya hidup yah tapi orang luar mungkin gak tau. Yang paling penting adalah pengelolaan problem. Usia 35 ketika secara finansial Alhamdulillah sudah settle, ujian selanjutnya adalah menyadarkan diri sendiri untuk lebih mengikat tali keintiman dengan anak. Tantangannya adalah bagaimana ketika mereka sudah mulai gede, mereka masih butuh ibunya. Jadi, kerja yah kerja, tapi gak membabi buta, jadi mereka tetap merasa kehadiran sosok ibu meskipun kita working mom. Katanya kan kita kerja buat mereka, untuk kebahagiaan mereka. Meski uang penting, kehadiran kita juga.
A: ini pelajaran buat aku pribadi juga bagaimana tetap menghadirkan diriku di tengah anak2 meskipun bergelar working mom

P: jadi buat kalian yang sekarang masih galau, aku juga pernah ada di posisi kalian. Terus berjuang, jangan lupa bersyukur atas segala pencapaian yang kalian sudah dapat. Karena sekeren apapun kita berencana, Allah jauh lebih tahu yang terbaik untuk kita. Kalau belum dikasih yang lagi diperjuangkan, pasti Allah kasih sesuatu dalam betuk lain, hanya kitanya yang terlalu fokus dengan keinginan kita.

*Nyesss di hati Mb Prita dan Mb Ana diskusinya.
Betul juga yah, kalau aku pribadi mungkin di usia 30 tahun ini belum dipertemukan dengan jodoh, tapi Allah memberikan berbagai nikmat lain yang orang lain belun tentu dapatkan.
Lanjut S1 dengan jurusan pilihan tanpa tekanan dari siapapun, rejeki Alhamdulillah selalu tercukupi, lanjut S2 di usia 24 tahun dengan full scholarship, dapat lingkungan kuliah dan kerja yang mendukung untuk hijrah ke arah yang lebih baik, di usia 29 tahun diberikan kesempatan untuk umroh, lalu lanjut Study Tour ke Malaysia Singapura tanpa biaya sedikitpun, memiliki adik dan ipar yang sangat perhatian terutama dalam keuangan. Tambahan lagi, sebelum menikah Allah memberikan kesempatan untuk belajar mengelola keuangan, mengelola emosi, stress dan memperkecil ekspektasi setelah menikah. Bukankah ini adalah bekal berharga sebelum melangkah ke jenjang pernikahan?
Beberapa nikmat di atas belum seberapa, termasuk nikmat sehat, kesempatan dan waktu luang yang Allah berikan di tengah pandemi ini.

Terima kasih Ya Allah, aku tahu rencanaku dan rencana-Mu akan bertemu di waktu yang tepat.. 

Senin, 18 Mei 2020

Pahlawan Masa Kini

Kalau ditanya tentang pahlawan jawaban kalian apa?
Mungkin ada yang mengatakan, yang berjuang di medan perang, yang berjuang di bangku sekolahan, yang berjuang mendapatkan jodohnya, hehehhe yang terakhir bisa jadi
Tapi relate dengan keadaan sekarang, kita harus paham bahwa ternyata ada bentuk lain dari pahlawan
Pasti semua merasakan dampak Covid-19 yang sekarang lagi trending
Di sini, ada beberapa bentuk kepahlawanan yang kita lihat
Ada yang berjuang menyembuhkan pasien, mereka tenaga kesehatan
Ada yang berjuang dari rumah tanpa bertemu sanak saudara, mereka yang patuh
Ada yang berjuang mengatasi masyarakat yang masih suka berkumpul tanpa alasan yang jelas, mereka petugas keamanan
Ada yang terpaksa harus keluar rumah untuk tetap memastikan dapur mengepul, mereka para ayah dan ibu yang menyayangi putra putrinya
Ada yang berjuang menahan rindu dengan menunggu, mungkin kamu salah satunya :)
Ada orang tua yang tiba-tiba harus merangkap menjadi guru
Dan masih banyak lagi bentuk perjuangannya

Yah kita harus akui, kepahlawanan di era sekarang memang berbeda bentuknya
Tapi tujuannya sama, menepis ego dan menyelamatkan kehidupan
Yuk berjuang sama-sama dalam bingkai yang mungkin berbeda
Yakin, Allah tidak akan membebani di luar kemampuan kita
Yakin, ada hikmah indah di balik semua ini

Agar bumi semakin bersih
Agar kita semakin peduli kesehatan dan sesama
Agar syukur semakin bersemi
Agar kita tahu artinya RINDU

Trip to Malaysia-Singapura (Edisi Malaysia)

Bismillah...
Nah sekarang lanjut tripnya ke Malaysia yah. Setelah sampai di hotel Kamis Malam, kamipun istirahat untuk kemudian lanjut ke Legoland keesokan harinya. Jumat pagi, kami mengemasi barang bawaan dan check out dari hotel. Legoland adalah taman tempat bermain yang dikelilingi oleh bangunan lego. Selain wahana permainan, tempat ini juga dilengkapi dengan miniatur beberapa negara di dunia, toko yang menjual berbagai lego, film 3D dll. Legoland ini luas sekali, tapi sayangnya kita tidak boleh keluar masuk. Jadi, makannya di dalam, meski yah memang harganya lebih mahal.
Selain menikmati wahana, ada juga miniatur beberapa negara di sini loh.
Aku pas tidak foto di sini, jadi ambil fotonya Ibu Inayah saja yah, heheheh. Beliau adalah guru SD di yayasan yang sama denganku, kalau aku SMP dan SMAnya. Nah di situ terlihat kan ada beberapa negara dalam bentuk kecil, di antaranya Malaysia tentu saja, Singapura dan India. Yang lainnya aku lupa. Sebenarnya kami mengelilingi legoland ini menggunakan kereta loh, tapi videonya tidak bisa terupload, jadi mohon maaf dalam bentuk foto saja yah.
Kami berada di sini sekitar 7 jam, terus terang bosan sih. Ada beberapa siswa yang menikmati belanja di toko legonya. Heran sih, mereka masih SD tapi sudah bisa belanja dan menentukan pilihan sendiri. Sedangkan anak SMP dan SMA ku, menikmati dunianya sendiri. Yah usia segitu memang lagi senang-senangnya bersama teman sebayanya.

