Minggu, 24 April 2016

AKHWAT TRIP TO SOLO

Perjalanan ke Solo menggunakan kereta api memakan waktu sekitar 1 jam. Dari Stasiun Tugu, kami “menumpang” Prambanan Ekspres ke kota Solo, Sabtu 23 Januari kemarin. Sayangnya, perjalanan kami diawali oleh peristiwa yang kurang enak, salah seorang teman yang juga akan berangkat, terlambat tiba di stasiun, hingga kami pun meninggalkannya. Jumlah yang awalnya 10 orang, akhirnya menjadi 9 orang. Pukul 9 lebih, kami tiba di Stasiun Balapan Solo, dan menunggu Al, salah seorang ukhti HIMMPAS yang akan menjemput kami. Pukul 10 kurang, kami dapat kejutan dari Al, ternyata dia menjemput kami bersama dengan kedua orang tuanya, 2 mobil, salah satunya dikendarai ayahnya dan lainnya dikemudikan bundanya. Masya Allah, betapa baiknya mereka sekeluarga, ya Allah berkahi keluarga mereka. Destinasi pertama adalah rumah Al, di sana kami dijamu makanan berat dan snack. Setelah makan dan berbincang sedikit, kami diantarkan ayahnya ke Pasar Klewer, pasar terkenal di kota Solo, pusat grosir dan eceran, dan ternyata bundanya memiliki salah satu kios di pasar tersebut, khusus menjual jaket. Kami dengan riangnya memilih dan memilah barang dagangan bunda Al, apalagi harganya yang sangat miring. Setelah “merusuh”, kami pamit menuju keraton, tetapi sebelumnya kami mampir sholat dzuhur di Mesjid Ageng Solo. Mesjid yang arsitektur keratonnya masih asli, ukirannya, bagian/ruangan per mesjid, masih memberikan suasana kerajaan tempo dahulu kala, meski kata Al ada beberapa bagian yang sudah dipugar untuk mengokohkan bangunannya. Airnya pun sangat segar, serasa ingin mandi.

Perjalanan dilanjutkan ke keraton, dengan membeli tiket masuk terlebih dahulu. Seperti kaum wanita pada umumnya, setiap momen dipotret, termasuk saat kami baru memasuki pintu masuk keraton. Berfoto di pendopo, di depan museum, di depan menara, dan di tempat-tempat strategis untuk diabadikan. Ada peraturan unik ketika memasuki area keraton, yang menggunakan sendal harus dilepas. Untungnya, definisi sendal di sini adalah yang tidak memiliki tali belakang, jadi meski terbuka di bagian depan, alas kakiku dihitung sepatu. Saat memasuki area keraton, aura kerajaan makin kental terasa. Saya sempat membayangkan posisi prajurit-prajurit berdasarkan wilayah kerjanya masing-masing di dalam keraton. Bagaimana halaman luas digunakan mereka untuk berlatih fisik, wajah senang warga saat menyaksikan pertunjukan seni keraton, saat mereka duduk membicarakan kepentingan kerajaan dan menerima tamu utusan kerajaan lain di pendopo, dan semua peristiwa khas film kolosal yang sering saya ikuti di TV dulu.

Di wilayah ini, ada 2 museum. Satu museum untuk penyebar Islam ke Nusantara, yaitu Wali Songo, lainnya adalah museum alat-alat berperang, alat-alat masak, kendaraan dan semua perlengkapan kerajaan. Saya sempat terpesona dengan tulisan di salah satu dinding museum “WILUJENGAN MERUPAKAN SELAMATAN YANG SUDAH MENTRADISI DI MASYARAKAT JAWA, DOA-DOANYA MEMAKAI LAFAL ISLAM TETAPI KELENGKAPANNYA MENGGUNAKAN SESAJI CARA JAWA [AKULTURASI/PERCAMPURAN ISLAM DAN BUDAYA JAWA”. Dari tulisan tersebut tersirat bahwa saat pemerintahan Kasunanan Surakarta tersebut, Wali Songo menyebarkan agama Islam dengan mengadaptasi kebudayaan setempat , agar Islam mudah diterima, meski tradisi yang mengandung kesyirikan belum bisa dihapus maksimal. Di museum ini juga terdapat wayang, yang mungkin saja digunakan Wali Songo sebagai media syiar Islam. Di bagian lain, terdapat Al-Quran yang terjemahannya menggunakan bahasa Jawa. Karena keterbatasan waktu, kami belum sempat mengunjungi museum Wali Songo.

