Jumat, 03 Januari 2020

Edisi di Makkah Al Mukarramah 1

Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah update lagi. Setelah shalat dzuhur dan makan siang di hotel Madinah, kami menuju ke Makkah untuk melaksanakan umroh secara lengkap. Sebelumnya, kami mandi wajib di hotel terlebih dahulu sebagai pertanda akan melaksanakan ihram. Sebelum ke Masjidil Haram, kami menuju ke Birr Ali untuk mengambil miqat atau berniat akan ihram. Setelah berniat, semua larangan ketika ihram mulai berlaku hingga tahallul nanti.
Adapun larangan-larangannya yaitu tidak boleh menutup muka dan telapak tangan, rambut dan bulu dijaga agar tidak rontok, tidak boleh menggunakan wewangian dalam bentuk apapun, tidak boleh dandan, tidak boleh menggunakan pakaian yang dijahit (bagi laki-laki) dan aurat tidak boleh terlihat. Kami pun menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam untuk sampai ke Makkah.

Setelah sampai di Makkah, kami ke hotel untuk makan dan memperbaharui wudhu. Alhamdulillah makanan di Makkah Indonesia banget, jadi lidah lebih bersahabat. Kami pun menuju ke Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf, sa'i dan tahallul. Keharuan kembali menyelimuti ketika mata ini melihat Ka'bah untuk pertama kali. Berbagai ras manusia yang memiliki visi yang sama sedang melaksanakan ibadah di sana. Terbayang kembali ketika Fathu Makkah, Bilal si muazin Rasulullah,  naik ke atas Ka'bah dan mengumandangkan azan. Semua diliputi keharuan dan kegembiraan ketika Makkah dapat diduduki kembali oleh kaum muslimin. Tetapi Abu Bakar berbeda, beliau malah memiliki firasat lain. Jika Makkah sudah diduduki kaum muslimin, artinya tugas Rasulullah akan menemui usainya dan itu berarti...

Terbayang pula ketika 360an berhala dihancurkan oleh kaum muslimin. Tak ketinggalan perjuangan Ibrahim dan Ismail dalam membangun Ka'bah, meletakkan Hajar Aswad di salah satu sudutnya. Ya Allah, hati ini tiba-tiba penuh cinta, mata menahan genangan dan pikiran melaju ke masa lalu.

Setelah shalat jamak takhir Maghrib dan Isya di Masjidil Haram, kami pun menuju Ka'bah untuk melaksanakan tawaf. Sebelum memasuki wilayah tawaf, ustadz pemandu membagi kami dalam beberapa barisan dan saling berpegangan tangan (sesama jenis tentunya). Sambil melantunkan doa yang dituntun ustadznya, kami melaksanakan tawaf. Nenek kembarku menggunakan kursi roda karena lutut mereka tidak kuat untuk berjalan. Setelah genap 7 putaran, kami menuju ke Hijr Ismail untuk shalat sunah dan berdoa, lalu ke tempat air zamzam untuk minum. Kami pun menuju ke Bukit Shafa untuk melaksanakan sa'i.
Foto setelah sa'i

Saya kembali mengenang perjuangan Hajar, Bunda Nabi Ismail ketika dibawa oleh Nabi Ibrahim ke salah satu padang gersang di Makkah. Keadaannya dulu belum seindah, seteduh dan sedingin sekarang. Saat Hajar bertanya mengapa Ibrahim membawa mereka ke sana dan akan meninggalkannya, Ibrahim tak dapat berkata apa-apa. Lalu Hajar berujar "Jika ini perintah Allah, maka kami ikhlas karena Allah tidak mungkin menyia-nyiakan kami". Ya Allah, apa arti keluhan kami yang melaksanakan sa'i di tempat yang sudah dibuat sedemikian teduh ini... 
View dari Bukit Marwah ke arah Bukit Shafa

Selesai sa'i, kami melaksanakan tahallul atau bercukur sebagai bentuk ihram kami telah selesai. Kemudian kami siap-siap untuk kembali ke hotel agar bisa istirahat. Saat itu sudah menunjukkan jam 2 dinihari. Bersambung... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JURNAL 11 BULAN CAWA

Bismillahirrahmanirrahim Sabtu, 31 Agustus 24: Sekitar pukul setengah 9 malam, Cawa tidur setelah meminum susu dari botol susunya. Tapi, sek...