Sekitar jam 5, kami keluar dari Legoland dan menunggu tour guide. Setelah bus datang, kami ke Hotel 5 Elemens untuk check in. Di sekitar hotel ini, berbagai makanan non halal terpampang nyata di beberapa tempat. Tapi Insya Allah makanan kami dijaga kehalalannya. Esoknya, rombongan melanjutkan perjalanan ke Istana Negara Malaysia, Menara Petronas dan belanja ole-ole lagi.

Sabtu tanggal 08 Februari 2020 perjalanan dilanjutkan ke Istana Negara Malaysia. Hanya di depannya sih, gak boleh masuk plus gak boleh foto pakai spanduk. Di tempat ini juga ada ajudan di depan gerbang yang menjaga bersama kudanya.
Setelah puas berfoto dan menikmati sekeliling istana negara, kami melanjutkan perjalanan ke Menara Kembar Petronas yang terkenal itu.
Foto ini diambil dari hasil peminjaman kamera orang hehehe. Kalau mau jujur, di sini hanya foto-foto saja sih. Kami sampai di sini pas matahari masih terik-teriknya, jadi gak mood juga lama-lama. Yang agak lama itu di Petrosains. Di sana kami disuguhi oleh berbagai pameran sains yang terdiri dari beberapa ruangan. Mulai dari zaman dinosaurus sampai zaman teknologi industri 4.0.
Di depan pintu masuk sudah disuguhi ikatan atom dan molekul, kimia banget
Setelahnya, ada berbagai ilmu dan aplikasinya yang mendukung kemajuan suatu negara
Ada miniatur gerhana bulan dan fase-fasenya ditinjau dari bumi
Berbagai dinosaurus dan lingkungannya
Kalau ini ilmu Biologi, biosfer
Yang ini membahas emas hitam, bukan ilmu hitam loh ya hehe

Ada videonya juga pas kita dibawa menjelajah ke dunia beberapa juta tahun yang lalu, dunia hari ini dan beberapa tahun ke depan

Setelah dari Petrosains dan Petronas, kami melanjutkan perjalanan untuk membeli ole-ole. Ternyata, beberapa dari kami belum puas dengan belanjaannya. Akhirnya, pas malam tiba, kami mencar lagi untuk belanja sesuai kebutuhan. Aku sih ikut rombongan yang belanja ke Pasar Seni atau Central Market, pusat ole-ole khas Malaysia yang murce banget. Sedangkan beberapa lainnya ke KLCC (tempat si Petrosains tadi), termasuk siswa laki-laki SMP dan SMAku. Nekat, mereka membujuk terus biar diizinkan, katanya nanti naik grab.

Oo iya di Pasar Seni, aku sempat kalap hehehe. Barang-barangnya bagus dan murah, jadi ringgit yang masih tersisa dihabiskan di sini, apalagi ini malam terakhir. Oh, Malaysia sampai jumpa lagi, semoga lain kali bisa ketemu kakakku, Datuk Siti Nurhaliza hihi.
Malaysia from 9th floor. Penampakan dari hotel kami

Minggu, 10 Mei 2020

Trip to Malaysia-Singapura (Edisi Singapura)

Bismillahirrahmanirrahim
"Bu Una sy batalkan ke Malaysia Singapore. Bu Una bersedia pergi?" Tiba-tiba WA dari kepala sekolahku masuk ketika jam mengajar hari itu. Seketika WAprian itu membuatku galau, meskipun entah kenapa dari awal aku ada firasat bahwa akulah yang akan diutus sekolah untuk mendampingi siswa study tour ke Malaysia-Singapura. Kenapa galau? Padahal justru banyak yang mendambakan perjalanan ini. Secara pribadi, aku ada beberapa alasan untuk ini. Pertama, bulan November kemarin baru saja melaksanakan umroh, terus terang masih jetlag. Kedua, aku tipe orang yang harus mempersiapkan segalanya untuk suatu tujuan, nah kabar ini disampaikan kurang dari sepekan dari tanggal keberangkatan, 05 Februari 2020. Ketiga, aku harus mempersiapkan titipan materi dan tugas untuk siswaku kurang lebih 3 hari. Belum lagi, siswa SMA yang akan berangkat ternyata belum memiliki passport, masih sementara diproses.

Sehari sebelum hari-H keberangkatan, entah kenapa masih ada beberapa masalah yang belum kelar. Mulai dari pengumpulan passport hingga biaya pesawat yang tiba-tiba melambung. Otomatis, hal ini harus disiasati. Menjelang sore hari ketika sementara mengajar, diam-diam aku keluar kelas dan nangis di pojok perpus. Ya Allah, entah kenapa baper begini.