Kami kembali ke Pasar Klewer untuk belanja ole-ole pakaian, lalu melanjutkan perjalanan ke destinasi terakhir, Taman Balekambang. Di pintu masuk, tertulis sejarah taman ini dibangun. Konon, taman ini dibangun oleh Mangkunegoro VII pada 26 Oktober 1921, sebagai simbol cinta untuk kedua putri beliau. Itulah sebabnya, di awal pembangunannya, taman ini terbagi 2 wilayah, Partini Tuin (Taman Air Partini) dan Partinah Bosch (Hutan Kota Partinah). Kedua taman inilah yang dikenal dengan Taman Balekambang. Ada beberapa rusa dan angsa di sini. Terdapat pula danau buatan yang dilengkapi perahu dayung model bebek, naga dan rumah-rumahan. Setelah puas menjelajahi kota Solo dengan wisata dan belanjanya, kami kembali ke Jogja untuk melanjutkan aktivitas umum seorang mahasiswa.

WAHAI KETUA ORGANISASI, BAGAIMANA JIKA KAU MEMIMPIN SATU MANUSIA SAJA?

Beberapa waktu yang lalu, saya berbagi cerita dengan seorang teman, sebut saja Fulanah. Entah mengapa, pembicaraan kami terseret ke arah sensitif, lamaran. Jadi dia cerita, seorang petinggi di kampusnya dulu, sebut Fulan, menyatakan akan melakukan “silaturahmi kembali” dengannya setelah lama tidak bertemu, alias bertamu ke rumah Fulanah itu. Secara tersurat memang belum ada kata lamaran, hanya Fulan mengatakan bahwa dia mau mengenal Fulanah lebih dekat lagi, langsung di depan orang tuanya. Qadarallah, di hari-H ternyata bertabrakan dengan jadwal acara lain dari Fulanah, akhirnya dibuatlah kesepakatan mengenai waktu bertamunya Fulan, agar tidak ada acara yang dikorbankan. Tepat di waktu yang sudah disepakati, Fulan ternyata belum muncul. Hingga malam tiba, Fulan tetap tak kelihatan plus tanpa kabar apapun. Tentu saja ada pertanyaan besar dan kekecewaan dari Fulanah. Esoknya (kalau nda salah ingat), Fulanah mengirim BBM ke Fulan, menanyakan mengapa dia tidak datang, tapi jawaban apa yang didapatkan? Malah si Fulan menyalahkan Fulanah dan mengaku kecewa kepadanya. Lah, Fulanah jelas bingung, yang kecewa siapa, yang disalahkan siapa.

Dari sini, saya jadi berpikir, ternyata pengalaman seabrek di sebuah organisasi, bahkan memegang posisi tertinggi, tidak menjamin akhlaknya seperti apa. Wallahu’alam yang terjadi sebenarnya, tapi paling tidak kita bisa mengambil pelajaran berharga dari peristiwa ini. Bahwa memilih seseorang yang akan menemani kita menghabiskan usia tak bisa dengan hanya melihat secara fisik, misal prestasi dan pengalaman, meski bisa saja mendukung. Mungkin dia mampu memimpin banyak manusia dengan berbagai karakter, tetapi belum tentu mampu menangani seorang manusia yang berpredikat istri. Mungkin dia mampu mencetak prestasi di luar dan di dalam negeri, tapi menjadi sandaran bagi seorang istri dia tak mampu. Dan mungkin, dia bisa memberi banyak kalimat motivasi bagi yang lain, tapi menenangkan hati seorang istri tak sanggup dia lakukan. Saya tidak bermaksud menjudge perorang atau pergolongan, hanya saja sebagai bahan pertimbangan saja, termasuk saya yang masih silau dengan prestasi yang terlihat.


Di lain sisi, banyak juga pemimpin yang sukses di negara, sukses di keluarga, Rasulullah SAW. Sukses di prestasi, sukses memuliakan istri, BJ Habibie. Sukses sebagai motivator, sukses sebagai pelopor dalam rumah tangga, Mario Teguh. Kita hanya cukup meluruskan niat, memperbaiki diri, berdoa terutama, agar diberi kesiapan dalam memilih dan dipilih, hingga tak salah pilih, insya Allah. Dan Allah akan mempertemukan di perjalanan bagi orang-orang dengan tujuan yang sama.

SEKELUMIT CERITA DARI TRANSFORMASEAN

Malam itu, sekitar pukul 12 malam, rombongan dari UGM tiba di stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, setelah kurang lebih 8 jam yang lalu menempuh perjalanan darat dengan kereta api Bengawan dari Yogyakarta. Masih ada waktu 5 jam yang harus kami isi untuk menunggu KRL yang akan membawa kami ke UI, tempat dilaksanakannya Silaturahmi Nasional (Silatnas) Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana (HIMMPAS) Universitas dan Forum Silaturahmi (FORSI) HIMMPAS Indonesia. Setelah melaksanakan shalat jamak Magrib-Isya dan makan, kami memutuskan untuk istrahat. Tak terasa jam dinding stasiun menunjukkan angka 5, yang berarti loket pembelian tiket KRL sudah dibuka, ketua rombongan kami pun mengantri. Pukul 5 lewat, KRL yang akan kami tumpangi tiba, kami para perempuan masuk ke gerbong khusus wanita.

Pukul 7 kurang, rombongan yang terdiri dari anak UGM, UNY, UNS, UNDIP dan UII tiba di stasiun UI. Kami pun diarahkan oleh panitia untuk menaiki biskun (bis kuning) yang akan mengantar ke asrama. Setelah mandi dan sarapan, kami menaiki biskun lagi ke tempat diadakannya rangkaian acara Silatnas hari ke-I. Acara dibuka oleh tilawah dan sambutan dari ketua panitia, ketua HIMMPAS UI dan Bagian Kemahasiswaan UI. Dilanjutkan dengan presentasi Call For Paper dari 2 pemenang, satu dari Bidang Sains dan Teknologi yang dimenangkan oleh Reza (UI) dan yang lainnya dari Bidang Sosial dan Humaniora, Ridwan Arifin (UGM). Reza mempresentasikan mengenai energi terbarukan yang sangat potensial dikembangkan di Indonesia, yaitu energi dari panas bumi (Geothermal), mulai dari potensi Indonesia sendiri, proses hingga energi tersebut dapat digunakan, kelebihannya, serta dampaknya terhadap keadaan ekonomi negara. Sedangkan Ridwan menjelaskan dampak yang ditimbukan oleh ekonomi yang tidak merata dan penerapan good governance sebagai solusinya.

Setelah presentasi, kami pun mengikuti talkshow sebagai rangkaian acara berikutnya. Diisi oleh 3 pembicara dengan latar berbeda, yaitu dosen Akuntansi (mewakili Soshum), dosen Fisika (mewakili Sainstek) dan dosen ilmu kesehatan. Ketiganya menyampaikan bagaimana kondisi dan kesiapan bangsa dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang dimulai Desember tahun ini, tantangan dan peluang yang kita miliki. Dari segi Ilmu Kesehatan, narasumber mengatakan bahwa kemajuan ekonomi dipengaruhi oleh kesehatan seorang anak sejak lahir hingga tumbuh dan berkembang. Mulai dari berat badan saat lahir, asupan nutrisi, serta keadaan fisik dan psikisnya sangat berpengaruh bagi kecerdasannya kelak. Dari bidang Fisika, produktivitas dalam menulis jurnal bagi mahasiswa dan dosen sangat diperlukan. Indonesia sendiri, yang memiliki akademisi sekitar 40ribu orang, setiap tahunnya hanya mampu menerbitkan 6ribu jurnal. Jumlah yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia. Kesenjangan ekonomi antara Indonesia dan negara ASEAN lainnya salah satunya dipengaruhi oleh kurangnya publikasi penelitian yang dilakukan oleh kedua elemen tersebut. Dalam melakukan penelitian pun, kita harus jeli melihat produk seperti apa yang dibutuhkan oleh pasar, jangan sampai hanya membuang dana tanpa hasil yang berkelanjutan. Dari ranah ekonomi, keahlian dalam bidang masing-masing sangat diharapkan. Jangan sampai beberapa tahun ke depan, pekerja ahli dan posisi strategis diduduki oleh orang asing, karena sangat kurangnya SDM dari negeri sendiri. Dan SDM kita tersedot ke luar negeri untuk menjadi “asistennya asisten” rumah tangga.