Singkat cerita, dengan segala keruwetannya, Alhamdulillah Allah memberikan kelancaran. Pesawat kami berangkat setelah dzuhur dan sampai di bandara KL petang hari. Rombongan menuju ke Johor Baru untuk check in hotel, yang sebelumnya mampir ke rest area terlebih dahulu untuk sholat dan makan malam. Alhamdulillah, akhirnya merasakan udara Malaysia. Hawa udaranya tak jauh beda dengan Indonesia, yang berbeda hanya logat Melayunya yang kental.

Sesampainya di hotel, kami istirahat sejenak, sholat Subuh lalu bersiap ke Singapura via bus. Setelah sarapan, rombongan pun berangkat. Masya Allah, sebentar lagi merasakan udara Singapura. Menurut keterangan tour guidenya, Singapura adalah salah satu negara terdisiplin. Hal tersebut terbukti ketika akan memasuki negara ini, beberapa dari kami ditahan sementara di imigrasi. Ada yang sidik jarinya tidak terbaca sampai ada pula yang tidak tau kenapa dibawa ke ruangan pemeriksaan hehehhe. Tapi salut sih, petugasnya sangat cepat dalam melayani, ramah dan sistem keamanannya pun ketat. Jadi, proses pemeriksaan kami berjalan cepat.

Kami melanjutkan perjalanan ke Singapura. Masya Allah, di sepanjang perjalanan hanya hijau dan bebas polusi yang kami rasakan. Menurut tour guidenya, pemerintah dan warga Singapura memiliki peraturan sekaligus kesadaran untuk mencanangkan penanaman pohon setiap tahun di Bulan November. Kendaraan beroda empat pun memiliki peraturan sendiri, harus diganti setelah maksimal 10 tahun penggunaan. Jam operasionalnya pun diatur sedemikian rupa. Eh satu lagi, harga plus pajaknya muahhhaaalll. Kombinasi kedua peraturan ini yang membuat tidak banyak mobil yang berseliweran di Singapura. Peraturan selanjutnya tentang rokok. Harga kedua termahal setelah mobil dan pajaknya adalah rokok, sehingga persentasenya menurun beberapa tahun belakangan. Jika ada yang ingin merokok, ada tenpat tersendiri yang disediakan. Merokok di tempat umum? Siap-siap didenda, hehehe. Karena wilayah Singapura sempit, maka rata-rata warganya tinggal di apartemen. Pembangunan tidak ke samping, tapi ke atas untuk meminimalisir penggunaan lahan. Para pemudanya juga diwajibkan untuk wamil (wajib militer). Maka, mereka menikah di usia sekitar 28 tahun ke atas. Kalau di Indonesia mah sudah dibully yah, heheheh. Singapura yang bersih dan seperti hutan kota betul-betul memberikan kemyamanan tersendiri. Tapi satu kekurangannya, di kamar mandi umum, harus pakai tisu, airnya minim.

Foto di depan Patung Marlion

Destinasi pertama kami adalah Marlion Park. Panas ternyata, heheheh. Untung pakai sunscreen. Ternyata keindahan foto selama ini yang dipamerkan di medsos, diperoleh dengan penuh perjuangan menaklukkan panas matahari yang serasa dekat sekali. Setelah kerempongan foto-foto dengan anak SMP dan SMA yang susah sekali dikumpulkan (maklum, mereka sudah besar, pasti pengen jalan sendiri), kami berjalan ke arah bus sambil mendengar penjelasan dari tour guidenya.  Marlion ternyata akronim dari marmaid dan lion, patung berbadan ikan dan berkepala singa. Nah, di sana pun ada semacam waduk. Ini bukan sembarang waduk, tapi digunakan airnya oleh warga Singapura ketika musim kemarau tiba. Dan saat musim hujan, air ditampung di tempat tersebut sehingga tidak terjadi banjir.
Waduk yang saya maksud

Setelah puas berfoto dan jalan di Marlion Park, kami pun kembali ke bus dan menuju ke Bugis Junction (BJ) untuk belanja ole-ole khas Singapura. Oo iya, BJ itu adalah tempat para perantau yang bersuku Bugis tinggal saat dahulu kala. Seperti kita ketahui, suku Bugis terkenal dengan pelautnya. Nah, hal tersebut cukup menggentarkan penjajah saat itu. Pelaut Bugis termasuk yang tidak gampang diajak negosiasi.
Di foto jelas terlihat kan tulisan Bugis Junctionnya

Jika ada yang tidak sempat menukarkan mata uang rupiah dengan dollar Singapura, tidak usah khawatir. Toko-toko di sini menerima mata uang dollar Singapura, Ringgit Malaysia dan Rupiah Indonesia. Yah meski nilai tukarnya pasti lebih tinggi.

Setelah puas berbelanja, kami menuju Pulau Sentosa. Nah sekedar informasi, Universal Studio Singapura yg terkenal dengan tulisan UNIVERSAL yang senantiasa bergerak itu berada di Pulau Sentosa. Selain berniat foto di depan tulisannya, kami juga akan menyaksikan pertunjukan Wings of Time. Pertunjukan ini adalah perpaduan antara drama di dunia nyata dan dunia maya 3D yang melibatkan kami sebagai penonton. Hehe, aku sendiri bingung menjelaskannya. Lihat saja video di bawah ini yah


Nah, keren kan. Pertunjukan dimulai sekitar Pukul 20.40 dengan harga 18 Dollar Singapura per tiket. Alhamdulillah dapat tempat duduk di tengah jadi kelihatan jelas. Sambil menikmati pertunjukan, kita juga bisa menyaksikan pemandangan Pulau Sentosa di sekitar lokasi, karena tempat pertunjukannya outdoor.