Kegiatan hari ke-I ditutup oleh launching buku dari HIMMPAS UI dan tukar kado antar peserta. Rangkaian kegiatan dilanjutkan kembali di hari ke-2 di ruang berbeda, agendanya adalah Musyawarah Nasional (Munas) FORSI HIMMPAS, yang terdiri dari pembahasan tata tertib, laporan pertanggungjawaban serta penetapan tempat Silatnas untuk tahun depan dan pemilihan Puskornas FORSI HIMMPAS periode selanjutnya. Meski diwarnai oleh keributan kecil akibat banyaknya perbedaan pendapat, kegiatan Munas berjalan lancar. Acara ditutup oleh penyerahan award kepada HIMMPAS yang dinilai produktif dalam program kerja dan karya. Dari UGM sendiri mendapatkan 2 award. Terakhir, selamat kepada Keluarga Islam Pascasarjana (KIPAS) UNDIP yang berhasil menjadi ketua Puskornas dan Forum Mahasiswa Muslim Pascasarjana (FOMMPAS) UNS sebagai tuan rumah Silatnas tahun depan.

Salam ukhuwah dari HIMMPAS UGM

TRIP TO BALIKPAPAN

Alhamdulillah tadi pagi jam 8 waktu Jogja, saya sampai di bandara Adisucipto. Perjalanan pesawat dari Balikpapan memakan waktu sekitar 1,45 jam. Meski lelah sehabis perjalanan, saya sangat bahagia. Benar-benar perjalanan yang sangat mengasyikkan. Keliling ke rumah sodara di Balikpapan, memberikan kesan dan berbagai pelajaran berharga yang mungkin takkan kudapat jika tahun ini tidak lebaran Idul Adha di sana. Allah memang selalu punya momen, cara, orang dan tempat untuk mentarbiyah hamba-hamba-Nya. Iya, tahun ini saya putuskan untuk lebaran plus mengunjungi keluarga di sana. Lumayan liburnya ada 6 hari (meski Jumat ada kuliah pengganti sih, hehe jadinya bolos). Memang sengaja mudiknya bukan ke Bone, pertimbangan waktu dan suasana, pengen merasakan suasana lebaran di kota lain, dan pas sekali nenek di Balikpapan sudah sejak lama mengundang ke tempatnya.

Setiba di bandara sana, Selasa petang, om (suaminya tante) langsung menjemput. Meski awalnya cari-carian dulu, pada gak kenal muka soalnya. Malam itu nginap di tempat nenek, ibunya tante. Esoknya, sehabis sholat Asar sudah dijemput sama om lainnya buat buka puasa sekaligus nginap di tempatnya. Keren, buka puasanya pake udang gueedeee, kolestrol dilupakan dulu sementara, hehe. Alhamdulillah keluarga di sana pada baik-baik. Esoknya lebaran Idul Adha di tempat om. Setelah sholat ied dan makan-makan, tante yang kemarin silaturahmi ke tempat om. Saat rombongannya tante pulang, saya ikut. Kemudian, mampir di rumah tante lainnya lagi. Benar-benar menyambangi hampir semua keluarga di sana.