Sebelun masuk ke pertunjukan Wings of Time, kami menikmati suasana di depan Universal Studio (di depannya aja) sambil berfoto. Kan tidak sah yah kalau ke sini tanpa foto, meski gak masuk hehehhe.
Oo iya lupa, sebelum ke Pulau Sentosa, kami terlebih dahulu ke Garden by The Bay, semacam taman atau lebih tepatnya disebut hutan kota di Singapura. Berbagai jenis tanaman ada di sini, asri sekali meskipun Singapura juga adalah kota industri.
Ini baru penampakan sebagian kecilnya.

Setelah menyaksikan pertunjukan Wings of Time, kami pun menuju ke Johor Baru, tempat hotel kami. Seperti sebelumnya, kami ke imigrasi Singapura lagi untuk melapor sebelum meninggalkan kota kecil nan cantik ini. Amat sangat ketat memang, yang masuk dan keluar harus jelas.
Ok, sekian dulu untuk trip kali ini. To be continue ke Edisi Malaysia yah...

Senin, 23 Maret 2020

Sosial Distancing

Jarak tercipta untuk menghindar
Menyelamatkan raga dan rasa
Jarak ada untuk mencegah
Pandemi yang semakin merajalela

Jarak hadir untuk menguji
Sebesar apa rindu yang dipunyai
Jarak kadang menyoal
Pemisahan rasional dan emosional

Sabtu, 14 Maret 2020

Corona a.k.a Covid-19

Sejak diumumkan bahwa Corona sudah naik pangkat dari endemi ke pandemi, dunia semakin dilanda kepanikan. Allah, hanya dengan hal yang kecil bahkan tidak kelihatan, Engkau mampu memporak-porandakan kesombongan dan keangkuhan selama ini

Allah, terima kasih
Engkau "memaksa" hamba umroh tahun lalu, yang sebenarnya saya mau tunda ke tahun ini karena merasa belum siap.
Kini, Arab Saudi menutup sementara akses untuk umroh karena pandemi corona
Allah, terima kasih
Study tour kami ke Malaysia Singapura kemarin berjalan lancar, bahkan Singapura disebutkan bertanda orange tepat ketika kami sudah sampai di tanah air kembali

Allah, betapa manisnya rencana-rencana-Mu
Tak ada yang lebih cepat dan tak ada yang lebih lambat
Kini, mohon lindungi kami
Hindarkan kami dari pandemi corona
Dari dosa-dosa yang kami sengaja maupun tidak
Ampuni kami
Bantu kami agar virus ini segera teratasi
Allah, sungguh terima kasih atas segala garis takdir-Mu yang selalu indah
Yang selalu tepat
Yang selalu menyisakan hikmah

Rehat

Bu, capekku
Mauka libur bu
Kapan nda sekolah bu?
Pernyataan dan pertanyaan yang sering kudengar dari siswaku
Saat ada tugas menumpuk
Saat mereka lelah dengan rutinitasnya

Sebentar lagi UN
Setelah itu, bisa lega
Eh tapi masih ada ujian masuk SMA
Wah tapi masih ada ujian masuk perguruan tinggi
Kok tidak bisa selesai?

Begitulah nak
Dalam hidup, kita tidak pernah benar-benar berhenti
Kita hanya istirahat sejenak
Mengumpulkan iman, tekad dan tenaga untuk memulai aktivitas kembali

Saat bayi, kita punya PR untuk MPASI
Setelahnya, belajar jalan dan bicara
Belajar lari dan bernyanyi
Masuk sekolah dan ketemu tugas
Lulus SD,  lanjut SMP
Dan seterusnya

Lalu, kapan istirahatnya?
Kapan kita benar-benar bisa rebahan?
Selama masih di dunia, itu belum akan terjadi nak
Sekali lagi, dunia ini sementara
Rehatnya pun hanya sebentar
Ada tugas pribadi yang harus diselesaikan
Ada amanah umat yang harus diemban

Istirahat yang sesungguhnya
Adalah di surga-Nya kelak
Saat dengan indahnya Allah mempersilakan umat-Nya
Memilih pintu masuk yang dia suka
Aamiin

Jumat, 13 Maret 2020

Resonansi

Terkadang ada tanya
Kok si A dan B gampang akrab
Kok saya susah sekali memahami karakternya
Pelajaran ini mengapa sulit dimengerti
Dan berbagai tanya yang sejenis

Pernah pula
Suatu saat bertemu orang baru
Tetiba akrab layaknya kenalan lama
Seolah pernah ada di masa lalu
Seolah sudah kenal sebelum itu

Jawabannya adalah resonansi
Dan dia alami
Seseorang yang memiliki visi dan frekuensi yang sama
Akan mudah untuk bercengkrama
Akan mudah berbagi kisah
Meski, kenal belum terpaut pekan


Orang-orang dengan tujuan sama
Akan bersinggungan di perjalanan
Kemudian menyadari
Bahwa dia teman yang kucari
Benarlah, jika kalian ingin mengenal seseorang
Lihatlah teman dekatnya

Sikap dan sifat mereka
Kadang tak bisa dibedakan
Bahkan lucunya
Kadang menggunakan warna pakaian yang sama
Tanpa janjian sebelumnya

Itulah resonansi
Dia datang sendiri
Secara alami
Sehingga mudah saling memahami

Sabtu, 29 Februari 2020

Lelaki sederhana yang kupanggil bapak

Iya
Beliau sangat sederhana
Sesederhana ketika meminta mama menghubungiku saat belum pulang ketika reuni
Karena hape tak kupegang kala itu, beliau datang menjemput tanpa kuketahui
Di tengah rapat reuni dengan teman angkatan, seseorang mengatakan bahwa bapakku menunggu di luar
Saat itu aku malu, terpaksa pulang paling cepat hanya gara-gara tak mengangkat telepon mama