Hari Jumat sehabis sholat dzuhur, perjalanan dilanjutkan ke Tanjung, tempat sebelah, mesti menyeberangi laut menggunakan klotok atau spead race. Dan alangkah bahagianya, ternyata pengalaman tak kalah seru sudah menanti di sana. Rumah om terletak di pesisir pantai. Jadinya, pukul 6 pagi jalan-jalan ke pantai tersebut, serasa private island gitu, hehe. Yang ke sana cuma anak kecil yang angkut air. Sudah pada bosan kali yah liat pantai, hhmmm. Katanya, pas lebaran Idul Fitri pantai itu ramai pengunjung, hanya karena momennya Idul Adha, pengunjungnya tak terlalu ramai. Itupun datangnya pas hari H saja. Habis main, saya balik ke rumah dan ternyata sudah disediakan sarapan rawon sama tente. Alhamdulillah. Plus kelapa muda beberapa menit kemudian terhidang di depan televisi. Mantap benar.

Hari Sabtu itu, kami menyeberang kembali menuju kota Balikpapan. Pasalnya, hari Ahad pagi sudah harus balik Jogja. Subuh sebelum ke bandara, ada satu kalimat nenek yang masih terekam dan selalu terngiang, semoga bukan untuk membanggakan diri. Beliau bilang “Una kok sejak ada di sini gak pernah lepas jilbab, emang jilbab harus dipakai terus? Sampai-sampai sudah gak pernah liat kepalamu lagi”. Nek, nek rambut kali, bukan kepala, hehe. Saya cuma senyum sesimpul-simpulnya sambil mengatakan “Yah, bisa dibuka sih nek, kalau mau”. Ha, sungguh jawaban polos, speechless soalnya. Semoga bisa mengambil pelajaran dari berbagai rangkuman kejadian selama di Balikpapan, bagiku dan bagi keluargaku yang di sana. Akhirnya, pukul 6 pagi, saya tiba di bandara, diantar om yang jemput hari Selasa kemarin.

Di tengah-tengah ngantri buat check-in, tiba-tiba datang seorang ibu yang mengajak ngobrol. Saya juga tidak mengerti, mengapa yang dipilih saya, dan saya yakin ini rencana indah Allah selanjutnya. Ibu itu “menitipkan” mamanya yang sudah berumur hampir 80 tahun, mau ke Jogja juga tapi sendirian. Khawatirnya gimana-gimana di pesawat selama perjalanan. Akhirnya, saya menyanggupi. Simbah itu ternyata ke samarinda nengok anaknya yang sakit, domisili beliau memang di Jogja. Sudah ada ibu-ibu lain yang dititipi simbah, hanya ibunya mau ke Magelang, sedangkan simbah ke arah Jalan Kaliurang, Alhamdulillah searah denganku. Simbah malah menawarkan pulang bareng, soalnya beliau nanti dijemput mobil sama anaknya di bandara. Sesampai di bandara, ternyata penjemputnya mbah malah sudah menunggu, saya pun Alhamdulillah diajak ikut. Pertolongan Allah sungguh dekat. Simbah malah berkata’ “Nanti kalau liburan, jalan-jalan ke rumah mbah yah, nambah-nambah sodara”. Iya mbah, iya insya Allah. Alhamdulillah dipertemukan lagi dengan keluarga yang baik. Dan berbagai rentetan kejadian yang kualami, dari semenjak menuju Balikpapan hingga tiba di Jogja kembali, adalah pelajaran berharga yang patut kusyukuri, hal yang tak mungkin kucapai dan kujalani jika Allah tak berkehendak.

Senin, 31 Agustus 2015

BAGAIMANA DENGAN MEREKA?

Alhamdulillah bisa duduk manis sambil menulis di laptop ini. Seharian, setumpuk kegiatan menemani, dari pagi hingga bakda Magrib. Meski lelah menyapa, rasa syukur tak henti terucap pada Allah. Harapan terbesar adalah semoga kesibukan hari ini berbuah manfaat, berkah dan keridhoan-Nya, Aamiin. Betapa banyak hal yang perlu disyukuri, direnungkan dan dipikirkan. Bakda Ashar tadi, kami serombongan kecil HIMMPAS ke rumah sakit, menjenguk salah seorang pengurus. Beliau tipes dan harus diopname. Syukurlah, keadaannya sudah membaik, dia sudah bisa tertawa bersama kami. Betapa terasa nikmatnya sehat ketika ujian sakit melanda. Dan tak henti syukur terucap untuk kesehatan yang masih diberikan-Nya serta untaian doa yang terus mengalir, semoga saudara kami diberi kesembuhan, dosanya digugurkan dan diberi keikhlasan.