Beliau sangat sederhana
Membelikan kue ketika pulang kerja karena tau bahwa anaknya akan ngambek seharian jika tak ada ole-ole
Bapak saat itu masih kerja di luar kota, sepekan sekali balik ke rumah

Beliau amat sederhana
Ketika kuminta memilih ole-ole dari umrah, tidurnya tak nyenyak. Takut aku diganggu sama penjual di Madinah sana

Beliau amat sederhana
Saat keinginannya berbenturan dengan cita-citaku, beliau memilih mengalah
Memberi ruang agar aku bisa menggenggam cita-cita

Beliau lelaki setia
Tak pernah kudengar gosip miring tentangnya di luar sana
Beliau menempatkanku sebagai partner
Yang pendapatnya mesti diminta sebelum memutuskan sesuatu

Beliau bapakku
Terlepas dari segala kekurangannya... 
Cinta pertamaku
Kelak, akan menjadi wali nikahku
Aamiin

Selasa, 28 Januari 2020

Antara Ambisi dan Berpasrah Diri

Kamu tau arti perjuangan?
Membuat sesuatu menjadi nyata milikmu
Merayakan keberhasilan atas pencapaianmu
Dahulu, definisi ini kuyakini
Sampai pada satu saat
Ketika takdir mengajarkan keikhlasan
Bahwa sebesar apapun usaha dan doa, Allah lebih tau yang tepat

Yah, dahulu kusebut ambisi
Harus lulus di kampus impian ITB
Melanjutkan pendidikan strata 2
Dua kali dalam dua tahun kucoba berjuang menaklukkannya
Dan dua kali pula saya gagal
Ya Allah apa maksud semuanya

Di tahun kedua, selain di ITB kucoba mencari kampus lain
UGM lah yang jatuh sebagai pilihan
Setelah berserah, berusaha dan berdoa, Allah bukakan jalan itu
Lulus beasiswa full LPDP
Melanjutkan kuliah di pilihan kedua
Tak apa, Allah pasti memiliki rencana terbaik

Kujalani dengan ikhlas
Kumaksimalkan perjuangan
Yang ternyata justru baru dimulai
Mempertahankan IPK
Mengejar ketertinggalan
Dan belajar mengenal diri
Dalam bingkai himpunan mahasiswa muslim pascasarjana
Belajar menjadi pemimpin
Membagi waktu dengan beban akademik seabreg
Tapi, justru pelajaran barunya di sini

Akhirnya kusimpulkan
Bahwa usaha dan doa tak cukup
Harus ada pasrah yang menyertai
Tawakal tepatnya
Karena sehebat apapun rencana
Ada Dia Yang Maha Pembuat Skenario Terbaik

Minggu, 26 Januari 2020

Memeluk Doa

Dahulu ketika saya kecil, setiap ada permintaan, selalu doa yang menjadi senjata utama. Dalam setiap sujud dan tengadah tangan, sesederhana itu. 
Mulai dari hal ringan seperti meminta jadi juara kelas, pindah ke kelas unggulan, mama menjadi sahabat, mau liburan ke Makassar, dibelikan sepatu baru, hingga yang berat seperti masuk surga dan kesembuhan bapak. 

Dahulu, doa menjadi suatu rutinitasku, tempat curhatku selain diary tentunya. Setelahnya, akan ada rasa lega yang tak bisa kuungkapkan. Yah itu dahulu, saat masalah belum serumit orang dewasa, saat keyakinanku menggunung bahwa Allah mendengarku dan saat aku masih kecil. 

Mengapa justru saat dewasa, keragu-raguan berdoa kadang kualami. Galau tidak jelas, lebih mendengarkan ucapan manusia lain, lebih berharap ke makhluk-Nya dan kadang prasangka buruk ke Allah tak bisa kuhindari. Maafkan Ya Allah, maafkan jika selama ini saya sudah merasa "dewasa", saya sudah jarang memeluk doa, menjadikannya kekuatan. Maafkan Ya Allah, jika saat berdoa pun saya kadang ragu, kadang tak yakin, padahal Yang Maha Mengabulkan hanya Engkau. Yang lebih besar dari doa-doaku sudah Engkau berikan tanpa kuminta.

Kali ini izinkan doa-doaku terpusat pada satu permintaan dunia akhiratku. Mudahkan perjuangannya menghalalkanku, memintaku pada orang tuaku, lemah lembutkan hati orang tuanya untuk menerimaku, dan berkahilah semuanya. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Tahu yang terbaik untuk hamba-hamba-Mu.

Sesungguhnya hati ini telah ada pilihan. Semoga sesuai dengan pilihan-Mu. Aamiin

Minggu, 12 Januari 2020

Sang Guru Kehidupan

Bismillahirrahmanirrahim
Setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru. Itu kalimat ngutip. Bagiku, guru kehidupan pertamaku adalah mama dan bapak. Selain karena mereka memang berprofesi sebagai guru. Sifat keduanya sangat berbeda. Mama yang dari kecil mandiri, terbiasa dominan dan memutuskan apapun sendiri, sangat berbeda dengan bapak yang selalu bergantung ke mama, yang selalu meminta pendapatnya bahkan kadang keputusan penting dibuat oleh mama. 

Hal tersebut memberi dampak positif dan negatif untukku. Dampak positifnya, jika mama setuju dengan pilihanku, maka bisa dipastikan 90% bapak ikut. Sebaliknya, jika apa yang kuputuskan mama kurang setuju, bapak kadang tidak bisa berbuat apa-apa. Itu dulu, ketika saya masih kecil. Sekarang, kadang malah bapak yang minta pendapatku. Jika saya bilang iya, bapak biasanya ikut, meski mama bilang tidak. 

Dominannya mama menurun padaku. Mulai jurusan saat kuliah sampai keputusan penting saat kerja, kadang kuputuskan sendiri, tapi tetap diskusi dahulu dengan Allah dan mama. Salah satunya, mendaftar CPNS tahun ini. Mama memberikan saran agar mendaftar, tapi saya berhasil meyakinkan bahwa dalam dunia kerja, selain gaji, lingkungan juga harus mendukung, kenyamanan itu yang utama. Nyaman dan aman. Dalam hal memilih suami pun, saya banyak berdiskusi dengan mama. Beliau hanya memberi saran, jangan yang kerjanya jauh yah nak. Mungkin beliau merasakan bagaimana dukanya ketika anaknya harus merantau ke Jogja waktu melanjutkan pendidikan. Saya hanya mengiyakan, Bismillah. Ridho orang tua adalah ridho-Nya. Mama hanya bilang, Insya Allah ada yang dekat akan menjadi jodohmu. Aamiin... 

Sekarang, bapak lebih sering curhat. Mulai dari masalah pagar sampai mobil. Dan semuanya minta pendapatku. Dalam hal ini, saya lebih tahu dan mengerti, suami seperti apa yang saya butuhkan, tentunya dengan tetap meminta petunjuk-Nya. Suami yang mengerti kedominanan istrinya, si pembuat keputusan tanpa mengabaikan saran istrinya, si lelaki yang tak otoriter, ikhwan yang siap menerima keras kepala istrinya untuk hal yang menurutnya benar. Allah Maha Tahu, mudahkan Ya Allah. Semoga dia yang sedang kunanti sementara memperjuangkanku, memintaku pada-Mu, pada orang tuanya dan kemudian orang tuaku
Aamiin... 

Biasa

Aku mengenalmu karena kebiasaan
Biasa bertemu
Biasa bercengkerama
Biasa membahas hal yang hanya berani kuutarakan padamu

Aku tak tahu pribadimu sedalamnya
Aku hanya mengenal sisimu kala kita bekerja bersama
Hingga aku tak sadar
Kebiasaan itu menimbulkan hal yang tak biasa

Tak ada yang istimewa denganmu
Kecuali tentang taatmu kepada-Nya
Tentang kegelisahanmu akan fitnah yang semakin merambah
Tapi bagiku itu lebih dari cukup
Cukup membuatku ingin mengenalmu lebih jauh

Kuyakin banyak yang lebih taat darimu
Banyak yang lebih memesona
Banyak yang lebih berada
Tapi nyatanya, aku terbiasa denganmu
Dengan kebiasaan yang tak kau sadari mengubah biasaku

Jika ini cinta
Jangan biarkan aku jatuh
Jika kau tak rasakan yang sama
Semoga aku kuat saat kau menjauh

Pengalaman Unik Selama Umroh

Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah bisa posting cerita lagi. Masih tentang pengalaman saat umroh. Kali ini, tidak ada hubungannya dengan ketentuan umroh yang kami jalani. Ini hanya beberapa pengalaman yang bisa jadi orang lain alami, bisa juga hanya saya sendiri yang mengalaminya. Harapan saya, semoga bisa menjadi pelajaran berharga untuk diambil ibrohnya:
1. Saat di Madinah, sempat kesal sama seorang bapak-bapak yang dengan seenaknya menerobos antrian saat akan mengambil makanan. Mukaku sudah kutekuk sedemikian rupa, dia gak peka. Malahan jidatku terantuk kaca. Temanku bertanya, kenapa kesal. Saya jawab dengan emosi mengenai bapak-bapak yang di depanku itu. Saya terantuk kaca lagi. Ya Allah, mungkin ini teguran dari-Mu agar tak merusak ibadahku dengan hal sepele seperti ini
2. Saat belanja bersama kedua nenekku, saya digoda oleh penjualnya yang kalau dilihat-lihat masih muda. Pas dia tanya saya sudah nikah atau belum, langsung saja saya jawab sudah, biar bisa terhindar dari kekurangajarannya. Ya Allah, maafkan saya terpaksa berbohong, tapi manjur. Dia lumayan menjaga jarak setelahnya. Hihi
Tentang kejadian ini, kemarin saya ditelepon bapakku yang curhat waktu saya umroh, dia deg-deg an terus, memikirkan apakah anak gadisnya saat belanja digoda oleh penjualnya. Sayapun terpaksa mengatakan kalau kami belanjanya rombongan, agar beliau tidak terlalu khawatir. Saya tahu bapak, ketika beliau khawatir, akan berpengaruh ke fisiknya. Memang beberapa kali belanjanya rombongan, tapi pernah juga belanjanya sendiri atau hanya bertiga sama nenekku. Firasat beliau luar biasa kuat. Mungkin karena doa-doanya, Alhamdulillah saya terlindungi. 
3. Saat antri akan mengambil air zam-zam dari keran di luar Masjidil Haram, dalam keadaan berdesakan, Alhamdulillah ada ibu-ibu yang stay di depan keran buat membantu mengambilkan air. Alhamdulillah dipermudah.
4. Saat akan mengambil air zam-zam dari keran di dalam Masjidil Haram, tanpa sengaja sepatu yang kumasukkan ke dalam plastik masuk ke tempat sampah. Saya bingung karena tempat sampahnya hanya bolong di atas, sedangkan di bawah digembok. Alhamdulillah dapat orang Timur Tengah yang dengan senang hati membantu. Setelah dia berusaha maksimal, ternyata sepatunya masih belum bisa diambil. Akhirnya, saya minta tolong ke perempuan bercadar, semacam panitia masjid. Dengan Bahasa Inggris yang belepotan, saya mengutarakan maksud. Dia seketika bilang "Orang Indonesia yah? Saya juga" Hahhahah. Kenapa tidak bilang dari tadi mbaaakkk. Alhamdulillah melalui mbaknya, sepatu saya akhirnya bisa diambil. 
4. Pengalaman ini menimpa teman satu rombongan. Uang dan perhiasan yang ada di tasnya dirampok oleh perempuan Pakistan di teras Masjidil Haram. Alhamdulillah polisi di sana gercep, hanya dengan kode-kodean antar sesamanya, si rampok bisa diringkus dengan mudah. Adapula teman satu rombongan yang dicopet, baru sadar ketika akan membayar belanjaan. Sarannya, tas yang berisi uang saat digunakan baiknya ditaruh di baguan depan agar mudah dikontrol. Dan kalau tidak terlalu penting, uang dan perhiasan mungkin ditinggal di hotel saja, pada koper yang digembok.
5. Beberapa teman satu rombongan juga sakit ketika di sana. Yang paling banyak adalah yang demam dan flu. Kedua nenekku pun. Jadi, selalulah sediakan obat ketika akan ke sana, karena obat di sana mahaaalll. 