Jadwal padat kami hari ini dimulai dengan menuntut ilmu, liqo. Dilanjutkan dengan tasqif, salah satu rangkaian tarbawi juga. Sangat terasa betapa beruntungnya kami yang hanya duduk manis mendengarkan materi, tilawah dengan tenang, tanpa diselimuti rasa waswas jika ada bunyi peluru dan dentum granat. Bagaimana dengan keadaan saudara-saudara kami di negara Islam yang lain? Yang sedang menghadapi maut, hasil kebengisan manusia dzalim. Bagaimana cara mereka tetap menjaga hapalannya ketika suara teriakan berpadu bunyi peluru nyaris memekakkan telinga? Kekuatan seperti apa yang dipunyai mereka sehingga Al-Quran yang mulia benar-benar menjadi senjata utama, tak pernah takut mati bahkan mencari sendiri syahidnya?

Menilik ke zaman terbaik, ketika Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin pasukan di siang hari menghadapi kaum kuffar dan malamnya memimpin jamaah sholat. Sebesar apa cinta mereka pada-Nya hingga tak pernah ada kata lelah dan menyerah berjuang membela agama-Nya? Seikhlas apa hati mereka saat menembus payung pedang-pedang tanpa ada imbalan duniawi yang menanti? Bahkan mungkin mati yang akan terjadi. Ternyata, imbalan yang mereka tunggu hanya satu, imbalan surga dan ridho-Nya, imbalan terbaik dari segala yang ada di dunia. Dan sayangnya, keyakinan itu hanya dimiliki oleh mereka yang beriman dan memiliki tawakal luar biasa. Ya Allah, betapa malu kami menghela napas keluh ketika mengingat pengorbanan mereka di jalan-Mu. Betapa tak pantas kata lelah kami ucap, sementara Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata bahwa tak ada kata istrirahat berjuang, sebelum kaki ini menapak di surga-Mu kelak. Berikan ridho dan surga-Mu untuk mereka ya Allah, shalawat dan salam senantiasa tercurah untuk Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikutnya hingga akhir zaman kelak. Betapa sedikit yang telah disyukuri, betapa banyak yang mesti direnungi.

TENTANG AMANAH ITU (2)

Menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah. Bahkan, salah satu hakikat taat kepada Allah untuk meraih jannah-Nya adalah menaati pemimpin dan tak heran di upacara bendera tiap Senin, selalu terselip doa untuk pemimpin kita saat sesi doa dibacakan, tetapi salah satu kaum yang tidak disapa oleh Allah di hari akhir kelak adalah para pemimpin durjana. Hal ini tercermin dalam sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abdullah bin Umar bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Setiap kalian adalah pemimpin; dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang amir adalah pemimpin. Seorang suami juga pemimpin atas keluarganya. Seorang wanita juga pemimpin atas rumah suami dan anak-anaknya. Maka, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya”.

Bayangkan, pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kebijakan-kebijakan yang dibuatnya, keadaan orang yang dipimpinnya, selama orang tersebut ada dalam naungan kepemimpinannya. Setidaknya gambaran yang ngeri-ngeri sedap itulah yang ada dalam benakku ketika malam itu diwhatsapp oleh salah seorang kader senior. Beliau awalnya menanyakan kegiatanku semester 2 apa saja, hingga perbincangan berlanjut ke pertanyaan inti dari beliau “Berdasarkan rapat dewan formatur, diputuskan bahwa Una diberi amanah untuk menjadi kabid Kemuslimahan HIMMPAS periode 2014/2015. Apakah anti bersedia?” *dikutip dengan pengubahan seperlunya. Tentu saja saya kaget dan berpikir keras mengenai keputusan yang tiba-tiba ini (menurutku saat itu). Pertama, saya belum pernah menjadi kabid di organisasi manapun, mentok-mentoknya sekbid. Kedua, berdasarkan keputusan awal, kadiv Kemuslimahan sudah terpilih. Ketiga, bidang Kemuslimahan baru periode ini launching, otomatis kinerja kami mempengaruhi pantas tidaknya bidang ini dipertahankan. And the last but not least, ngeri membayangkan jika kabid Kemuslimahan, pemimpin muslimah se-pascasarjana penampakannya kayak saya, dari segi ilmu yang minim dan penampilan (baca: busana syar’i) yang masih on process. Masih banyak muslimah lain yang lebih layak menurut saya. Tetapi, saya tidak punya alasan syar’i untuk menolak, apalagi setelah beliau menceritakan alasan digantinya kabid.