Sabtu, 04 Januari 2020

Jejak Sejarah Rasulullah di Tanah Haram

Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah memasuki hari ketiga di Makkah, kami akan melaksanakan ihram kedua. Kali ini kami miqat di Ji'ranah. Setelah sarapan dan mandi untuk melaksanakan ihram kembali, kami pun menuju bus bersama rombongan. Setelah shalat sunah 2 rakaat di masjid Ji'ranah, kami pun bersiap menuju ke Masjidil Haram kembali untuk melaksanakan tawaf. Di perjalanan, kami disuguhkan oleh pemandangan yang tak lazim di Indonesia. Tidak ada macet kendaraan, toko-toko di sepanjang jalan sunyi pengunjung, tak ada seorang pun perempuan yang lalu lalang. Konon, mereka biasanya berbelanja pada malam hari, perempuan menggunakan cadar didampingi oleh suami dan pembantunya. Penghormatan terhadap istri sangat diutamakan. Selain itu, saya pun heran menyaksikan rumah penduduk di sini. Tak ada atap segitiga seperti di Indonesia, yang ada hanya atap flat layaknya gedung tinggi. Awalnya, saya mengira itu hotel, ternyata beberapa di antaranya rumah penduduk. Kaya yah mereka, hehhehe... 

Kami khusyuk mendengarkan ustadz pemandu menjelaskan tempat-tempat bersejarah di sepanjang perjalanan yang kami lalui. Salah satu yang menarik perhatian adalah Gua Tsur dan Gua Hira. Gua Tsur tempat persembunyian Rasulullah dan Abu Bakar ketika dikejar oleh pasukan kafir Quraisy, saat merek hijrah ke Madinah. Sedangkan Gua Hira adalah tempat Rasulullah menyendiri ketika khawatir dengan keadaan kaumnya yang semakin getol menyambah berhala. Di tempat ini pula Rasulullah untuk pertama kalinya menerima wahyu melalui Malaikat Jibril, yang ditandai dengan turunnya Surah Al-Alaq:1-5.
Gua Hira, tempat Rasulullah menerima wahyu pertama kali


Gua Tsur, tempat Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi dari kejaran kaum kafir Quraisy

Setelah itu, kami pun menuju ke Masjidil Haram untuk tawaf dan sa'i, lalu tahallul. Berbeda dengan umroh pertama, kali ini kami selesai pada jam 3 sore.

Umroh ketiga kami laksanakan di H-1 sebelum meninggalkan Makkah. Kami miqat di Masjid Hudaibiyah. Ingat Hudaibiyah? Selain sebagai tempat, ada pula sejarah Perjanjian Hudaibiyah antara Rasulullah dan Kafir Quraisy. Di tahun ke-6 H, kaum muslimin yang ada di Madinah akan melaksanakan ibadah haji dan umroh yang dipimpin oleh Rasulullah. Mereka sudah sangat rindu dengan tanah kelahirannya. Tetapi, rombongan dihadang oleh Kafir Quraisy di lembah Hudaibiyah, dilarang melaksanakan haji dan umroh pada tahun itu. Padahal, kaum muslimin sudah melaksanakan shalat dan berihram. Untuk menghindari gencatan senjata, dibuatlah Perjanjian Hudaibiyah. Salah satu isinya adalah kaum muslimin hanya boleh tinggal 3 hari di Makkah dan tidak boleh menunaikan haji pada tahun itu, melainkan kembali pada tahun berikutnya.

Perjanjian ini sangat tidak disetujui oleh kaum muslimin karena mereka merasa sangat dirugikan. Mereka bahkan kecewa dengan keputusan Rasulullah saat itu. Tetapi, setahun kemudian dampak positif dari perjanjian ini mereka rasakan. Andaikan pada tahun tersebut mereka tetap pada pendirian untuk melaksanakan haji dan umroh, maka akan membahayakan kerabat mereka di Makkah yang diam-diam sudah memeluk Islam.