Menghadapi kegalauan itu, saya menghubungi seorang mentor yang akhirnya bersedia meluangkan waktunya untuk makan siang bersama, sambil membahas hal ini. Setelah menceritakan uneg-uneg dan membahas sana-sini, beliau hanya tersenyum dan menanggapi dengan tenang. Satu kalimat yang masih terngiang hingga sekarang dan menguatkan dikala futur menerpa yaitu “Jangan pernah meminta amanah, tetapi jika telah diberi, tak etis menolaknya, karena yang memilih kita bukan manusia, melainkan Allah.” Masih saya bantah dengan “Tapi mb, saya merasa belum pantas, masih banyak yang jauh lebih layak dibanding saya”. Kata beliau lagi “Allah tidak pernah salah memilih, maka jika mb Una merasa belum pantas, Allah yang akan memantaskannya, tentu saja dengan bantuan usaha mb Una sendiri. Memang amanah itu berat, tapi lebih berat lagi jika tak punya amanah”. Gimana hatiku tak luluh coba, kalimatnya begitu sejuk. Akhirnya, beliau memberikan beberapa wejangan mengenai hal-hal yang harus kulakukan dan yang akan kuhadapi saat memegang amanah ini. Modal besarnya, manajemen waktu dan emosi.

Kami yang tergabung di Kemuslimahan harus menyusun dari awal program kerja (proker) yang akan kami lakukan, meskipun sudah ada sedikit “contekan” sewaktu bidang ini masih menjadi sub-bidang di PPSDM. Banyak cerita lucu nan mengharukan di sana. Teman-teman bidang sangat bersemangat mengatur proker, hingga tak terasa proker kami sudah mewakili satu organisani. Akhirnya setelah direduksi dan direvisi berulang kali dengan bantuan teman-teman pengurus di raker HIMMPAS dan di rapat pengurus harian (PH), proker kami akhirnya fix. Dalam proses pelaksanaannya pun, banyak hal yang berubah meski secara content tetap dapat.

Hingga hari ini, tak terasa kepemimpinan yang awalnya begitu berat hampir mendekati titik akhirnya. Meski belum banyak hal yang bisa kuberikan untuk organisasi dan agamaku, paling tidak bertemu dengan orang-orang tangguh, hebat dan memiliki visi-misi dunia akhirat yang terstruktur, menularkan semangat dan ilmu yang luar biasa untukku. Berakhirnya kepengurusan ini pun hanya formalitas, agar tercipta kader-kader baru yang akan semakin menguatkan barisan, mempererat ukhuwah berasas aqidah dan membersamai dalam kebaikan. Dakwah sebenarnya justru baru bermula, ketika terjun langsung di tengah-tengah masyarakat, sambil terus belajar untuk mengajar, membaca untuk menulis, mendengar untuk menyampaikan. Semoga Allah memberikan keistiqomahan di jalan dakwah seterjal apapun jalannya dan di bumi manapun kita ditakdirkan bertempat. KARENA ALLAH TAK PERNAH SALAH MEMILIH

Jumat, 14 Agustus 2015

HIJRAH

Ketika membaca siroh Nabawiyah, maka akan kita temukan betapa susahnya yang dinamakan hijrah. Hijrah dari tanah kelahiran kita, tanah saksi tumbuh kembang kita, tanah handai taulan kita. Tapi toh, dengan iman yang tak diragukan lagi, para sahabat berani melakukannya, pindah ke tempat yang sebelumnya tidak ada bayangan seperti apa kelak keadaannya di sana. Apakah mampu bertahan hidup di tengah kultur yang tentunya berbeda, meninggalkan harta benda, penghasilan, saudara yang masih tetap keukeh dengan keyakinan lamanya. Melewati gurun yang luar biasa panasnya, dengan kendaraan berupa unta seadanya, perbekalan secukupnya dan perjalanan yang sangat jauh tentunya. Ya Allah betapa berat perjuangan mereka, perjuangan menegakkan syariatmu, maka pantaslah kiranya jika surga yang tak pernah terbersit di pikiran akan keindahannya, Engkau hadiahkan kepada mereka.

Hidup adalah perpindahan. Dan yang namanya pindah tidak pernah mudah. Apalagi jika kita terbiasa di zona nyaman. Hidup yang sudah terbiasa seperti itu, harus dengan serta-merta diubah dengan tujuan tertentu. Masa transisi inilah yang menyeleksi orang-orang yang tetap bertahan atau menyerah. Maka beruntunglah jika perjuangan, kelelahan dan pengorbanan kita menuju suatu tujuan yang mulia, mulia di mata-Nya. Lalu, hijrah seperti apa yang sedang atau akan kita hadapi di zaman sekarang? Salah satunya jilbab atau kerudung atau penutup kepala, tergantung yang populer di sekitar kita apa.
Menutup aurat adalah kewajiban setiap muslimah. Dalam Al-Quran pun sudah diatur bagaimana pakaian yang dimaksud, siapa-siapa saja yang bisa melihat aurat kita. Dan hukumnya jelas, WAJIB. Tapi, mengapa masih banyak yang belum menyadari itu? Ada yang menjadikan jilbab yang seyogyanya penutup perhiasan, justru menjadi perhiasan. Mungkin mereka belum paham, atau tahu tapi belum mau dengan berbagai pertimbangan. Adapula orang yang sudah berniat menutup aurat secara sempurna, tapi ditentang di mana-mana, bahkan dari keluarga yang seharusnya mendukung, dari saudara sesama muslimah yang seharusnya membantu.

Jika sudah seperti ini, apa yang mesti kita lakukan? Orang yang paling dekat dengan kita pun menentang niat hijrah ini, padahal kita tahu dan paham jika hal ini wajib. Orang yang selalu demokratis, selalu mendukung kita, kini berbalik jika menyangkut jilbab. Sedih? Pasti. Tapi, dengan keyakinan bahwa jika kita melakukan semuanya karena Allah, menolong agama-Nya, meyakini ke-Maha Besar-an-Nya, maka tidak ada yang tidak mungkin. Sahabat saja yang tantangannya jauh lebih berat dari kita, sanggup menahan pedihnya siksaan fisik dan non-fisik, masih tetap teguh di atas keyakinan itu. Tak goyah sedikit pun, bahkan iman dalam dada mereka semakin bergemuruh.

Memang tak mudah, tak pernah mudah untuk hijrah. Tapi, ada Allah. Sebesar apapun masalah kita, Allah lebih besar. Kita hanya butuh sabar yang lebih, kuat yang lebih dan akhlak yang lebih, sambil terus memohon agar hati-hati yang masih menolak, dibolak-balikkan oleh Allah, disirami cahaya hidayah. Akhlak yang indah, akan jauh lebih meyakinkan dibandingkan penjelasan-penjelasan. Mereka masih awam, mereka mungkin belum memahami, maka disinilah ladang dakwah itu. Inilah kesempatan kita menunjukkan bahwa betapa indah-Nya ukhuwah berbalut aqidah.

Dan salah satu alasanku melakukan ini adalah untuk kalian, mama bapak.

MENGUNDURKAN DIRI

Bismillahirrahmanirrahim Hari ini, saya akan menyambung cerita tentang pengunduran diriku dari Ar-Rahmah. Jadi, awal Agustus itu sudah ada b...