Sebelum miqat di Hudaibiyah, kami terlebih dahulu menuju ke tempat peternakan unta, Jabal Rahmah dan melintasi Padang Arafah. Ustadz juga memperlihatkan bukit yang akan digunakan untuk menyembelih Nabi Ismail ketika perintah turun ke ayahnya, Nabi Ibrahim. Karena keyakinannya, Allah kemudian mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba. Hal inilah yang menjadi asbabun nuzul dianjurkannya berkurban. Ada tempat melempar jumrah, ada pula kemah-kemah yang digunakan jama'ah haji pada saat akan wukuf di Arafah. Kemah ini digunakan setahun sekali ketika musim haji.
 Jabal Rahmah

Peternakan unta

Ada Jabal Rahmah si simbol cinta. Tempat pertemuan Nabi Adam dan Hawa, tulang rusuknya. Cinta karena Allah, apapun halangan dan rintangannya, Insya Allah akan dipertemukan jua. Nah, perjalanan kami di Makkah berakhir di tempat ini, setelahnya kami istirahat di hotel atau ibadah di Masjidil Haram.

Ada beberapa pengalaman berharga yang merupakan hal-hal yang tidak semua orang alami di Makkah dan Madinah. Insya Allah akan saya rangkum dalam episode tulisan selanjutnya... 

Jumat, 03 Januari 2020

Edisi di Makkah Al Mukarramah 1

Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah update lagi. Setelah shalat dzuhur dan makan siang di hotel Madinah, kami menuju ke Makkah untuk melaksanakan umroh secara lengkap. Sebelumnya, kami mandi wajib di hotel terlebih dahulu sebagai pertanda akan melaksanakan ihram. Sebelum ke Masjidil Haram, kami menuju ke Birr Ali untuk mengambil miqat atau berniat akan ihram. Setelah berniat, semua larangan ketika ihram mulai berlaku hingga tahallul nanti.
Adapun larangan-larangannya yaitu tidak boleh menutup muka dan telapak tangan, rambut dan bulu dijaga agar tidak rontok, tidak boleh menggunakan wewangian dalam bentuk apapun, tidak boleh dandan, tidak boleh menggunakan pakaian yang dijahit (bagi laki-laki) dan aurat tidak boleh terlihat. Kami pun menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam untuk sampai ke Makkah.

Setelah sampai di Makkah, kami ke hotel untuk makan dan memperbaharui wudhu. Alhamdulillah makanan di Makkah Indonesia banget, jadi lidah lebih bersahabat. Kami pun menuju ke Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf, sa'i dan tahallul. Keharuan kembali menyelimuti ketika mata ini melihat Ka'bah untuk pertama kali. Berbagai ras manusia yang memiliki visi yang sama sedang melaksanakan ibadah di sana. Terbayang kembali ketika Fathu Makkah, Bilal si muazin Rasulullah,  naik ke atas Ka'bah dan mengumandangkan azan. Semua diliputi keharuan dan kegembiraan ketika Makkah dapat diduduki kembali oleh kaum muslimin. Tetapi Abu Bakar berbeda, beliau malah memiliki firasat lain. Jika Makkah sudah diduduki kaum muslimin, artinya tugas Rasulullah akan menemui usainya dan itu berarti...

Terbayang pula ketika 360an berhala dihancurkan oleh kaum muslimin. Tak ketinggalan perjuangan Ibrahim dan Ismail dalam membangun Ka'bah, meletakkan Hajar Aswad di salah satu sudutnya. Ya Allah, hati ini tiba-tiba penuh cinta, mata menahan genangan dan pikiran melaju ke masa lalu.

Setelah shalat jamak takhir Maghrib dan Isya di Masjidil Haram, kami pun menuju Ka'bah untuk melaksanakan tawaf. Sebelum memasuki wilayah tawaf, ustadz pemandu membagi kami dalam beberapa barisan dan saling berpegangan tangan (sesama jenis tentunya). Sambil melantunkan doa yang dituntun ustadznya, kami melaksanakan tawaf. Nenek kembarku menggunakan kursi roda karena lutut mereka tidak kuat untuk berjalan. Setelah genap 7 putaran, kami menuju ke Hijr Ismail untuk shalat sunah dan berdoa, lalu ke tempat air zamzam untuk minum. Kami pun menuju ke Bukit Shafa untuk melaksanakan sa'i.
Foto setelah sa'i

Saya kembali mengenang perjuangan Hajar, Bunda Nabi Ismail ketika dibawa oleh Nabi Ibrahim ke salah satu padang gersang di Makkah. Keadaannya dulu belum seindah, seteduh dan sedingin sekarang. Saat Hajar bertanya mengapa Ibrahim membawa mereka ke sana dan akan meninggalkannya, Ibrahim tak dapat berkata apa-apa. Lalu Hajar berujar "Jika ini perintah Allah, maka kami ikhlas karena Allah tidak mungkin menyia-nyiakan kami". Ya Allah, apa arti keluhan kami yang melaksanakan sa'i di tempat yang sudah dibuat sedemikian teduh ini... 
View dari Bukit Marwah ke arah Bukit Shafa

Selesai sa'i, kami melaksanakan tahallul atau bercukur sebagai bentuk ihram kami telah selesai. Kemudian kami siap-siap untuk kembali ke hotel agar bisa istirahat. Saat itu sudah menunjukkan jam 2 dinihari. Bersambung... 

JURNAL 11 BULAN CAWA

Bismillahirrahmanirrahim Sabtu, 31 Agustus 24: Sekitar pukul setengah 9 malam, Cawa tidur setelah meminum susu dari botol susunya. Tapi, sek...